Selasa, 03 Juni 2014

Universitas Negeri Jakarta, poros strategis peradaban dan pabrik guru terbaik Ibukota !!

Posted by Ahmad Khairudin on 03.59 with No comments



Oleh : *Ahmad Khairudin

Guru adalah profesi yang terbuka, ini yang dikatakan UU Guru dan Dosen (UU GD). Guru dikatakan sebagai profesi, secara eksplisit-yuridis baru pada 2005, ketika UU GD disahkan. Karena profesi terbuka, maka apapun latar belakang pendidikan seseorang dia bisa menjadi guru. Memang sangat terbalik dengan profesi lainnya. Sebutlah advokat yang bisa menjadi advokat adalah seseorang yang latar pendidikannya adalah sarjana hukum (SH). Pendidikan formal tersebut mesti dilanjutkan dengan pendidikan profesi advokat. Begitu juga profesi dokter, yang bisa menjadi dokter tentu latar belakang pendidikannya adalah jurusan kedokteran. Konsekuensinya yaitu tidak bisa latar belakang pendidikan lain jika ingin menjadi dokter atau advokat, selain sarjana kedokteran dan sarjana hukum.

Berbeda cerita dengan profesi guru yang akhir-akhir menjadi profesi yang dikerumuni banyak orang. Maksudnya adalah guru merupakan profesi yang terbuka bagi lulusan perguruan tinggi apapun, umum atau pendidikan (Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan-LPTK). Kampus-kampus seperti UNY, UNJ, UPI Bandung, UNS, Unimed, UNP dan eks IKIP lainnya, untuk saat ini tidak lagi memonopoli para calon guru. Keadaan ini diperkuat oleh lahirnya kebijakan pemerintah yang dikenal dengan Program Pendidikan Guru Prajabatan (PPG). Lulusan eks IKIP/LPTK yang nota bene bertitel sarjana pendidikan (S.Pd), tak lagi memonopoli menjadi pendidik atau guru. Sebab guru adalah profesi yang terbuka. Siapapun dan latar belakang apapun pendidikannya boleh dan bisa menjadi guru. Seperti yang bertitel SH, S.Ked. S.Sos, S.IP, SS, ST, SE dan lainnya.[1]

UNJ sebagai Pabrik guru terbesar di Ibukota

Universitas Negeri Jakarta adalah perguruan tinggi negeri yang terdapat di kota Jakarta, Indonesia yang didirikan pada tahun 1964, tepatnya 16 mei 1964. Dalam sejarah perkembangannya, setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia merasakan kurangnya tenaga kependidikan di semua jenjang dan jenis lembaga pendidikan. Untuk meng­atasi masalah ini pemerintah mendirikan berbagai kursus pendidikan guru. Sekitar tahun 1950-an, pada jenjang di atas pendidikan menengah didirikan IKIP.  Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah revolusi dari IKIP sehingga pada saat ini menyelenggarakan 2 (dua) bidang pendidikan, yaitu Bidang Kependidikan dan Bidang Non-Kependidikan.

1.      Bidang Kependidikan
Bidang Kependidikan diselenggarakan di semua program studi yang ada di UNJ sebagai kelanjutan pembinaan dari bidang sebelumnya (IKIP Jakarta). Program Bidang Kependidikan ini dikembangkan secaraoptimal.
2.      Bidang Non-Kependidikan
Setelah IKIP Jakarta diperluas mandatnya menjadi Universitas, UNJ menyelenggarakan Program Bidang Non-Kependidikan dengan jenis program D-III dan jenjang program S1. Program Non-Kependidikan yang sudah ada akan terus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya, sedangkan program studi lainnya akan dibuka secara bertahap.[2]

Tiap tahunnya UNJ pun melulusakan banyak sarjana terdidik yang penulis kutip dari salah satu media nasional. “ Uniersitas Negeri Jakarta (UNJ) mewisuda 1.615 lulusan tahun 2013/2014 dalam sidang terbuka Senat Guru Besar UNJ yang dipimpin Rektor UNJ Prof Dr Bedjo Sujanto, MPd,. Para lulusan itu terdiri dari program Diploma 71 orang, Sarjana 1.229 orang, Magister 204 orang, dan Doktor 111 orang. Sampai dengan semester ini, jumlah alumni UNJ sebanyak 90.792 orang. Sebanyak 28 wisudawan dan wisudawati terbaik yang terbagi menjadi 2 lulusan Diploma, 7 lulusan Sarjana, 10 lulusan Magister, dan 9 lulusan Doktor.[3]
 
Dan hampir 70 % lulusan UNJ menjadi guru, bahkan penyumbang tenaga kependidikan/guru di sekolah sekolah di Jabodetabek khususnya di UNJ adalah sarjana pendidikan lulusan UNJ, maka tidak salah ketika UNJ di sebut-sebut sebagai pabrik guru terbaik ibukota. 

Maaf, Menjadi guru bukanlah pilihan terakhir

Maaf, Menjadi guru bukanlah pilihan terakhir. Harusnya seseorang yang sudah disaiapkan menjadi guru bisa memposisikan dirinya menjadi guru profesional sesuai kapasitas bidang keilmuannya. Menjadi seorang guru juga terkadang menjadi pilihan terakhir ketika mendapatkan pekerjaan sulit lalu akhirnya menjadi pilihan pekerjaan alternatif. Ada sebagian orang yang pernah melamar kesana kemari, tidak diterima, akhirnya ia mencoba menjatuhkan pilihannya menjadi seorang guru akhirnya ia diterima. Ada yang akhirnya dengan sungguh-sungguh menjatuhkan pilihannya menjadi seorang guru, tetapi tak sedikit pula hanyalah menjadikannya sebagai batu loncatan saja untuk meraih karier yang diinginkannya ke depan.

Namun, jika kondisi poros perputaran lulusan lembaga LPTK/ IKIP terus seperti ini , mau dibawa kemanakah nasib pendidikan di Indonesia ke depan, jika calon guru yang disiapkan di LPTK/IKIP khususnya UNJ yang menjadi poros strategis peradaban dan pabrik guru terbaik di jakarta malah ingin pindah haluan bekerja di perusahaan atau lembaga yang tidak berkaitan dengan dunia pendidikan.

*Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektronika FT UNJ | 763F4422 | @A_khairudin | ahmad.khairudin5@gmail.com | ahmadkhairudin5.blogspot.com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar