Media, Islam dan Sekularisme

Posted by Ahmad Khairudin on 18.18 with No comments
"(Jangankan orang NU) Saya yang bukan orang NU saja tersinggung terhadap Ulil yang (pernah) mencalonkan diri sebagai ketua PBNU..."

Begitu ungkap Akmal Sjafril dalam pembukaan materi KANTIN (Kajian Rutin) LDK.  Kajian rutin LDK yang diadakan bersamaan dengan Roadshow Islamic Jurnalistic Training ke-6 kali ini mengambil tema “Islam, Media, dan Sekularisme”.  Tema yang asing untuk dijadikan bahasan kajian tersebut dapat disampaikan secara menarik oleh beliau (Akmal Sjafril M.Pd.I.).  Berikut ulasan kajian dari beliau.

Kaitan dari tema tersebut tidak jauh-jauh dari pembahasan tentang JIL.  Kelompok yang dikenal masyarakat sebagai kalangan Cendekiawan Muslim tersebut toh ternyata tidak intelek sama sekali.  Buktinya dapat dilihat di akun-akun Twitter mereka.  Buruknya aktivis-aktivis JIL dalam memahami sejarah Islam, penelaahan dalil, dan analogi berpikir dapat terlihat dengan jelas, bahkan sering diungkapkan secara terang-terangan oleh para ulama termasuk MUI.  Namun permasalahannya kenapa kebanyakan Media tetap memberikan label ‘Cendekiawan Muslim’ kepada mereka?  Seakan-akan terlihat jelas bahwa kebanyakan Media memiliki peran penting dalam menyukseskan misi JIL.

Kesimpulan tersebut semakin jelas terasa ketika kasus pencemaran nama baik ROHIS oleh salah satu Media besar di nusantara ini.  Selain itu juga ada pemberitaan Teroris yang membabi-buta, pen-diskredit-an sikap umat Islam terkait pendirian gereja maupun terhadap aliran-aliran sesat, seperti Syiah, Ahmadiyah, dan lainnya.  Terlihat jelas ketidakberpihakan Media-Media ‘mainstream’ kepada keilmiahan berita, karena tiap berita disimpulkan dari data-data yang serampangan maupun narasumber yang buruk.

Tidak berhenti di situ, bahkan Media-media mainstream internasional juga membuat kebohongan besar.  Bang Akmal mengungkapkan kebohongan konspirasi 9/11 yang dua negara muslim, Iraq dan Afghanistan menjadi korbannya.  Dijelaskan tentang tragedi tersebut yang juga dibahas oleh forum profesor-dosen ITB, bahwa tidak mungkin pesawat yang menabrak gedung WTC yang kokoh dapat meruntuhkannya secara rapi ke bawah.  Bahkan ada rekaman ledakan di bawah bagian gedung yang ditabrak pesawat, seperti ledakan bom yang sengaja dipasang untuk menyukseskan isu konspirasi tersebut.  Demikian ketidakberpihakan kebanyakan Media terhadap kevalidan berita.

Di bagian akhir kajian, bang Akmal juga turut menyampaikan evaluasi terhadap Media Islam yang masih jauh dari nilai profesionalitas dan jurnalistik.  Beliau pun menganjurkan kepada setiap aktivis dakwah untuk menulis dan membuat blog guna menghilangkan gap ketertinggalan Media Islam dari Media-Media sekular.  Kondisi ketertinggalan tersebut setidaknya dapat cukup teratasi dengan berisiknya umat Islam dalam meng-counter isu-isu yang menyerang Islam.  “Mereka sedikit tapi berisik, sedangkan kita banyak tapi diam”, ujar bang Akmal sedikit membandingkan antara JIL yang terfasilitasi oleh Media-Media mainstream dengan umat Islam.

“Mungkin Indonesia Tanpa JIL bisa bekerjasama dengan Islamic Jurnalistic Training, dalam rangka membesarkan agenda IJT ini, hhehe..”, canda Udin menutup kajian, sambil berharap kajian yang menggugah tersebut dapat menguatkan semangat jurnalisme di tubuh umat Islam.
Masjid Nurul Irfan UNJ, tempat kajian rutin LDK UNJ

oleh Ariel Tufliado*
*Penulis adaah Mudir QI LDK UNJ 1433 H
Reaksi:
Categories: