Tetap saja, Menikah menjadi sebuah diskusi Lelaki dewasa.

Posted by Ahmad Khairudin on 19.31 with 2 comments

Langit senja Menyapa, kulihat jam di tangan tepat menunjukan 17.47. WIB, kulihat langit-langit abu-abu kelam, menandakan sinyal hujan akan menyapa ibukota.
Beberapa menit berlalu. “Adzan Berkumandang”.

Langkahku tergerak, menuju satu-satunya masjid kebanggan Kampusku. Yang letaknya persis tepat di gedung megah orang nomer satu di kampus Negeri Jakarta, jarak kurang dari 100 M  didepan gedung itu.
Sampai di depan masjid, seperti biasa aku duduk di depan masjid untuk melepaskan sepatu. Sambil membuka sepatu sempat melamun, “aku tak pernah lihat pak rektor shalat disini ??” dalam shalat apapun ?? baik Dzuhur, Ashar ataupun Isya. Jangankan rektor, pembantu-pembatunya pun aku tak pernah melihatnya dalam jamaah ini.

Mungkin mereka sibuk, luar biasa ya.. jadi teringat ketika mendengarkan ceramah salah satu ustad tentang kesibukan, beliau membahas. Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu shalatnya, seolah-olah dia mempunyai kerajaan seperti kerajaannya Nabi sulaiman AS. Aku tak bisa membayangkan saat itu, bahkan nabi sulaiman saja tak pernah lalai dalam kesibukannya ketika menginggat Allah. Ahhh.. Sudahlah,kebiasaan, suka berfikir yang tidak-tidak. Umpatku dalam hati.

Aku pun bergegas berwudhu dan shalat. Setelah shalat akupun keluar dari masjid, untuk berniat pulang. Senjapun berganti dan malam menyapa, rembulan tak nampak karena tertutup kabut awan hitam.
Belum setengah perjalanan pulang kerumah, tiba-tiba rahmat Allah turun. Alhamdulillah, bisiku dalam hati.
Lama tak disapa langsung oleh air langit ini, Lama tak merasakan baunya yang khas, aahhh...Hujan , asik main Hujan-hujanan, pikiranku mulai  berfikir tak dewasa. Tapi saya ingat, saya bawa dokument penting dalam tas, jadi tak mungkin rasanya menembus hujan.
Aku pun berhenti di jalan yang di atasnya terdapat jalan by pass, karena berapa di bawah jalan tol Cawang – tanjung Priok, jadi di bawah tempat ini adalah tempat yang tepat untuk menghindar dari hujan malam ini.

Aku memarkirkan motor di pinggir jalan, banyak juga orang yang melakukan hal yang sama, ramai sekali.
Entah kenapa saya suka sekali dengan hujan, aku ingat saat itu tanpa sadar melamunkan masa kecil, tapi sekarang sudah menjadi lelaki yang tumbuh dewasa. Singkat sekali hidup ini. Hebat, hujan selalu bisa menghipnotis setiap orang yang melihatnya, terutama tentang kenangan masa lalu, hujan bisa membuat kita tanpa sadar mampu membuka ruang memori dalam otak kanan yang membuat rasa rindu pada hal yang diingatnya bisa kembali terulang.

Tokk...Tokk..Tokkk.... Suara itu memecahkan lamunan, kulihat seorang lelaki paruh baya dengan sepeda berjalan mendekat,

Keisenganku muncul ?

Pak Jualan apa ? Tanyaku

Baso Mas, mau beli?? boleh pak, buatin satu mangkok ya pak! Berapa satu porsinya pak?
5000,- mas.
Saya tunggu di atas motor ya pak,

Seorang lelaki yang ku fikir umurnya sekirtar 40 tahun tepat disampingku, menghampiriku,  “Mas, Beli Basonya ?”
Iya , jawabku
Berapa Harganya ?
5000, pak. Ikutan beli aja pak, lumayan lagi dingin gini ?
Mau rokok ?? ini bisa buat menghangatkan juga, dia menawarkan.
Maaf pak, saya ga ngerokok ! lagipula angetan baso, jawabku dengan nada cengegesan.
kami berbincang malam ini ditemani dengan nada-nada Instrumen yang khas gemercik air yang turun dari langit.

Enak mas basonya ?tanya lelaki itu ?
Perlahan aku menoleh, “iya pak lumayan lah buat ngisi perut belum makan dari pagi ? jawabku dengan gaya cengegesan. Kenapa pak ?.
Kan ga sehat mas? Lagipula saya kalau mau makan atau jajanan lain saya ingat keluarga di rumah, apa mereka sudah makan atau belum atau lebih baik masak-masakan istri dirumah, kan nanti uangnya bisa untuk jajan anak. Jawab lelaki paruh baya tersebut.

Wah, subhanallah pak, pasti ayah yang baik ya, tapi kalau saya akan berfikir lebih memilih untuk tidak merokok di banding harus makan jajan murah di jalan, ini Cuma 5000 rokok 13.000 pak , kan lebih banyak kalau buat di tabung.
Perbincangan kami terdiam, kulihat lelaki itu asik menghisap rokoknya.
Aku berfikir, ahh.. bapak ini kenapa lagsung diam. Beginilah aku, jika ada yang mengkritik selalu punya pemikiran lain yang bisa di adu untuk menjadi penguatan argumentasi hal yang saya lakukan. :)

Aku kembali membuka wacana, pak punya anak berapa ? 2 mas, masih sekolah semua ? jawabnya . mas sudah nikah ?
Belum pak, saya masih kuliah. Jawabku
Berarti masih pacaran ya, ? tanyanya lagi .
Wah pak, saya juga ga punya pacar pak.
Biasanya anak kan sukanya pacaran ? tuh lihat di depan kamu, mereka sepertinya pacaran.

Yah pak, saya mah masih cupu pak, ga pantes kalau mau pacaran.
Maksudnya ? tanyanya dengan sedikit muka bingung.

Yah, cupu. Walaupun saya sudah bisa berpenghasilan sendiri walaupun tak seberapa? Tapi saya sadar, kalau untuk masalah pasangan saya masih cupu deh pokoknya, hafalan Qur;an saya masih belum banyak, shalat malam saya masih jarang-jarang, sedekah saya masih belum rutin.  Kan nantinya saya bakalan jadi Imam buat keluarga saya, untuk jadi ayah yang baik untuk anak-anak saya. Masa belum siap sudah mau pacaran aja.
Saya aja nyesel dulu pernah pacaran, tapi Alhamdulillah setelah paham Islam dan belajar berislam saya jadi lebih hati-hati sama hati pak.

Urusan menikah sih saya serahin sama Allah pak, saya percaya nanti Allah pasti kasih jalan yang luar biasa buat saya menemukan dan bertemu jodoh saya pak. 

dimana pun, dan dengan siapapun "Tetap saja, Menikah menjadi sebuah diskusi Lelaki dewasa"
jika saya siap saya pasti akan angsung menikah pak, jika memang belum siap saya tidak akan berbica banyak pak tentang menikah, ini soal menyempurnakan separuh agama saya buka tentang suka, cinta, pacaran kemudian Nikah. ini buat saya masih Impian yang belum boleh saya mimpikan. Jika siap Pasti Allah akan mencukupkan dan menyiapkan semuanya.  jadi kalau baru mau dan belum siap lebih baik saya diam pak.

Karena “Menikah itu adalah keputusan pak, memilih atau menerima, tangan siapa yang  nantinya dapat aku genggam, bahu siapa yg dapat aku jadikan sandaran. Tentunya, seseorang yang bisa membawa aku berjalan bersamanya menuju jalan yang berkah, jalan yang diridhoi Allah SWT. Doakan saja pak semoga Saya segera mendapatkan pelengkap diri saya untuk menyempurnakan separuh Agama saya.” Jawabku sambil Cengegesan dan menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Kulihat kelangit hujanpun sudah mulai mereda, Alhamdulillah, saya duluan pak. buru-buru mau pulang kerumah karena sudah basah baju saya karena kehujanan tadi. Kenapa sering sekali pertanyaan tentang menikah??
Aku pun bergegas pergi, mengakhir diskusi dengan mengucapkan salam kepada lelaki tua itu.

***

Jakarta, Oktober 2012
Reaksi:
Categories: