Rabu, 17 Oktober 2012

RoadShow IJT - Urgensi Media Islam Kampus

Bismillah, Rabu 17/10/2012 @Gedung Daksinapati FIP UNJ

           Alhamdulillah, Lembaga Dakwah Fakultas Fakultas Ilmu Pendidikan bekerja sama dengan Lso Pers Dakwah Kampus Nuraniku UNJ, memberikan izin kepada saya untuk menyampaikan sepatah kata dan sekelumit pembahasan tentang Urgensi Media Islam Kampus.

           Dibuka dengan pembacaan ayat Cintanya Allah, surat Al Qalam oleh teman-teman Tarbawi FIP. Saya ingat surat ini yang membawa pribadi ini menjadi seorang pejuang pena Allah di Universitas Negeri jakarta, yang dikenal sebagai Kampus Tarbiyah (red : Pendidikan), pertama saya menyampaikan ayat ini, sebuah ayat Al Qur'an yang menjadi Landasan Dasar seorang Jurnalis Muslim,

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka cek dan riceklah berita itu, agar kamu tidak menimpakan suatu malapetaka kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu menyesal atas perbuatan itu." (Al-Hujuraat: 6)


          Dalam kesempatan ini juga saya mengambil sample data menarik, saya menyampaikan ke teman - teman tarbawi yang hadir ." Tahukah kamu, Indonesia adalah pengguna facebook terbesar ke-2 di dunia. Jumlahnya 39 juta pengguna. Satu level di bawah AS dengan 146 juta pengguna. Tahukah kamu, Indonesia adalah pengguna twitter terbesar ke-5 di dunia dengan persentase 19% porsi dunia."
Bukan sebuah angka yang kecil, dan saya pun memberikan pesan, Jadi perhatikan apa yang kamu tuliskan dan kamu ungkapkan. Mengeluh, marah-marah, dan mengeluarkan kata-kata kasar bisa berdampak sangat buruk bagi orang2 yang membacanya. Manfaatkanlah media sosial untuk menebarkan kebaikan dan memberi manfaat kepada sesama.



Tentang Urgensi Media yang berkembang saat ini.

          Semua tau bahwa media itu penting, mau televisi, cetak, ataupun elektronik, dan kebanyakan media yang ada menyudutkan islam dan membuat isu opini umat bahwa islam kaitannya dekat dengan Terorisme, kejahatan dan pemberontakan, Parahnya, pihak yang menguasai media-media massa tersebut adalah kaum Islamophobia, terutama kelompok Sepilis (sekuleris, pluralis, dan liberalis) yang minoritas jumlahnya dan padahal mereka juga ada yang beragama Islam. 

          Bagaimana kekuatan media, ini menjadi senjata mematikan yang bila digunakan bukan mencelakakan secara fisik, lebih dari itu yaitu celaka pemikiran dan mental. Upaya penguasaan atas media massa cetak dan elektronik memang terasa mustahil bagi umat Islam, termasuk kaum Muslimin di Indonesia saat ini. Ungkapan ini sangat wajar mengingat sekarang ini secara umum umat Islam masih dibelit dengan masalah modal. Harus diakui, media massa, terutama televisi adalah bidang yang padat modal.

       

So, Apa Alternatif Dari Masalah yang ada.

          Pentigkah Islam punya medianya sendiri ?? silahkan tanyakan hati nurani anda. Namun dengan meminjam pendapat KH. Abdullah Gymnastiar, kita mulai dengan media massa yang kecil, mulai dari kita yang merintisnya, dan mulai sekarang juga, insya Allah kita akan mewujudkan impian tersebut.

          Bagi masyarakat Muslim secara umum, dukungan terhadap upaya penguasaan media massa oleh Islam dapat dimulai dengan lebih banyak mengakses media massa Islam dan meminimalisir atau bila perlu memboikot dalam mengakses media massa yang dikelola kaum Islamophobia.

          Langkah ini merupakan bentuk pengamalan ajaran Al Qur’an tentang selektivitas dalam mengakses berita, sesuai dengan ayat yang saya bacakan di awal tadi “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujuraat : 6). Wallahua’lam.




Terima Kasih untuk teman2 Tarbawi FIP UNJ & Nuraniku UNJ

@tarbawi_fipunj


Kita sama-sama tau, ada sebuah pepatah terkenal mengatakan , siapa yang menguasi Media dia akan menguasi Dunia, setiap media pasti punya pesan dan Visi misi yang di sampaikan, untuk Itu adanya saya disini Pun Punya maksud dan Tujuan, yaitu mengajak kalian semua untuk peduli akan media islam yang ada.
Ikut IJT yaa :)



Undangan Spesial Untuk Ikut Meriahkan Agenda Yang baik ini,
saya akan merasa berdosa kalau acara bagus seperti ini tidak dipublikasikan secara Luas.
Yang peduli dengan Media Islam, Yang Suks Jurnalistik Islam.
Kesempatan Menghadiri acara bagus ini.

Bismillah, kita mulai dengan media massa yang kecil, mulai dari kita yang merintisnya, dan mulai sekarang juga, insya Allah kita akan mewujudkan Media Islam yang Mandiri.









Silahkan Bagi yang Ingin Mendaftar :)


Pendaftaran melalui sms, ketik :
IJT6_Nama Lengkap_Fakultas/Univ/Instansi_No. Hp
kirim ke :
089630220221(ikhwan) dan 089654273357(akhwat)

Raih ilmunya dan dapatkan fasilitas berupa:
Sertifikat, snack, dan makan siang

Kamis, 04 Oktober 2012

Tetap saja, Menikah menjadi sebuah diskusi Lelaki dewasa.


Langit senja Menyapa, kulihat jam di tangan tepat menunjukan 17.47. WIB, kulihat langit-langit abu-abu kelam, menandakan sinyal hujan akan menyapa ibukota.
Beberapa menit berlalu. “Adzan Berkumandang”.

Langkahku tergerak, menuju satu-satunya masjid kebanggan Kampusku. Yang letaknya persis tepat di gedung megah orang nomer satu di kampus Negeri Jakarta, jarak kurang dari 100 M  didepan gedung itu.
Sampai di depan masjid, seperti biasa aku duduk di depan masjid untuk melepaskan sepatu. Sambil membuka sepatu sempat melamun, “aku tak pernah lihat pak rektor shalat disini ??” dalam shalat apapun ?? baik Dzuhur, Ashar ataupun Isya. Jangankan rektor, pembantu-pembatunya pun aku tak pernah melihatnya dalam jamaah ini.

Mungkin mereka sibuk, luar biasa ya.. jadi teringat ketika mendengarkan ceramah salah satu ustad tentang kesibukan, beliau membahas. Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu shalatnya, seolah-olah dia mempunyai kerajaan seperti kerajaannya Nabi sulaiman AS. Aku tak bisa membayangkan saat itu, bahkan nabi sulaiman saja tak pernah lalai dalam kesibukannya ketika menginggat Allah. Ahhh.. Sudahlah,kebiasaan, suka berfikir yang tidak-tidak. Umpatku dalam hati.

Aku pun bergegas berwudhu dan shalat. Setelah shalat akupun keluar dari masjid, untuk berniat pulang. Senjapun berganti dan malam menyapa, rembulan tak nampak karena tertutup kabut awan hitam.
Belum setengah perjalanan pulang kerumah, tiba-tiba rahmat Allah turun. Alhamdulillah, bisiku dalam hati.
Lama tak disapa langsung oleh air langit ini, Lama tak merasakan baunya yang khas, aahhh...Hujan , asik main Hujan-hujanan, pikiranku mulai  berfikir tak dewasa. Tapi saya ingat, saya bawa dokument penting dalam tas, jadi tak mungkin rasanya menembus hujan.
Aku pun berhenti di jalan yang di atasnya terdapat jalan by pass, karena berapa di bawah jalan tol Cawang – tanjung Priok, jadi di bawah tempat ini adalah tempat yang tepat untuk menghindar dari hujan malam ini.

Aku memarkirkan motor di pinggir jalan, banyak juga orang yang melakukan hal yang sama, ramai sekali.
Entah kenapa saya suka sekali dengan hujan, aku ingat saat itu tanpa sadar melamunkan masa kecil, tapi sekarang sudah menjadi lelaki yang tumbuh dewasa. Singkat sekali hidup ini. Hebat, hujan selalu bisa menghipnotis setiap orang yang melihatnya, terutama tentang kenangan masa lalu, hujan bisa membuat kita tanpa sadar mampu membuka ruang memori dalam otak kanan yang membuat rasa rindu pada hal yang diingatnya bisa kembali terulang.

Tokk...Tokk..Tokkk.... Suara itu memecahkan lamunan, kulihat seorang lelaki paruh baya dengan sepeda berjalan mendekat,

Keisenganku muncul ?

Pak Jualan apa ? Tanyaku

Baso Mas, mau beli?? boleh pak, buatin satu mangkok ya pak! Berapa satu porsinya pak?
5000,- mas.
Saya tunggu di atas motor ya pak,

Seorang lelaki yang ku fikir umurnya sekirtar 40 tahun tepat disampingku, menghampiriku,  “Mas, Beli Basonya ?”
Iya , jawabku
Berapa Harganya ?
5000, pak. Ikutan beli aja pak, lumayan lagi dingin gini ?
Mau rokok ?? ini bisa buat menghangatkan juga, dia menawarkan.
Maaf pak, saya ga ngerokok ! lagipula angetan baso, jawabku dengan nada cengegesan.
kami berbincang malam ini ditemani dengan nada-nada Instrumen yang khas gemercik air yang turun dari langit.

Enak mas basonya ?tanya lelaki itu ?
Perlahan aku menoleh, “iya pak lumayan lah buat ngisi perut belum makan dari pagi ? jawabku dengan gaya cengegesan. Kenapa pak ?.
Kan ga sehat mas? Lagipula saya kalau mau makan atau jajanan lain saya ingat keluarga di rumah, apa mereka sudah makan atau belum atau lebih baik masak-masakan istri dirumah, kan nanti uangnya bisa untuk jajan anak. Jawab lelaki paruh baya tersebut.

Wah, subhanallah pak, pasti ayah yang baik ya, tapi kalau saya akan berfikir lebih memilih untuk tidak merokok di banding harus makan jajan murah di jalan, ini Cuma 5000 rokok 13.000 pak , kan lebih banyak kalau buat di tabung.
Perbincangan kami terdiam, kulihat lelaki itu asik menghisap rokoknya.
Aku berfikir, ahh.. bapak ini kenapa lagsung diam. Beginilah aku, jika ada yang mengkritik selalu punya pemikiran lain yang bisa di adu untuk menjadi penguatan argumentasi hal yang saya lakukan. :)

Aku kembali membuka wacana, pak punya anak berapa ? 2 mas, masih sekolah semua ? jawabnya . mas sudah nikah ?
Belum pak, saya masih kuliah. Jawabku
Berarti masih pacaran ya, ? tanyanya lagi .
Wah pak, saya juga ga punya pacar pak.
Biasanya anak kan sukanya pacaran ? tuh lihat di depan kamu, mereka sepertinya pacaran.

Yah pak, saya mah masih cupu pak, ga pantes kalau mau pacaran.
Maksudnya ? tanyanya dengan sedikit muka bingung.

Yah, cupu. Walaupun saya sudah bisa berpenghasilan sendiri walaupun tak seberapa? Tapi saya sadar, kalau untuk masalah pasangan saya masih cupu deh pokoknya, hafalan Qur;an saya masih belum banyak, shalat malam saya masih jarang-jarang, sedekah saya masih belum rutin.  Kan nantinya saya bakalan jadi Imam buat keluarga saya, untuk jadi ayah yang baik untuk anak-anak saya. Masa belum siap sudah mau pacaran aja.
Saya aja nyesel dulu pernah pacaran, tapi Alhamdulillah setelah paham Islam dan belajar berislam saya jadi lebih hati-hati sama hati pak.

Urusan menikah sih saya serahin sama Allah pak, saya percaya nanti Allah pasti kasih jalan yang luar biasa buat saya menemukan dan bertemu jodoh saya pak. 

dimana pun, dan dengan siapapun "Tetap saja, Menikah menjadi sebuah diskusi Lelaki dewasa"
jika saya siap saya pasti akan angsung menikah pak, jika memang belum siap saya tidak akan berbica banyak pak tentang menikah, ini soal menyempurnakan separuh agama saya buka tentang suka, cinta, pacaran kemudian Nikah. ini buat saya masih Impian yang belum boleh saya mimpikan. Jika siap Pasti Allah akan mencukupkan dan menyiapkan semuanya.  jadi kalau baru mau dan belum siap lebih baik saya diam pak.

Karena “Menikah itu adalah keputusan pak, memilih atau menerima, tangan siapa yang  nantinya dapat aku genggam, bahu siapa yg dapat aku jadikan sandaran. Tentunya, seseorang yang bisa membawa aku berjalan bersamanya menuju jalan yang berkah, jalan yang diridhoi Allah SWT. Doakan saja pak semoga Saya segera mendapatkan pelengkap diri saya untuk menyempurnakan separuh Agama saya.” Jawabku sambil Cengegesan dan menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Kulihat kelangit hujanpun sudah mulai mereda, Alhamdulillah, saya duluan pak. buru-buru mau pulang kerumah karena sudah basah baju saya karena kehujanan tadi. Kenapa sering sekali pertanyaan tentang menikah??
Aku pun bergegas pergi, mengakhir diskusi dengan mengucapkan salam kepada lelaki tua itu.

***

Jakarta, Oktober 2012