Sebuah Lamunan, Rencana Masa depan…

Posted by Ahmad Khairudin on 21.02 with 3 comments


“ Gw Lulus, Kita Semua Lulus …!!! Bebas dari Penjara otak yang namanya sekolahan…”,
Teriakan itu aku teriakan ketika pengumuman kelulusan SMK tahun lalu.
Teriakan Itu masaih bergema keras di sudut paling dalam memor otak kananku, membuat kejadian itu selalu mudah teringat saat aku ingin menginggatnya.

Lamunan Masa depan.

         Lulus dari sekolah merupakan hal yang sangat luar biasa menurutku, lepas dari aktifitas belajar, terhindar dari omelan guru dan bebas dari suatu kegiatan yang namannya ulangan/ ujian, bangga rasanya dan akhirnya ada status pengakuan dewasa yang akan aku dapatkan setelah keluar dari bangku sekolah. Panas cuaca itu tak menggangu kesenangan kami para Siswa SMK yang sedang merayakan kelulusannya disekolah, lalu aku katakana kepada teman temanku bahwa kita kumpul ditempat biasa untuk merayakannya dengan coret-coret baju, “Ucapku dengan penuh semangat”.

        Yess.. saatnya pesta Bro, sayang kalau dilewatkan. “ucapku pada salah satu sahabat baikku eko”.
Sepulang dari sekolah setelah kami mengetahui pengumuman kelulusan, aku dan teman temanku membuat janji bertemu ditempat biasa kami berkumpul, sesuai rencana kami meluapkan perasaan kegembiraan kami dengan saling mencoret baju seragam kami dengan pilox,spidol untuk tanda tangan. Disela-sela kesibukan kami mengekspresikan kegembiraan kami,seorang laki-laki paruh baya berdiri didepan kami, dan saat itu kami terdiam dari tawa dan canda kami.

        terdengar suara seorang laki-laki paruh baya berkata, “dasar anak muda, kan sayang bajunya di coret-coret gitu ??”

       dengan santai aku menjawab, “yah lebih sayang lagi kalau kami ga punya kenangan moment terbaik ini pak”.

       Temanku eko,berkata ‘iya pak, kapan lagi inikan yang terakhir”.
Belum sempat eko menutup mulut mengatakan hal itu aku langsung menyambar dan berkata, “sembarangan loe ko kalau ngomong, terakhir??”. Dengan sedikit nada yang kutekankan.

       Eko menjawab dengan senyuman, “ kan ini terakhir kita sekolah men”, hahaaha
Kemudian tanpa kata laki-laki paruh baya itu berjalan meninggalkan kami, setelah cukup puas dengan hal yang kami lakukan kami mulai istirahat di bawah pohon besar tempat kami biasa bersandar.

       Tiba tiba salah satu dari rekanku mulai menanyakan rencana masa depan, “Bro, lulus kita kerja dimana nih ? udah punya link buat kerja?”. “ucap salah satu temanku”.

        Terjadi diskusi yang sangat luar biasa. Aku sangat menikmati suasana keceriaan ini, banyak jawaban dari teman temanku yang lain, mulai dari kerja di Perusahaan- perusahaan besar, buka usaha sendiri sampai ada yang mengatakan ingin kuliah.

        Saat itu saya melamun, dan berfikir akan kemana saya setelah lulus nanti, tiba-tiba salah satu temanku mengagetkanku,

       “ngapain loe bengong, mau nikah loe ga mau kerja?” “ucap anton, sambil menyelaku”.
Sambil melontarkan senyum, aku katakan “Nikah mah mau, tapi kerja dulu bro buat nyari modal, lagipula belum tau nih, paling nanti gw coba tanya tanya nyokap bokap gw dulu, “jawabku dengan santai”.

      “Loe kuliah apa kerja din?” Adit menanyakan hal itu yang kemudian disusul temanku Fajrin menanyakan hal  yang serupa?
“maunya sih kuliah, tapi gw gam au belajarnya”, jawabku dengan canda.

      Hari itu menjadi hari yang paling memberikan kebebasan, dalam hidup aku karena terlepas dari sebuah sekolah yang menurutku, sekolah seperti penjara anak berseragam. Memberikan lamunan tentang masa depan, entah bagaimana kedepannya nanti yang aku tau dari dulu adalah masa depan adalah jalan yang tak bisa dihindari

Sebuah Pilihan

        Singkat cerita Saat tiba dirumah saya mulai bercerita dan meminta saran kepada orang kedua orang tua untuk meminta izin bergegas mencoba  melamar pekerjaan.

“Mah, aku mau kerja ya ?”
“Kerja dimana ?”
“iya, nyari dan ngelamar – ngelamar pekerjaan aja”, jawabku dengan santai.
“Udah ga usah kerja dulu, nanti aja, kamu kuliah dulu aja”. Ibuku menjawab dengan tegas.

      Tiba – tiba ayahku pun ikut menyela pembicaraan dengan mengatakan hal yang sama, “iya nak, kamu kuliah dulu aja, ga akan jadi apa – apa kalau kerja Cuma lulusan STM”.

      “Mau Kuliah dimana, di STM aja ga pernah belajar,mana bisa masuk kampus Negeri, kalau kakak sih dia SMA dulu sekolahnya, udah gitu pinter lagi. lagipula kalau kuliah di Swasta mah biayanya mahal, terus cari kerja juga sama aja, susah- susah juga”. Jawabanku dengan sedikit pembelaan agar tidak Kuliah.

       “Dicoba aja dulu, kana ada Allah”. Jawaban ayahku ketika aku mengeluarkan pendapat pembelaanku.

        Wah, kalau udah bawa-bawa nama Allah udah susah jawabnya. Pikirku dalam hati.
Merasa puas dengan jawaban mereka, aku kembali ke kamar. Aku mulai berfiir kembali sejenak, “Wah berarti gw belajar lagi donk ? Males banget !!”, jawabku dengan nada yang sedikit kecewa.

        Berarti inilah pilihan yang harus aku jalani, sambil berfikir inilah sebuah pilihan, semoga pilihan ini baik. Namun pertanyaan besarnya adalah “apakah saya mampu atau ini hanya sebatas lamunan saja? Atau nahkan impian yang menjadi angan-angan belaka.

MAN JADDA WA JADDA

         Singkat cerita, aku mengikuti sebuah ujian Mandiri di Universitas Negeri Jakarta, sebagai salah satu syarat masuk di Universitas ini. Awalnya sedikit shock, mendengar kabar bahwa dalam tes tertulis di ujiannya ada pelajaran IPA, yang menyangkut Biologi dan kimia, padahal dulu selama di sekolah aku tidak pernah belajar pelajaran itu. Sempat mengeluh ke ibu, kemudian beliau menjawab keluahan ku dengan kata “Man Jadda Wa Jadda”, berusaha aja dulu , kan hasilnya Allah yang menentukan, ucapnya dengan santai mencoba meyakinkanku.

        Setelah tepat dua minggu dari waktu ujian mandiri berlangsung, Saat itu merupakan hari dimana hasil pengumuman saya  untuk keputusan masuk atau tidaknya di kampus Universitas Negeri Jakarta, saat itu aku bertekad jika aku tidak diterima dikampus negeri ini, aku akan mencari pekerjaan, dan setelah melihat dipapan pengumuman, Alhamdulillah hasilnya membuat aku sendiri tak percaya melihatnya, saya dterima di kampus Universita Negeri Jakarta.

       Dengan perasaan banga saya menemui ibu untuk melapor bahwa saya lulus seleksi, beliau mengatakan, betul kan kamu pasti lulus, Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh sungguh pasti berhasil, “ucap ibuku.

       Namun ada masalah lain, di sekolah smk aku dulu adalah siswa yang konsentrasi penjurusannya adalah teknik otomotif, namun di kampus aku diterima sebagai mahasiswa Jurusan teknik Elektronika, ini sebuah masalah, namun aku kembali bercerita soal ini kepada ibu saya, kembali beliau mengatakan “Man jadda wa jadda”. Saat itu semangat dan keyakinanku kembali muncul.

      Dan benar sikap pesimis aku selama ini tarnyata hanya sebatas ketakutanku saja dalam melangkah. Man jadda wa jadda, dan dari kata kata itu pun aku mendapat banyak pelajaraan dan penghargaan dalam hidup, menjadi mahasiswa adalah kebanggan sendiri ketika gelar sebagai mahasiswa bukan hanya sebatas status sosial.

     "Wa inna minal bayaani lasihran", "Sesungguhnya sebagian dari perkataan itu benar-benar dapat menyihir (memberi pengaruh kuat)." (HR Bukhori, at Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)

       Hadis ini mungkin yang melambangkan cerita di atas, cerita diatas  hanya sebuah cerita nyata singkat penulis yang menjadi saksi hidup akan sebuah perjuangan yang dilakukan dengan sungguh sungguh, dulu mungkin saya selalu pesimis dan bimbang dalam berbagai pilihan, namun kata kata itu menyihir dan memberikan semangat baru.

        Dan diperkuat dengan Firman Allah Swt yang mengatakan ” Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka ” (QS.13:11).

        Hidup adalah sebuah perubahan dan hidup adalah keseimbangan. Untuk merubah hidup harus berimbang antara ihktiar lahir dan ikhtiar batin. Seperti halnya hablum minallah dan hablum minannas, malam dan siang, pagi dan sore, pria dan wanita. Karena kesuksesan kalian datang dikampus pendidikan Ini adalah kegagalan orang lain saat kau kalian kalahkan di SNMPTN/Ujian mandiri yang kalian ikuti.

Berfikirlah, maka kau akan menemukan Sebuah Ungkapan Istimewa

       Awalnya aku selalu ragu, takut namun setelah melawati ini semua aku paham bahwa di dunia ini, untuk menjadi yg terbaik, kompetitor sejati kita tidak pernah datang dari luar, tapi bagaimana mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ketakutan, mengalahkan perasaan gentar, mengalahkan kemalasan, mengalahkan tinggi hati tidak mau belajar dan mengakui orang lain lebih baik, mengalahkan semua batasan2 yg mengekang diri sendiri. Sekali itu berhasil dikalahkan, hanya soal waktu kita akan jadi yang terbaik.

      Man Jadda Wa Jada, ungkapan ini mungkin sudah sering Anda dengar dalam kehidupan ini. Sepatah kalimat, bisa saya bilang mantra sakti yang memiliki makna sangat kuat dan mampu memberikan semangat dan stimulasi yang luar biasa dalam kehidupan ini. 'Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil'. Tapi di balik itu semua apakah penting tulisan ini, sama sekali tidak penting jika Anda hanya membaca dan tidak tergerak untuk melakukan usaha yang sungguh sungguh.

       Man Jadda Wa Jada, Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil… Berdzikirlah, Berfikirlah dan jangan lupa untuk Berikhtiar yang sungguh sungguh, sisanya pasrahkan kepada-Nya. Kita tak tau kedepannya akan menjadi apa dan menjalani hidup seperti apa, namun ketika kau yakin pasti kau akan menemukan jalannya.

Menjadi pribadi yang baru, dari sebuah Lamunan hingga menjadi Cita dan impian

      Gedung tinggi berdiri tepat didepanku, tertulis jelas dengan besar sebuah Nama “ PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA”, puluhan mahasiswa lalu lalang membawa sebuah buku-buku tebal dalam pelukannya, sedangkan matahari menyapa penuh semangat dengan teriknya dari langit yang tak berawan.

     “Dulu lamunanku menjadi seorang Mahasiswa hanyalah sebuah lamunan, namun semakin saya belajar dan saya pahami sekarang menjadi sebuah kenyataan, bukan sekedar lamunan tapi bukti pencapaian dari lamunan hingga menjadi cita dan impian”. Sekarang aku menjadi pribadi yang baru, bukanlagi seorang yang terpenjara di sebuah lamunan, karena sebuah kata “ Man Jadda Wa Jadda ”, mengubah Lamunan menjadi cita dan Impian, akhirnya aku sadar, ternyata Allah tidak akan percuma da menyia-nyiakan tiap lamunan yang diberikan, ketika kita mau berusaha, pasti kita bisa mendapatkannya.

     “Ayo masuk, malah bengong di depan gedung”, ucap salah seorang temanku.
Dengan senyum aku memasuki gedung Besar didepanku ini.

Terima Kasih Impian, ini karenamu Perjuangan "Sebuah Lamunan, Rencana Masa Depan" :)


*Lembaran Catatan Usang
Ahmad Khairudin









@A_Khairudin
Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektronika
Universitas negeri Jakarta
Web : Ahmadkhairudin5.blogspot.com

Reaksi: