Minggu, 30 September 2012

Sebuah Lamunan, Rencana Masa depan…



“ Gw Lulus, Kita Semua Lulus …!!! Bebas dari Penjara otak yang namanya sekolahan…”,
Teriakan itu aku teriakan ketika pengumuman kelulusan SMK tahun lalu.
Teriakan Itu masaih bergema keras di sudut paling dalam memor otak kananku, membuat kejadian itu selalu mudah teringat saat aku ingin menginggatnya.

Lamunan Masa depan.

         Lulus dari sekolah merupakan hal yang sangat luar biasa menurutku, lepas dari aktifitas belajar, terhindar dari omelan guru dan bebas dari suatu kegiatan yang namannya ulangan/ ujian, bangga rasanya dan akhirnya ada status pengakuan dewasa yang akan aku dapatkan setelah keluar dari bangku sekolah. Panas cuaca itu tak menggangu kesenangan kami para Siswa SMK yang sedang merayakan kelulusannya disekolah, lalu aku katakana kepada teman temanku bahwa kita kumpul ditempat biasa untuk merayakannya dengan coret-coret baju, “Ucapku dengan penuh semangat”.

        Yess.. saatnya pesta Bro, sayang kalau dilewatkan. “ucapku pada salah satu sahabat baikku eko”.
Sepulang dari sekolah setelah kami mengetahui pengumuman kelulusan, aku dan teman temanku membuat janji bertemu ditempat biasa kami berkumpul, sesuai rencana kami meluapkan perasaan kegembiraan kami dengan saling mencoret baju seragam kami dengan pilox,spidol untuk tanda tangan. Disela-sela kesibukan kami mengekspresikan kegembiraan kami,seorang laki-laki paruh baya berdiri didepan kami, dan saat itu kami terdiam dari tawa dan canda kami.

        terdengar suara seorang laki-laki paruh baya berkata, “dasar anak muda, kan sayang bajunya di coret-coret gitu ??”

       dengan santai aku menjawab, “yah lebih sayang lagi kalau kami ga punya kenangan moment terbaik ini pak”.

       Temanku eko,berkata ‘iya pak, kapan lagi inikan yang terakhir”.
Belum sempat eko menutup mulut mengatakan hal itu aku langsung menyambar dan berkata, “sembarangan loe ko kalau ngomong, terakhir??”. Dengan sedikit nada yang kutekankan.

       Eko menjawab dengan senyuman, “ kan ini terakhir kita sekolah men”, hahaaha
Kemudian tanpa kata laki-laki paruh baya itu berjalan meninggalkan kami, setelah cukup puas dengan hal yang kami lakukan kami mulai istirahat di bawah pohon besar tempat kami biasa bersandar.

       Tiba tiba salah satu dari rekanku mulai menanyakan rencana masa depan, “Bro, lulus kita kerja dimana nih ? udah punya link buat kerja?”. “ucap salah satu temanku”.

        Terjadi diskusi yang sangat luar biasa. Aku sangat menikmati suasana keceriaan ini, banyak jawaban dari teman temanku yang lain, mulai dari kerja di Perusahaan- perusahaan besar, buka usaha sendiri sampai ada yang mengatakan ingin kuliah.

        Saat itu saya melamun, dan berfikir akan kemana saya setelah lulus nanti, tiba-tiba salah satu temanku mengagetkanku,

       “ngapain loe bengong, mau nikah loe ga mau kerja?” “ucap anton, sambil menyelaku”.
Sambil melontarkan senyum, aku katakan “Nikah mah mau, tapi kerja dulu bro buat nyari modal, lagipula belum tau nih, paling nanti gw coba tanya tanya nyokap bokap gw dulu, “jawabku dengan santai”.

      “Loe kuliah apa kerja din?” Adit menanyakan hal itu yang kemudian disusul temanku Fajrin menanyakan hal  yang serupa?
“maunya sih kuliah, tapi gw gam au belajarnya”, jawabku dengan canda.

      Hari itu menjadi hari yang paling memberikan kebebasan, dalam hidup aku karena terlepas dari sebuah sekolah yang menurutku, sekolah seperti penjara anak berseragam. Memberikan lamunan tentang masa depan, entah bagaimana kedepannya nanti yang aku tau dari dulu adalah masa depan adalah jalan yang tak bisa dihindari

Sebuah Pilihan

        Singkat cerita Saat tiba dirumah saya mulai bercerita dan meminta saran kepada orang kedua orang tua untuk meminta izin bergegas mencoba  melamar pekerjaan.

“Mah, aku mau kerja ya ?”
“Kerja dimana ?”
“iya, nyari dan ngelamar – ngelamar pekerjaan aja”, jawabku dengan santai.
“Udah ga usah kerja dulu, nanti aja, kamu kuliah dulu aja”. Ibuku menjawab dengan tegas.

      Tiba – tiba ayahku pun ikut menyela pembicaraan dengan mengatakan hal yang sama, “iya nak, kamu kuliah dulu aja, ga akan jadi apa – apa kalau kerja Cuma lulusan STM”.

      “Mau Kuliah dimana, di STM aja ga pernah belajar,mana bisa masuk kampus Negeri, kalau kakak sih dia SMA dulu sekolahnya, udah gitu pinter lagi. lagipula kalau kuliah di Swasta mah biayanya mahal, terus cari kerja juga sama aja, susah- susah juga”. Jawabanku dengan sedikit pembelaan agar tidak Kuliah.

       “Dicoba aja dulu, kana ada Allah”. Jawaban ayahku ketika aku mengeluarkan pendapat pembelaanku.

        Wah, kalau udah bawa-bawa nama Allah udah susah jawabnya. Pikirku dalam hati.
Merasa puas dengan jawaban mereka, aku kembali ke kamar. Aku mulai berfiir kembali sejenak, “Wah berarti gw belajar lagi donk ? Males banget !!”, jawabku dengan nada yang sedikit kecewa.

        Berarti inilah pilihan yang harus aku jalani, sambil berfikir inilah sebuah pilihan, semoga pilihan ini baik. Namun pertanyaan besarnya adalah “apakah saya mampu atau ini hanya sebatas lamunan saja? Atau nahkan impian yang menjadi angan-angan belaka.

MAN JADDA WA JADDA

         Singkat cerita, aku mengikuti sebuah ujian Mandiri di Universitas Negeri Jakarta, sebagai salah satu syarat masuk di Universitas ini. Awalnya sedikit shock, mendengar kabar bahwa dalam tes tertulis di ujiannya ada pelajaran IPA, yang menyangkut Biologi dan kimia, padahal dulu selama di sekolah aku tidak pernah belajar pelajaran itu. Sempat mengeluh ke ibu, kemudian beliau menjawab keluahan ku dengan kata “Man Jadda Wa Jadda”, berusaha aja dulu , kan hasilnya Allah yang menentukan, ucapnya dengan santai mencoba meyakinkanku.

        Setelah tepat dua minggu dari waktu ujian mandiri berlangsung, Saat itu merupakan hari dimana hasil pengumuman saya  untuk keputusan masuk atau tidaknya di kampus Universitas Negeri Jakarta, saat itu aku bertekad jika aku tidak diterima dikampus negeri ini, aku akan mencari pekerjaan, dan setelah melihat dipapan pengumuman, Alhamdulillah hasilnya membuat aku sendiri tak percaya melihatnya, saya dterima di kampus Universita Negeri Jakarta.

       Dengan perasaan banga saya menemui ibu untuk melapor bahwa saya lulus seleksi, beliau mengatakan, betul kan kamu pasti lulus, Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh sungguh pasti berhasil, “ucap ibuku.

       Namun ada masalah lain, di sekolah smk aku dulu adalah siswa yang konsentrasi penjurusannya adalah teknik otomotif, namun di kampus aku diterima sebagai mahasiswa Jurusan teknik Elektronika, ini sebuah masalah, namun aku kembali bercerita soal ini kepada ibu saya, kembali beliau mengatakan “Man jadda wa jadda”. Saat itu semangat dan keyakinanku kembali muncul.

      Dan benar sikap pesimis aku selama ini tarnyata hanya sebatas ketakutanku saja dalam melangkah. Man jadda wa jadda, dan dari kata kata itu pun aku mendapat banyak pelajaraan dan penghargaan dalam hidup, menjadi mahasiswa adalah kebanggan sendiri ketika gelar sebagai mahasiswa bukan hanya sebatas status sosial.

     "Wa inna minal bayaani lasihran", "Sesungguhnya sebagian dari perkataan itu benar-benar dapat menyihir (memberi pengaruh kuat)." (HR Bukhori, at Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)

       Hadis ini mungkin yang melambangkan cerita di atas, cerita diatas  hanya sebuah cerita nyata singkat penulis yang menjadi saksi hidup akan sebuah perjuangan yang dilakukan dengan sungguh sungguh, dulu mungkin saya selalu pesimis dan bimbang dalam berbagai pilihan, namun kata kata itu menyihir dan memberikan semangat baru.

        Dan diperkuat dengan Firman Allah Swt yang mengatakan ” Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka ” (QS.13:11).

        Hidup adalah sebuah perubahan dan hidup adalah keseimbangan. Untuk merubah hidup harus berimbang antara ihktiar lahir dan ikhtiar batin. Seperti halnya hablum minallah dan hablum minannas, malam dan siang, pagi dan sore, pria dan wanita. Karena kesuksesan kalian datang dikampus pendidikan Ini adalah kegagalan orang lain saat kau kalian kalahkan di SNMPTN/Ujian mandiri yang kalian ikuti.

Berfikirlah, maka kau akan menemukan Sebuah Ungkapan Istimewa

       Awalnya aku selalu ragu, takut namun setelah melawati ini semua aku paham bahwa di dunia ini, untuk menjadi yg terbaik, kompetitor sejati kita tidak pernah datang dari luar, tapi bagaimana mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ketakutan, mengalahkan perasaan gentar, mengalahkan kemalasan, mengalahkan tinggi hati tidak mau belajar dan mengakui orang lain lebih baik, mengalahkan semua batasan2 yg mengekang diri sendiri. Sekali itu berhasil dikalahkan, hanya soal waktu kita akan jadi yang terbaik.

      Man Jadda Wa Jada, ungkapan ini mungkin sudah sering Anda dengar dalam kehidupan ini. Sepatah kalimat, bisa saya bilang mantra sakti yang memiliki makna sangat kuat dan mampu memberikan semangat dan stimulasi yang luar biasa dalam kehidupan ini. 'Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil'. Tapi di balik itu semua apakah penting tulisan ini, sama sekali tidak penting jika Anda hanya membaca dan tidak tergerak untuk melakukan usaha yang sungguh sungguh.

       Man Jadda Wa Jada, Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil… Berdzikirlah, Berfikirlah dan jangan lupa untuk Berikhtiar yang sungguh sungguh, sisanya pasrahkan kepada-Nya. Kita tak tau kedepannya akan menjadi apa dan menjalani hidup seperti apa, namun ketika kau yakin pasti kau akan menemukan jalannya.

Menjadi pribadi yang baru, dari sebuah Lamunan hingga menjadi Cita dan impian

      Gedung tinggi berdiri tepat didepanku, tertulis jelas dengan besar sebuah Nama “ PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA”, puluhan mahasiswa lalu lalang membawa sebuah buku-buku tebal dalam pelukannya, sedangkan matahari menyapa penuh semangat dengan teriknya dari langit yang tak berawan.

     “Dulu lamunanku menjadi seorang Mahasiswa hanyalah sebuah lamunan, namun semakin saya belajar dan saya pahami sekarang menjadi sebuah kenyataan, bukan sekedar lamunan tapi bukti pencapaian dari lamunan hingga menjadi cita dan impian”. Sekarang aku menjadi pribadi yang baru, bukanlagi seorang yang terpenjara di sebuah lamunan, karena sebuah kata “ Man Jadda Wa Jadda ”, mengubah Lamunan menjadi cita dan Impian, akhirnya aku sadar, ternyata Allah tidak akan percuma da menyia-nyiakan tiap lamunan yang diberikan, ketika kita mau berusaha, pasti kita bisa mendapatkannya.

     “Ayo masuk, malah bengong di depan gedung”, ucap salah seorang temanku.
Dengan senyum aku memasuki gedung Besar didepanku ini.

Terima Kasih Impian, ini karenamu Perjuangan "Sebuah Lamunan, Rencana Masa Depan" :)


*Lembaran Catatan Usang
Ahmad Khairudin









@A_Khairudin
Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektronika
Universitas negeri Jakarta
Web : Ahmadkhairudin5.blogspot.com

Perjalanan Nurani #1


"Tak ada rumah tinggal bagi seseorang setelah mati
Kecuali bila ia sebelum mati sudah "membangunnya"
Jika dia "membangunnya" dengan kebaikan, maka berbahagia dan nyamanlah tempat tinggalnya
Jika dia"'membangunnya" dengan keburukan merugilah dia"

Mengeha Nafas malam ini, ah... saya rasa saya Gagal.....
Saya minta maaf ketika tak bisa menjadi pemimpin yang baik, tak bukan ini hanyalah kelemahan dan kebodohan saya yang tak sangup menyalurkan bakat, kehebatan dan semangat kalian... Ampuni Hamba ya Rabb tak amanah dalam mengemban Amanah Ini... 

Kepada kalian yang jiwa dan semangatnya yang tak pernah padam,
kepada Kalian pewaris perjuangan Dakwah bil qalam yang terus berjuang
Kepada kalian yang selelu aku rindukan... 
Saya Minta Maaf... Silahkan Kecewa, tapi jangan tinggalkan Amanah ini :(
*Semoga yang Meneruskan bisa lebih baik dari yang sekarang

Februari , ya awal tahun yang Indah ketika saat itu saya diamanahkan oleh Allah untuk memimpin lembaga Pers Dakwah Kampus, dengan penuh kebimbangan, ketakutan , ketidak percayaan saya perlahan mulai berjalan. dengan berbagai amanah dan kesibukan yang di jalankan. saya paham amanah tidak akan jatuh kepada orang-orang yang tak sibuk, karena amanah akan selalu di emban kepada orang yang memiliki kesibukan yang sangat luar biasa, agar mereka tidak lalai.
" ya Allah, saya Tak pantas Untuk Amanah ini, kuatkan bahu ini untuk memangkulnya ", ucapku dalam sujud sambil menyeka air mata yang perlahan Jatuh.

Udara malam terasa panas, tepat di 1/3 malam terakhir, "Semoga Allah Menguatkan ".
Tertulis Rapih dalam buku diari, bertuliskan Perjalanan Nurani.

 rasanya itu baru kemarin malam aku mengalaminya, tapi malam itu kembali aku bersujud memohon ampun pada Rabb-Ku bahwa benar aku telah gagal. 

Akhir tahun 2011 itu saya membacakan Kalimat ini, 2 kaliamat sakti yang pernah ku ucapkan, yaitu Visi dan Misi untuk menjadi ketua LSO Pers Dakwah Kampus UNJ, 
rasanya baru kemarin, tapi seiring berjalan tanpa terasa amanah ini hamir dipenghujung perjuangan, tapi ketika saya berkaca apa yang telah dilakukan, hanya Istigfar yang kukatakan.
memang ada beberapa rencana yang dilakukan, tapi itu masih sangat jauh dari apa yang diharapkan.


VISI dan MISI LSO Nuraniku Masa Bakti 2012 - 2013


VISI

Menjadikan Lso Pers Dakwah kampus Nuraniku UNJ sebagai wadah aspirasi, Leader opinion dan sebuah lembaga pers islam yang akan meluruskan informasi dan mengungkapkan fakta maupun isu yang ada dikampus, serta pengembangan potensi Mahasiswa terkait organisasi,pemahaman tentang dunia jurnalistik dan sastra islam serta mensyiarkan islam menuju kebangkitan islam 


MISI
  1. Mefungsikan Nuraniku sebagai media Pers yang dapat memberikan informasi sesuai fakta yang ada baik di dalam ataupun luar kampus
  2. Membangun hubungan dan kerja sama yang baik dengan lembaga pers & media yang ada di UNJ secara baik dan berkesinambungan
  3. Melaksanakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan berbagai lembaga di kampus dalam melaksanakan tugas dan peran media islam seutuhnya
  4. Membangun organisasi dalam menciptakan kader unggul dan berkarakter yang dilatarbelakangi oleh pengkaderan yang jelas dan berkesinambungan

Seseorang pemimpin yang hebat adalah dia yang selalu mengingatkan anggota-anggotanya tentang apa yang menjadi tujuan dan cita cita organisasinya, tapi dengan berbagai kesibukan saya mencoba terus bertahan dan terus menyemangati, walau akhirnya sayapun kalah.
Dinamika Kesibukan
Bukan menjadi pembenaran, semoga bisa lebih fokus dari tiap amanah yang diembankan.
Hidup adalah kesibukan, jika tak ingin sibuk didunia silahkan diam, dan kemudian kalian akan tergantikan dan dilupakan,

ada masalah fatal sebenarnya sampai akhirnya ini tak usah di bahas, bukan karena takut, biarlah ini menjadi catatan gelap perjalanan ini, sudah diingatkan beberapa kali pun sama saja, hanya semangat di awal kemudian ketika diingatkan beralih dengan bernagai kesibukan, silahkan saja " ALLAH yang Menilai " :)

Beginilah Dakwah, indah ,,,
Mengenal kalian adalah sebuah kehebatan dan berjuang bersama kalian adalah sebuah kehormatan.

“Allah tau jasad kita sering merasa letih, Allah tau tidur kita tidak terlampau nyenyak,
Allah juga tau alis-alis kita kadang sering bertautan karena memikirkan amanah-amanah yang kita panggul.
Allah juga Maha Tau ada kalanya dua mata ini tak sanggup lagi membendung tetesan airmata krn beban2 yang menyesakkan.
Yang perlu kita tau, Allah telah memilih kita dari ribuan bahkan jutaan manusia yang menghabiskan kehidupannya diperbudak dunia,
kita menjadi orang-orang yang memikirkan agama ini. Jangan tinggalkan Allah dalam aktivitas kita”


 Hanya Itu yang ku sampaikan, sepenggal cerita perjalanan Nurani...

Bila tak dapat menjadi jalan besar, cukuplah menjadi jalan setapak yg dapat dilalui..
Bila tak dapat menjadi matahari, cukuplah menjadi lilin yg dapat menerangi sekitar..

*Bila kita tak dapat melakukan sesuatu untuk seseorang, cukuplah berdoa untuknya

#Nurani

Harusnya AMPUH karena saya Sangat percaya kalian hebat, menaruh harapan besar agar kemudian nantinya tidak pesimis dengan tantangan yang ada, dan sangat mengharapkan coretan ketajaman tinta - tinta emas kalian, tapi sudahlah.... masih ada waktu 1 Bulan Terakhir..Semoga Allah Menguatkan.

Sungguh butuh diskusi ... Saya, Rindu Kalian para pejuang Pena