Selasa, 21 Agustus 2012

Jalan tanpa ujung


"Berhentilah mencari. Maka dengan sendirinya, kita telah tiba di ujung perjalanan. Selamat datang di rumah."

Kalimat bijak ini diajarkan turun-temurun oleh sufi, para bestari, pengelana, orang2 yg telah berhasil menaklukkan dunia. Kalimat bijak ini diucapkan oleh mulut2 yg telah selesai melewati fase meriahnya pesta, dan tiba di ujung keheningan.... Mereka berhenti, tentu saja bukan karena mereka sudah kaya (meski dalam beberapa kasus, ada yang seperti itu), mereka selesai, bukan berarti mereka sudah berkelimpahan... percayalah, perasaan cukup bahkan bisa hadir ke seseorang yang tidak memiliki apapun selain udara yang bebas di hirup, bumi yang bebas dilangkahi...

Apa sebenarnya yang kita cari? Sy bisa saja menuliskan ide ini dengan kalimat2 analog nan indah. Simbolisasi kehidupan. Kisah teladan. Atau apalah yg sejenisnya macam novel-novel itu. Tp kali ini biarlah ditulis dgn pendekatan yg amat kasat-mata sekali. Semoga dengan begitu, bisa meresapkan keheningan di kepala.

1. Kekayaan
Pertanyaannya: Berapa banyak yg kita butuhkan? Dan berapa banyak yg sudah kita miliki?

Boleh sy tahu berapa penghasilan Anda sekarang? 1-2 juta/bulan (jika Anda buruh), atau 3-5 juta/bulan (jika Anda bekerja di salah satu perusahaan besar atau PNS dgn sistem remunerasi). 6-10 juta/bulan (jika Anda sudah memiliki 3-4 tahun pengalaman kerja). 10-15 juta/bulan (jika Anda sudah di level manajer junior atau pangkat sekian-sekian); dan seterusnya hingga 1 s/d 5 milliar per tahun jika Anda sudah berada di posisi partner perusahaan akuntan publik besar, firma konsultansi, direktur sebuah perusahaan dengan ribuan karyawan, atau profesi dokter, lawyer ngetop.

Apa sebenarnya yang kita cari dalam perjalanan tanpa ujung ini? Perjalanan 'pendapatan' seperti itukah yg sedang kita jalani? Karena jika iya, itu kabar buruk buat kita, karena hidup kita sesungguhnya berlari di rute paling lambat utk menjadi orang super-kaya di dunia. sangat2 lambat. rute kita itu bagai siput dibanding jalan tol.

Pemain sepak bola di Inggris, rata2 di gaji 500 juta/minggu. Pemain top mereka seperti Cristiano Ronaldo (sekarang pindah ke spanyol), digaji lebih dari 2 milliar/minggu. Per minggu, bukan per bulan atau per tahun. Bahkan meski kita jadi direktur perusahaan Astra Internasional, butuh 52 tahun hanya untuk menyamai gaji Ronaldo selama 1 musim (9 bulan). Itupun belum termasuk bonus2 yang dia terima. Tom Hanks dibayar 20-30 juta dollar (alias 180 -270 milliar) setiap kali tampil di film. Tiger Wood butuh satu kali kemenangan untuk mengantongi 2 juta USD. Penulis JK Rowling hanya butuh 5 tahun karir kepenulisan sejak Harry Potter meledak untuk berhasil mengumpulkan 300-500 juta poundsterling. Warren Buffet atau milliarder macam Bill Gate, setiap detik uangnya bertambah 5.000 dollar USD. Setiap detik, bukan setiap bulan atau setiap tahun.

Jadi jika di perjalanan tanpa ujung ini yg ingin kita cari adalah kekayaan, maka yg kita kerjakan sekarang: benar2 ada di jalur paling lambaaaat. Celakanya, kita justru menghabiskan waktu dgn lbh banyak chatting, nge-blog, dll pas kerja di kantor. Kita lebih banyak malas2an, ngomel, dsbgnya. Buka excell, atau ambil kalkulator, menurut definisi internasional, kita disebut kaya jika sudah memiliki aset keuangan/non keuangan produktif sebesar 1 juta dollar. Hitung dgn pendapatan kita sekarang, hingga usia kita 70 tahun, apakah angka itu akan tercapai saat kita tua? Ingat, itu asset produktif! bukan dalam bentuk rumah atau mobil.

Akan sungguh menyedihkan, amat mengharukan, jika saat ini kita tahu persis angka 1 juta dollar itu hanyalah mimpi... dan kita juga tdk punya ide sama sekali utk mencari jalan mencapainya (kecuali berharap dpt suami kaya, atau keluarga istri/mertua kaya raya).... kita justeru tetap membuat sumpek, saling menyikut, dan melupakan hal2 yg lebih hakiki dalam hidup.

Saya terkadang sedih dan kasihan, setiap kali ngobrol dgn sopir2 angkutan umum, cleaning service, satpam, guru2... berkeliling di banyak kota, bertemu dgn banyak orang, mendengarkan mereka bicara, mereka justeru nyinyir sekali dgn betapa kecilnya gaji mereka... berkeluh-kesah... duhai, apakah kecilnya pipa rejeki yg kita miliki harus merusak keihklasan, rasa bersyukur atas pekerjaan yg ada? Sudah tidak kaya, kehilangan pahala pula (bahkan mungkin mengundang bala). Duhai, maukah kita menjadi orang yg se-merugi itu?

Baiklah, mereka orang2 yg mungkin tdk berpendidikan, tdk tahu... tapi kita? yg dibesarkan dengan akses utk tahu, utk lbh bijak setiap hari, apakah tetap akan se-nyinyir mereka? Sayang, kan sudah capek2 kerja, tp sia-sia secara dunia dan akherat.... Jika teman kerja kita digaji lbh besar, atau siapalah digaji lbh besar, kenapa tdk nyengir saja, tersenyum, lantas bersyukur.

Karena di titik lain yg lebih menyedihkan: ada orang2 melakukan kejahatan demi uang... Ada yg menyuap, ada yg minta suap... 6 milliar? Angka itu kecil sekali, bahkan tdk cukup utk membeli satu apartemen kelas menengah di Singapore. Menyuap 63 milliar? Angka itu bahkan tdk cukup utk membeli rumah di Hollywood. Korupsi 1,3 T... nah, kalau yg ini baru terasa besarnya. Tapi apakah sebesar itu? Tidak, kawan. Coba bandingkan dgn penghasilan Warren Buffet dan orang2 terkaya di dunia lainnya. Uang 1,3T itu seperti uang seribu rupiah dibandingkan uang satu juta milik mereka.

Itulah kenapa dunia ini diciptakan dgn "ukuran2". Relativitas... Menurut sy, selain 'warna', 'waktu', 'ruang', ciptaan Tuhan yg indah lainnya adalah: relativitas. Kecil di sini, belum tentu kecil pula di sana. Besar di sana, belum tentu besar di sini... Dan, duhai... yg paling elok dari mekanisme relativitas itu adalah: dia dikunci oleh perasaan (bukan oleh ukuran metric, yg dipahami oleh rasionalitas). Ketika perasaan menjadi sumber perbandingan, maka apakah "perasaan-cukup" memiliki korelasi dengan angka2? tentu tidak.

"Berhentilah mencari... maka dengan sendirinya, kita telah tiba di ujung perjalanan. Selamat datang di rumah..."

Mau sejauh mana kita melewati jalan tanpa ujung itu? Sidharta Gautama meninggalkan tahtanya utk memahami hal ini. Orang2 besar di dunia juga melakukan hal yg sama (terlepas dr apa agama mereka). Warren Buffet juga dalam beberapa kasus, mungkin sudah sejak belasan tahun silam berhenti mencari (bacalah biografinya)... Percayalah, ketika kita lega.. ihklas... tulus... merasa berkecukupan, bukan berarti materi itu jd berhenti mendekat... Dalam banyak kasus: sebaliknya! Sungguh kabar baik, apalagi jika kita Muslim dan meyakini kitab suci, sungguh itu kabar baik, bukankah, di sana tertulis indah; bersyukurlah... maka akan Allah tambahkan nikmat itu...

Maka merasa cukuplah, dan kita akan dicukupkan oleh semesta alam... bukan karena otomatis sim-salabim kehidupan kita tiba2 jd cukup.. tp lebih karena perasaan cukup itu membuat beban kehidupan menjadi terasa ringan... Menurut rumus yg saya pahami, maka E (Enjoy/kebahagiaan hidup) itu sama dengan M (merasa) dikali C (cukup) kuadrat, persis rumus Einstein yg terkenal itu. E = m c kuadrat.

Berhentilah mencari.... Maka boleh jadi urusan ini yg justeru mencari kita.


                                                                                                                                                   "Tere Liye"

Kamis, 16 Agustus 2012

MERDEKA Itu...

Sebuah Kebanggaan bisa Hidup di Bumi Nusantara yang kaya Ini, tak letih rasanya memuji pesona keindahan Alam ini, tepat hari ini.
17 Agustus 2012, NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONSIA merayakan HUT ke 67 Tahun.
Usia yang hamir senja namun bangsa ini masih belum berfikir secara dewasa.
#JAYALAH INDONESIAKU

Postingan Status Kemerdekaan
 Nah, ini kutipan kiutian teman teman saya di FB yang saya postkan disini.























Ya Unik bukan, berbagai macam ekspresi mereka keluarkan...
namnun menurut saya #Merdeka Itu ..
 Pesan dari Bunda Taty Elmir yang menjadi renungan kuat hari ini,





Sekali Merdeka tetap MERDEKA !

Minggu, 12 Agustus 2012

Mau kirim Cerpen ?? ini Alamat emailnya :)




BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnal dantabloid yang menerima kiriman cerpen. Anda yang mengetahui info terkini terkait alamat-alamat email redaksi dimohon bantuannya dengan menuliskannya pada komentar Anda.
Selamat Menulis Kreatif!
1. Republika
sekretariat@republika.co.id
2. Kompas
opini@kompas.com, opini@kompas.co.id
3. Koran Tempo
ktminggu@tempo.co.id
4. Jawa Pos
dos@jawapos.co.id, editor@jawapos.co.id
5. Suara Merdeka
triwikromo@yahoo.com
6. Suara Pembaruan
koransp@suarapembaruan.com
7. Suara Karya
amiherman@yahoo.com
8. Jurnal Nasional
tamba@jurnas.com
9. Jurnal Bogor
donyph@jurnas.com
10. Seputar Indonesia
donatus@seputar-indonesia.com
11. Pikiran Rakyat
khazanah@pikiran-rakyat.com
12. Kedaulatan Rakyat
redaksi@kr.co.id
13. Sinar Harapan
redaksi@sinarharapan.co.id
14. Tribun Jabar
cerpen@tribunjabar.co.id
15. The Jakarta Post (English)
editorial@thejakartapost.com
16. Surabaya Post
redaksi@surabayapost.info
17. Lampung Post
lampostminggu@yahoo.com
18. Bangka Pos
redaksi@bangkapos.co.id
19. Riau Pos
redaksi@riauposonline.com, habeka33@yahoo.com
20. Sumut Pos
redaksi@hariansumutpos.com
21. Global Medan
tejapurnama@yahoo.com
22.
Berita Pagi
huberitapagi@yahoo.com
23. Padang Ekspres
redaksi@padangekspres.co.id
24. Jurnal Cerpen
jurnalcerpen@yahoo.com
25. Majalah Horison
horisoncerpen@centrin.net.id, horisonpuisi@centrin.net.id, horisonesai@centrin.net.id dan kakilangit@centrin.net.id (khusus memuat karya-karya pelajar setingkat SMA)
26. Majalah Sabili
elkasabili@yahoo.co.id
27. Majalah Ummi
kru_ummi@yahoo.com
28. Majalah Femina
kontak@femina-online.com, kontak@femina.co.id
29. Majalah Story
story_magazine@yahoo.com
30. Tabloid Nova
nova@gramedia-majalah.com
CONTOH PENGANTAR PENGIRIMAN
[1] Ada contoh bagus dari almarhum Kuntowijoyo, yang dicuplik pengasuh Horison pada cover majalah itu, Mei 2005.
Assalamu’alaikum w.w.
Redaksi Horison Yth.
Bersama ini saya kirimkan naskah “Maklumat Sastra Profetik”, meskipun terlalu panjang untuk format majalah. Karena itu, mohon jangan merasa di-faith accompli dan dipaksakan pemuatannya. Anggap saja kiriman ini sekadar sebagai pemberitahuan bahwa saya sudah menuliskannya.
Semua itu saya kerjakan, karena saya terlanjur dikabarkan—terutama lewat Horison—sebagai penganjur Sastra Profetik. Dan saya merasa “berdosa” kalau tidak saya kirim ke Horison terlebih dahulu. Sekali lagi, jangan segan-segan untuk TIDAK MEMUAT.
Mohon berita lewat telepon 0274-881-xxx, terutama selepas pukul 8:00 malam.
Wassalamu’alaikum w.w.
Yogyakarta, 1 Februari 2005
Kuntowijoyo
[2] Ahmadun Yosi Herfanda, (mantan) Redaktur Sastra Republika, pernah menulis begini,
“Berhubung ada perubahan disain dan ukuran huruf untuk rubrik Sastra, maka para penyumbang naskah harap memperhatikan hal-hal sbb.
[a] Panjang naskah Cerpen dan Esei antara 7-8000 karakter (with space), diketik dengan program MSWord, dan tiap judul naskah dalam satu file.
[b] Untuk kolom Oase diutamakan sajak-sajak pendek, panjang tiap sajak tidak lebih dari satu layar MSWord (2-5 bait pendek).
[c] Dalam sekali kirim minimal enam judul sajak, dan dikemas dalam satu file, disertai biografi singkat dan foto diri close up bergaya santai.
[d] Semua naskah harus dikirim melalui email dengan sistem attachments ke sekretariat@republika.co.id ditujukan ke Redaktur Sastra, dan lampiri nomor rekening bank untuk pengiriman honor.
[e] Naskah-naskah yang tidak memenuhi prosedur di atas tidak akan diperhatikan. Terima kasih.


Sumber: http://lakonhidup.wordpress.com/redaksi/
NB: silakan share dengan mencantumkan sumber aslinya:)

Semangat Nulis... :D


Alhamdulillah ...



ALAMAT EMAIL REDAKSI MEDIA
Berikut ini beberapa hal yang saya ketahui (saya dapatkan ini dari sdr. Wildan Nugraha flp Jabar), yang tentunya terbatas. Tapi mungkin ada sedikit guna buat Kawan semua.

Untuk jenis opini, kita bisa mengirimkan tulisan ke beberapa koran, di antarnya Pikiran Rakyat (email: redaksi@pikiran-rakyat.com), Tribun Jabar (opini@tribunjabar.co.id), Galamedia (redgala@pro.net.id), Radar Bandung (radarbandung@yahoo.co.uk), Kompas (opini@kompas.com/opini@kompas.co.id), Kompas lembar Jabar (kompasjabar@kompas.co.id), Republika (sekretariat@republika.co.id), Media Indonesia (redaksi@mediaindonesia.co.id), Seputar Indonesia (redaksi@seputar-indonesia.com), Koran Tempo (koran@tempo.co.id), Suara Pembaruan (koransp@suarapembaruan.com), Kedaulatan Rakyat (redaksi@kr.co.id), Lampung Post (redaksilampost@yahoo.com), Padang Ekspres (redaksi@padangekspres.co.id), Sinar Harapan (redaksi@sinarharapan.co.id), Radar Cirebon (redaksi@radarcirebon.com/radarcbn@indosat.net.id), Sriwijaya Post (sripo@mdp.net.id/sripo@yahoo.com/sripo@persda.co.id), Suara Karya (redaksi@suarakarya-online.com), Suara Merdeka (redaksi@suaramerdeka.com), Koran Jakarta (redaksi@koran-jakarta.com).

Untuk resensi buku, kecuali beberapa, semua koran yang disebutkan di atas tadi juga memuatnya. Untuk Pikiran Rakyat, resensi buku biasa dimuat di Suplemen Kampus yang terbit Kamis (sekali Kamis tiap dua pekan). Alamat emailnya: kampus_pr@yahoo.com. Atau kadang resensi buku dimuat juga di hari Senin, di suplemen Teropong (terbit sekali Senin tiap dua pekan). Emailnya: teropong@pikiran-rakyat.com.

Untuk subjek email, saya biasa menulis begini. Misal, untuk esai literasi. To: kampus_pr@yahoo.com. Subject: Esai Literasi: “Wanita dalam Panggung Sastra Indonesia”.

Kemudian untuk cerpen. Yang saya tahu, media-media massa cetak yang memuat kiriman cerpen adalah: Pikiran Rakyat (email: khazanah@pikiran-rakyat.com), Tribun Jabar (cerpen@tribunjabar.co.id), Galamedia (redgala@pro.net.id), Kompas (opini@kompas.com/opini@kompas.co.id), Republika (sekretariat@republika.co.id), Seputar Indonesia (redaksi@seputar-indonesia.com/widabdg@seputar-indonesia.com), Koran Tempo (ktminggu@tempo.co.id), Suara Pembaruan (koransp@suarapembaruan.com), Jawa Pos (ariemetro@yahoo.com), Kedaulatan Rakyat (redaksi@kr.co.id), Lampung Post (redaksilampost@yahoo.com), Padang Ekspres (redaksi@padangekspres.co.id), Sinar Harapan (redaksi@sinarharapan.co.id), Suara Karya (redaksi@suarakarya-online.com), Annida (majalah_annida@yahoo.com), Femina (kontak@femina-online.com), Kartini (redaksi@kartinionline.com), Kawanku (kawanku-mag@gramedia-majalah.com/fiksi-kawanku@gramedia-majalah.com), Nova (Nova@gramedia-majalah.com), Sabili, Horison, Ummi (ummi@ummigroup.co.id). Dan masih banyak lagi, sebenarnya.

Untuk majalah Sabili, kawan-kawan bisa menyerbu Lembar Khazanahnya (elka). Di sana setidaknya ada rubrik cerpen, puisi, dan esai bedah sastra yang biasa memuat tulisan kiriman para pembacanya. Alamat emailnya: elkasabili@yahoo.co.id.

Majalah Horison, yang menyebut dirinya sebagai majalah sastra. Alamat emailnya: horisonpuisi@centrin.net.id untuk kiriman puisi, horisoncerpen@centrin.net.id untuk cerpen, horisonesai@centrin.net.id untuk esai, dan kakilangit@centrin.net.id untuk sisipan Kakilangit. Sisipan Kakilangit ini memuat karya-karya adik-adik SMA.

Majalah Matabaca. Majalah ini majalah perbukuan dari kelompok Gramedia. Salah satu pegasuhnya adalah penyair Joko Pinurbo. Isinya saya kira bagus buat kita mengenal khazanah literasi di negeri ini. kawan-kawan bisa mengirimkan resensi buku atau esai literasi ke alamat redaksi@matabaca.com.

Majalah Percikan Iman. Kamu bisa mengirimkan opini keislaman atau catatan perjalanan ke alamat redaksi_mapi@yahoo.co.id. Selain kedua jenis tulisan tadi, kamu juga bisa mengirimkan puisi.

Majalah Tarbawi. Belakangan, selain rubrik Kiat dan surat Pembaca, tulisan pembaca juga bisa dimuat di rubrik Responsi. Di rubrik yang baru itu, teman-teman bisa menulis ulasan, tanggapan, atau kesan atas tema utama yang pernah diangkat majalah Islam itu. Tentu, bentuknya berupa esai populer keislaman. Alamat email redaksinya: tarbawi@yahoo.com.

Media Indonesia. Koran ini memuat opini tiap Senin sampai Jumat. Untuk Sabtu, koran ini kini memuat esai tentang local wisdom. Juga, Media Indonesia Sabtu memuat resensi buku. Email (selian email redaksi yang sudah disebutkan di atas): miweekend@mediaindonesia.com.

Dan tentang teknis mengirim tulisan via email, banyak juga kawan-kawan yang bertanya. Kalau saya, saya biasa menggunakan fasilitas attachment (lampiran) di email untuk tulisan yang akan dikirimkan. Sementara di kotak emailnya, saya menulis semacam pengantar singkat untuk redaksi. Tidak panjang-panjang, hanya beberapa kalimat saja.

Ada contoh bagus dari Kuntowijoyo, yang dicuplik pengasuh Horison pada kaver majalah itu Mei 2005.

Assalamu’alaikum w.w.

Redaksi Horison Yth.

Bersama ini saya kirimkan naskah “Maklumat Sastra Profetik”, meskipun terlalu panjang untuk format majalah. Karena itu, mohon jangan merasa di-faith accompli dan dipaksakan pemuatannya. Anggap saja kiriman ini sekedar sebagai pemberitahuan bahwa saya sudah menuliskannya. Semua itu saya kerjakan, karena saya terlanjur dikabarkan---terutama lewat Horison---sebagai penganjur Sastra Profetik. Dan saya merasa “berdosa” kalau tidak saya kirim ke Horison terlebih dahulu. Sekali lagi, jangan segan-segan untuk tidak memuat. Mohon berita lewat telepon 0274-881-xxx, terutama selepas pukul 8:00 malam.

Wassalamu’alaikum w.w.

Yogyakarta, 1 Februari 2005

Kuntowijoyo

Begitu, kawan-kawan. Saya kira itu contoh yang (terlalu) bagus buat pengantar karya. Buat orang (yang sudah se-“terkenal”) seperti beliau, memang wajar “memohon” untuk tidak dimuat.

Sebelum lupa, pernah juga ada kawan yang bertanya, di mana menempatkan biodata penulis. Jawab: kalau saya, saya menempatkannya singkat saja disatufilekan dengan tulisan kiriman. Setelah cerpen, misalnya (kalau tulisan itu cerpen), saya menyertakan biodata singkat itu. Isinya paragraf pendek yang memuat beberapa informasi diri: nama jelas (dan nama pena, kalau memakai nama samaran itu), tanggal lahir, alamat, tempat bergiat, dan seulas riwayat pendidikan serta jejak kepenulisan. Ya, seperti kalau kawan-kawan membaca biodata penulis di akhir sebuah buku. Dan, nomor rekening bank, guna memudahkan pengiriman honorarium tulisan bila karya kita dimuat.

Lagi, sebelum lupa, di Republika Ahmadun Yosi Herfanda (redaktur sastra koran itu) pernah menulis begini: Berhubung ada perubahan disain dan ukuran huruf untuk rubrik Sastra, maka para penyumbang naskah harap memperhatikan hal-hal sbb. Panjang naskah cerpen dan esei antara 7-8000 karakter (with space), diketik dengan program MSWord, dan tiap judul naskah dalam satu file. Untuk kolom Oase diutamakan sajak-sajak pendek, panjang tiap sajak tidak lebih dari satu layar MSWord (2-5 bait pendek). Dalam sekali kirim minimal enam judul sajak, dan dikemas dalam satu file, disertai biografi singkat dan foto diri close up bergaya santai. Semua naskah harus dikirim melalui email dengan sistem attachments ke sekretariat@republika.co.id CC ke ahmadun21@yahoo.com, tujukan ke Redaktur Sastra, dan lampiri nomor rekening bank untuk pengiriman honor. Naskah-naskah yang tidak memenuhi prosedur di atas tidak akan diperhatikan. Terima kasih.


semangat Nulis :D
Semoga Bermanfaat.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/info-lomba-dan-peluang-menulis/alamat-email-redaksi-media/413232382032991

Kamis, 09 Agustus 2012

Separuh hati yang tertinggal


Selamat Pagi....
Bagiku Waktu selalu pagi. Diantara potongan dua Puluh empat jam sehari, bagiku waktu pagi adalah waktu yang paling indah.
Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan.
Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan.
Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakan terlewati lagi, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan dan helaan nafas yang tertahan.

Selamat Pagi....
inilah ungkapan kehebatan waktu pagi, saat aku membaca Novel " Tere Liye " berjudul sunset bersama rosie.
pagi adalah semangat, pagi adalah harapan dan kekuatan baru.

Tak bosan bosannya rasanya menyapa pagi, di tengah kondisi badang yang belum 100% pulih namun udara pagi seakan mengangkat semangat supaya bisa melakukan aktivitas dengan segera. 
saya ingat hari ini adalah hari penting, 9/8/2012, hari dimana tempat saya mengajar dahulu melaksanakan Pesantren kilat, banyak sms dari murid-murid saya yang menanyakan kepadaku, apakah saya akan datang atau tidak ??
dengan kondisi yang belum pulih 100%, dan harusnya saya juga harus masuk kantor karena sudah 3 hari tidak masuk kantor karena istriahat untuk pemulihan dari sakit yang saya rasakan, tapi entah saya putuskan pagi ini untuk berangkat ke sekolah saja, untuk menyapa mereka, murid-murid smp Al Ma'mur jakarta. ucapku dengan penuh keyakinan.



Separuh hati yang tertinggal

keceriaan, ekspresif dan selalu ramai, kadang suasana itu yang saya rindukan dalam lamunan kesendirian,
itulah kebiasaan murid-murid saya dahulu ketika ada acara apapun dalam keseharian mereka di sekolah. seakan hidup mereka itu sangat menyenangkan dan tak ada beban, pikirku dalam hati.

walau belum genap satu tahun mengenalnya, saya cukup dekat dengan mereka, rasanya tak pernah habis kata kata untuk membicarakan mereka.

saat saya datang, panggilan itu kembali menyapa..
"Kak Ahmad, Pak Ahmad " . Terdengar jelas sambil bicara dalam  hati, mereka masih seperti biasanya.

mungkin ada separuh hati saya tertinggal disini...
bersama mereka, bersama tiap tiap rekam jejak kenangan yang tercipta...
 



Jakarta, 21 ramadhan 1433 H
Dalam acara Pesantren Kilat Ramadhan Smp Al Ma'Mur Jakarta.

Minggu, 05 Agustus 2012

Pendidikan yang mengIndonesiakan

          Pendidikan yang mengIndonesia adalah pendidikan dari, oleh, dan untuk Indonesia. Artinya pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai Indonesia dan dasar negara Republik Indonesia. Dalam hal apa pun, pendidikan sebaiknya tidak keluar dari nilai-nilai kepribadian bangsa. Mulai dari sistem dan konsep sampai pada pelaksanaan teknisnya harus sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Negara Kepulauan Terbesar di Dunia.

           Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara besar. Aspek jumlah penduduk, luas wilayah, kekayaan sumberdaya alam, kebhinnekaan agama, etnis dan kultur, memberi peluang untuk itu. Bukan seperti kebanyakan negara-negara lain, Indonesia merupakan Negara Kepulauan Terbesar di Dunia. Atau mungkin bisa dikatakan sebagai benua maritim yang sangat luas dengan corak alam lingkungan sangat bervariasi disertai kemajemukan yang tinggi di antara lebih 400 suku-suku bangsa yang mendiaminya. pendidikan kemaritiman dan kelautan yang menjadi karakter khas Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia belum pernah diajarkan. Tetapi pendidikannya masih berbasiskan agraris atau kontinental. Sehingga masyarakat maritim dari luar Jawa yang menempuh studi di Jawa juga diajarkan pendidikan yang tidak sesuai dengan kondisi di daerah asalnya.Indonesia merupakan laboratorium alami, baik bagi ilmu-ilmu kebumian, kelautan, Kehutanan dan ilmu-ilmu kehidupan. 

            Jika berkehendak menggeser orientasi pembangunan menuju skala dunia, maka tidak lain kita juga harus mulai memperkuat basis pendidikan bidang kelautan dengan mulai merintis gagasan paradigma pendidikan yang berbasis budaya bahari. Oleh sebab itu, paradigma pendidikan Indonesia selain dirintis berorientasikan pada tatangan Negara Kepulauan terbesar, seharusnya juga mendasarkan pada karakter lokal yang penuh kebhinnekaan yang berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lain.

            Harapan pembangunan kelautan dan perikanan menjadi kekuatan terbesar dari perekonomian nasional, sebagaimana yang terjadi di negara-negara maritim lainnya, semoga dapat diwujudkan, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia yang selama ini terpuruk. Cita-cita ini baru bisa tercapai jika didukung oleh sistem pendidikan yang juga berbasis pada budaya bahari dengan mengembangkan ilmu-ilmu kelautan. 

Pendidikan yang MengIndonesiakan

            Selama ini apakah pendidikan di Indonesia sudah mengIndonesia? Pendidikan di Indonesia saat ini belum efektif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa karena pendidikan saat ini masih berorientasi pada nilai angka, namun tidak berorientasi pada karakter tiap orang yang dibangun dan dibentuk melalui pendidikan tersebut. Kesuksesan seseorang tak hanya dinilai dari kemampuan akademik di sekolah atau pun di universitas, namun juga karakter dan akhlaknya dalam kehidupan bermasyarakat sebagai hasil dari pendidikan yang ditempuhnya. Maka dari itu, pendidikan Indonesia rasanya perlu diperbaiki konsep dan sistemnya, artinya tidak berorientasi pada nilai dan materi, namun juga berorientasi pada kemurnian akhlak dan karakter bangsa yang baik. 

           Indonesia ini kaya akan budaya dan keindahan alam, sangat disayangkan bangsa kita tak dapat memanfaatkannya dengan baik dalam dunia pendidikan, termasuk kekayaan sumberdaya kelautannya yang melimpah. Pendidikan yang mengIndonesia merupakan salah satu solusi bagi masalah tersebut. Pendidikan yang membentuk manusia-manusia Indonesia menjadi manusia yang dapat memanfaatkan anugerah Tuhan dengan baik di wilayah Indonesia. Pemanfaatan budaya merupakan salah satu strategi untuk membentuk karakter bangsa ini. Budaya adalah suatu alat yang menjadi kebiasaan kita dalam bersikap, maka itu akan merefleksikan sikap dan karakter kita sebenarnya dalam rangka mewujudkan spirit keIndonesiaan kita yang berbudi pekerti luhur.

            Selain itu, pemanfaatan kekayaan alam Indonesia juga sangat mempengaruhi kemajuan Indonesia ke depan. Indonesia memiliki wilayah yang luas dan potensi alam yang dahsyat. Tak sepantasnya penghuni Indonesia menyia-nyiakannya begitu saja. Maka dari itu, arah pendidikan Indonesia harus diperjelas dengan memasukkan nilai-nilai moral di dalamnya agar nantinya masyarakat Indonesia menjadi masyarakat bermoral, bernurani, cerdas serta memiliki kesadaran multikultural dan kepedulian terhadap sumberdaya lokal yang dimiliki.

            Indonesia adalah negara berbentuk kepulauan dengan wilayah yang luas terbentang dari Aceh sampai Papua. Kondisi komunitas masyarakat di masing-masing wilayah sangat beragam dan sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut di antaranya letak geografis, kondisi sosial, budaya, ekonomi, sarana dan prasarana wilayah serta pendidikannya. Kesemuanya itu saling berpengaruh satu sama lain, oleh karena itu dalam memecahkan permasalahan pendidikan, Pemerintah harus mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.
            Masalahnya, Kurikulum di sekolah tidak pernah mengajarkan secara instens nilai-nilai kebaharian dan wawasan tentang kelautan. Dengan potensi maritim yang dimiliki, sekolah dasar dan menengah di Indonesia seharusnya mencantumkan pelajaran bahari sebagai muatan lokal khususnya di daerah-daerah Indonesia bagian Pesisir. Main-set sebagai Negara maritim harus ditanamkan sejak usia dini di sekolah.

            Potensi Kebaharian seperti transportasi laut, wisata bahari, hasil tangkapan nelayan, pada akhirnya hanya akan menjadi retorika. Jangan salahkan murid lulusan sekolah umum, jika mereka tidak mengenal budaya pesisir. Apalagi untuk menumbuhkan dalam jiwa mereka kesadaran cinta laut. Jangan pula salahkan generasi penerus, jika kemudian mereka enggan bekerja di laut karena persepsi mengenai laut yang keliru. Sebab laut diidentikan dengan kemiskinan, kekumuhan dan menyeramkan karena mitos Nyai Roro Kidul. Di Kota Maritim, seharusnya lembaga pendidikan di Indonesia mengajarkan pengetahuan seperti manfaat transportasi laut, wisata bahari, keanekaragaman hayati laut dan potensi pulau-pulau kecil. Sumber daya alam apa saja yang terkandung di dalamnya, baik yang habis dipergunakan maupun yang renewable. Kemudian murid diberi wawasan bagaimana cara memanfaatkan dan melestarikannya agar tidak mengusik ekosistem yang ada.

            Ini bisa menjadi alternatife jawaban, dimana salah satu nilai yang perlu ditanamkan pada masyarakat Indonesia dalam rangka memperbaiki kondisi pendidikan Indonesia adalah melalui pendidikan yang mengIndonesia. Pendidikan yang mengIndonesia dapat pula diartikan sebagai penanaman kemampuan hidup dan berkehidupan bagi warga negara Indonesia dengan tiada henti dan selamanya, baik berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mengakar pada prinsip dari Indonesia. Perjalanan membangsa dan mengIndonesia merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Kita tidak tahu sampai kapan proyek ini akan selesai dan bukan tidak mungkin proyek ini tak akan pernah selesai.

”Pendidikan Berbasis kearifan lokal kebaharian Indonesia”

            Pendidikan mengIndonesia adalah pendidikan yang dilakukan oleh orang Indonesia bagi generasi pengganti bangsa Indonesia yang memiliki tujuan untuk melestarikan dan menjayakan Indonesia. Dalam kondisi ini nampaknya kita harus menyuarakan kembali mengenai jati diri bangsa ini, yaitu pembangunan kembali karakter bangsa. Membangun visi kemanusiaan sebagai bangsa Indonesia, visi keragaman yang menyatu dalam bingkai keIndonesiaan, visi pemanfaatan atas sumberdaya manusia dan alam untuk kesejahteraan bangsa Indonesia, serta visi moral religius yang mewarnai semangat sebagai warga bangsa.

            Untuk meningkatkan mutu pendidikan perlu diterapkan pendidikan yang mengIndonesia, maksudnya dalam menyusun manajemen pendidikan harus ditinjau dari berbagai perspektif yang muaranya dari, oleh dan untuk rakyat Indonesia. Misalnya, dalam menyusun kurikulum, Pemerintah tidak hanya mengadopsi dari negara lain yang kondisi sosial, ekonomi dan budayanya berbeda jauh dengan Indonesia, tapi harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia sendiri sebagai karakter nasional kita.

            Harus ada sinergi antara Pemerintah dan masyarakat, sehingga akan terwujud pendidikan yang mengIndonesiakan. Diharapkan setiap individu bersedia mengabdikan diri serta menyumbangkan ilmu yang dimilikinya sesuai dengan bidangnya masing-masing untuk meningkatkan taraf pendidikan Indonesia, agar mampu bersaing dengan bangsa lain. Namun, sekiranya hal tersebut masih merupakan pekerjaan rumah bagi kita dalam memperbaiki infrastruktur maupun suprastruktur pendidikan, sehingga pendidikan yang adil dan merata dapat terwujud di Indonesia. Salah satu jawabannya adalah di bidang pendidikan yang bertemakan: Pendidikan yang Mengindonesiakan dengan Kurikulum ”Pendidikan Berbasis kearifan lokal kebaharian Indonesia”

Ahmad Khairudin 
Aktivis Forum Pemuda Bahari Indonesia.




Jumat, 03 Agustus 2012

Rekam Jejak Hari ini...


Tak letih rasanya menceritakan kisahku hari ini..
pagi ini saya telat berangkat ke kantor, alhasil dengan sengaja aku malah terus membaringkan tubuh saya dikasur dalam kamar  berukuran 4x6 M.
***
selepas shalat subuh di masjid, entah rasanya tubuh saya berat sekali, seakan gravitasi bumi itu menekan terlalu besar kelopak mataku sehingga ingin rasanya pagi itu sebentar memejamkan mata.
setelah sadar kulihat jam di Kamar menunjukan pukul 06.40 WIB. "Wah, Astagfirullah.. telat kalau berangkat sekarang mah". Tanpa pikir panjang aku berekasi bangun kemudian tidur lagi Sambil kembali memeluk guling dan kututupkan dimukaku.

ternyata hal itu berhasil, tanpa sadar aku merasa udara sudah mulai panas, ketika aku terbangun aku melihat jam menunjukan pukul 09.20 WIB. Sambil terdiam dengan posisi memeluk bantal saya sambil berkata, "Semangat Untuk Hari ini". Ini hal kebiasaan yang sering sekali aku lakukan, untuk selalu menyemangati aku di alam bawah sadar saya sendiri, karena aku pernah mengikuti sebuah training, saat itu pemateri tersebut mengatakan jangan pernah sia-siaan ketika kau dalam posisi setengah sadar saat setelah bangun tidur, karena saat diposisi itulah kau berada paling dekat dengan alam bawah sadar anda, itu kata-kata yang masih terekam jelas sampai saat ini. Dan saya akui metode itu berhasil dan tak sedikit keberhasilan saya dengan menyebutkan target atau impian  aku  saat  aku  masih dalam keadaan setengah sadar.

Ini Kesempatan, selagi  aku  libur, padahal sih meiburkan diri ,  aku  bisa membawa laptop kakak ku ke Service Center, membeli Postcard kota Tua, ke kampus, dan memanjakan diri dirumah."ucapku dalam hati.

walau sebenarnya aku rindu dengan Keluargaku diKampus #Nurani tapi entah apakah mereka punya perasaan yang sama. ucapku dalam hati
aku bergegas berangkat, Seperti kebiasaan  aku  sejak dulu, saya suka sekali menanyakan hal-hal yang aneh ke diri saya sendiri, namun dari situlah saya kemudian banyak belajar dan banyak mendapatkan Inspirasi.

Bismillahhirahmanirahim....
Bermula ke STC

          Pukul 10.45  WIB aku  pergi meninggalkan Rumah, menuju ke STC Senayan untuk ke tempat service center, ya bermodalkan hanya tau senayan,  aku  memberanikan diri langsung beranjak pergi tanpa tau jelas dimana tempat itu.setelah dekat dengan senayan  aku  hanya berputar putar tak jelas, benar pepatah klasik mengatakan bahwa "Malu bertanya Sesat dijalan", namun tak juga salah pepatah kini mengatakan "Malu bertanya ya jalan jalan" (^^)
Jalan Pusat ibu kota yang terik dan padat

Gedung kura-kura raksaksa

          Aku  selalu ingin tertawa ketika melihat gedung besar ini, dalam perjalanan ku ke STC,  aku  melewati tempat ini, sebuah Tempat Nyaman untuk setiap Wakil rakyat ?? ya wakil rakyat, yang ketika rakyatnya ingin kaya sudah mereka wakili, yang ketika rakyatnya ingin rumah, fasilitas hidup yang megah dan kehidupan yang layak, mereka juga sudah mewakilinya, itulah hebatnya wakil rakyat dinegara ku. Wakil rakyat yang pandai mewakili (^^)

          sudah terhitung cukup lama  aku  tidak memasuki gedung kura-kura raksaksa ini,  terakhir saya kesini ketika masuk kedalam ikut diskusi mengenai masalah Rancangan Undang-undang Perguruan Tinggi atau yang biasa dikenal RUU PT. kalian jangan bingung ketika saya menyebutkan Gedung DPR itu sebagai gedung kura-kura raksaksa, ini hanya pengamatan dan penilaian saya saja.entah mengapa  aku  melihat gedung itu seperti Kura-kura, tak hanya bentuknya namun juga sepertinya hal itu mengambarkan situasi dan kondisi didalamnya. Kalian tau kura-kura, coba bayangkan bagaimana dia berjalan dan bagaimana ketika dia diketuk cangkagnya, diam dan langsung menutupi diri.sudah berapa kali  aku  ikut aksi, ketika mahasiswa meneriakan  sebuah aspirasi hebatnya, namun orang-orang didalam sana entah apa yang mereka kerjakan dan pikirkan, sama seperti kura-kura bukan, padahal di depan Gedung Kura-kura raksaksa itu banyak sekali penjual cermin, apakah mereka tidak malu dan tidak mau berkaca ??


Jendral Sudirman

           Entah apa yang membawaku kesini, namun rasa penasaranku siang ini bertekad melihat sang jendral besar tersebut,
aku terhenti dan kembali berbicara pada diri sendiri, "kepada siapa patung ini hormat ?"
apa yang harus dia Hormati untuk saat ini? Hormat pada Pimpinan pimpinan birokrasikah yang nyaman di gedung kura-kura raksasa itu, atau hormat pada pelajar-pelajar dijakarta yang terlibat tawuran, atau hormat kepada supir taksi, supir metromini, atau bahkan hormat kepada mahasiswa yang menggunakan Almamaternya hanya untuk acara lawak di Televisi. #Miris, kuharap kau segera menurunkan tanganmu, padahal dari genggaman tanganmu lah ada sebuah catatan sejarah peradaban yang sangat luar biasa.  

kalian tau, Panglima Besar Kemerdekaan RI yang seharusnya menjadi simbol semangat perjuangan bangsa Indonesia kini telah pudar makna kepahlawanannya. Karena Jenderal Sudirman digambarkan sedang dalam posisi menghormat. Posisi patung dianggap tidak pada tempatnya karena sebagai Panglima Besar, Sudirman tidak selayaknya menghormat kepada sembarang warga yang melintasi jalan, yang justru seharusnya menghormati. Hal ini pula yang sempat diangkat dalam film Nagabonar 2,

lucunya Negeri Ini, kenapa Bukan setiap wakil rakyat saja yang tak amanah dan korupsi dibuatkan patung di tiap-tiap jalan, dan kalau bisa dalam bentuk hormat namun arahkan hormatnya mereka ke tempat pembuangan sampah!!setelah puas memandang Jendral Besar tersebut, saya berdiri dan memberikan penghormatan kebeiau kemudian bergegas pergi Meningalkan jalan itu."tak perlu lagi kau hormat Jendral, negara Ini saja sudah tak paham akan arti sebuah penghormatan"."ujarku dalam Hati.
langsung ku melesat kembali ketujan awal untuk ke STC memperbaiki laptop yang ada.

Gelora Bung Karno


sebelum sampai di STC saya kembali berhenti di Stadion Utama GBK, saya melihat dari luar dan kembali  ingat memori masih kecil yang saya Impikan, ingin rasanya bermain Sepak bola dan Menggenakan kostum Nomer 5 untuk bermain bersama TIMNAS Indonesia , tapi itulah impian kadang ada beberapa impian yang tak mungkin kita dapatkan.
sambil menghibur diri, mungkin saya beruntung tidak bisa masuk TIMNAS Indonesia, kalau saya masuk TIMNAS itu pasti banyak sekali cacian dari jutaan penduduk Indonesia yang slalu mendukung TIM Negaranya sendiri. padalah apa susahnya hanya mencari 11 Pemain terbaik dari Jutaan ribu penduduk yang ada untuk berprestai ditingkat dunia  (^^)

setelah itu,  aku  ke STC, membenarkan laptop yang  aku  bawa. melihat waktu pukul 12.45,  aku  melanjutkan perjalan ke kota Tua.

Kota Tua dan Penjual Perangko

Diskusi saya dengan Bapak Penjual Perangko :AK : Saya
BP : Bapak Penjual Perangko

AK : "pak, ada post Card ? yang gambarnya Kota Tua / Jakarta"
BP : "ada Mas, silahkan pilih aja"
AK : "Wah bagus-bagus ya pak,!! "tanyaku". sambil memilih 10 Jenis kartu pos yang ada.
BP :  " iya, silahkan pilih saja??". Jawabnya dengan senyum tulus.
AK : " Saya Beli Semuanya ya pak "

transaksi terjadi, dan alhamdulillah post card yang saya cari dapat,
beruntung saya bisa mendapatkannya disni,

BP : "untuk apa mas beli Post Card??" kan sudah ada Hp dan Internet. tanyanya dengan ekspresi Ingin tau.
AK : "Rekan saya di Singapore 1 Bulan yang lalu mengirimkan postcard ke saya dan dia minta kalau bisa di balas dengan Postcard Dari Kota Tua Ini, saya juga beli banyak ingin menyapa rekan-rekan saya yang lainnya, di Aceh, padang, Bogor, Malang, Semarang,  Bengkulu, Makassar, papua Dll. ya hanya sebatas ingin bersilaturahim dengan cara klasik pak". jawabku dengan santai.
Lagi pula mumpung saya sedang tidak kerja pak, jadi ada waktu, kalau hari lain saya sedikit sibuk."aku kembali menjawab".
BP : "ow , kerja dimana Mas ??"
AK : "di Daihatsu, tapi Sebenarnya saya hanya Kerja Industri dari Tempat saya Kuliah, istilahnya Magang lah pak, saya masih mahasiswa ko pak, masih kuliah baru smester 7 di Universitas Negeri jakarta."
BP : "anak saya Juga Kuliah, teakhir anak saya yang bontot tahun ini kulian di universitas Swasta XXX"
biayanya Awal masuknya cukup mahal, sampai 10 Juta,
anak saya 3 kedua kakaknya sudah lulus dan menjadi Sarjana semua." Cerita bapak penjual prangko kepada saya.
AK : Owh Iya .. Subhanallah pak, Aku terdiam saat beliau bercerita, bahwa beliau sudah menyekolahkan anaknya samapi ke bangku kuliah bahkan sampai bahkan ada yang sudah menjadi sarjana. "ucapku dalam hati.
"iya, kuliah sekarang memang mahal pak, apalagi yang statusnya Swasta.

Kami bercerita banyak di bawah Kantor Pos Kota Tua yang berdiri Gagah.
beliau juga bercerita mengenai Kota Tua tempo dulu, hingga sekarang
bapak , mengapa bukan bapak saja yang mengajarkan sejarah Jakarta."ucapku dengan nada bergura".
dia hanya tersenyum, ucapan terakhir yang dia lantunkan sebelum saya pamit adalah, " makannya selagi orang tua mampu belajar yang benar, buat bangga orang tuamu nak, nanti kalau mampir ke sini jangan lupa kita ngobrol-ngobrol lagi". Ucapnya dengan Senyum yang Ikhlas.
hampir jatuh air mataku saat aku mendengar tiap ceritanya.
terima kasih pak untuk hari ini, kau mengajarkan  aku  banyak hal dari cerita inspiratifmu.
aku Pulang dengan Cukup puas atas perjalanan hari Ini.

tak menyesal rasanya untuk perjalanan hari ini, walaupun tak dimulai dengan awal yang baik, tapi cukup banyak pelajaran yang saya dapatkan hari ini.Inilah aku, merekam tiap jejak jejak langkah pemikiran yang ada, tak bisa diam ketika hati dan pena resah akan keadaan yang ada.

Ahmad Khairudin
Jakarta, 5 Ramadhan 1433 H