Keteladanan dari seorang ayah

Posted by Ahmad Khairudin on 09.35 with No comments

Bismillahhirahmanirahim...

Saat itu kumandang adzan Isya nyaring terdengar dan berirama merdu di gendang telingaku, namun masih sekitar 5 menit agi saya baru tiba dirumah. "Ah..terlambat untuk shalat Jama'ah awal waktu, tapi itu tak melunturkan semangatku bergegas ke Rumah Allah"."ujarku sambil mencoba semangat.

Setiba dirumah saya ke kamar mandi langsung bergegas menuju kamar mandi dan berganti pakaian, macam orang soleh saja pakai sarung dan Peci dengan rapi,"Pikirku dalam Hati".
Setelah smunya rapi saya berngat ke massjid yang memang jaraknya hanya 35 langkah dari rumah.

***
Sampai di Masjid saya sadar saya telah tertinggal sampai rakaat ketiga, namun sebelum masuk ruang masjid saya melihat puluhan anak-anak bermain riang seperti mereka tak memperdulikan orang- orang dewasa sedang ibadah. ada beberap anak yang memang saya kenal.perlahan saya mendekatinya sambil berkata, Ssstt... Jangan Bercanda, ayo solat. mataku tertuju kepada semua anak yang sedang asik bermain Segera ku bergegas shalat.

Namun ya anak anak tetaplah anak-anak, setelah diam sejenak mereka kembali lagi berkumpul dengan teman sebayanya untuk kembali bercanda.
ada yang menarik dari kasus ini, suara imam shalat sedang membaca doa setelah shalat terdengar jelas, namun konsentrasiu mulai terpecah, dalam hati aku bertanya kemana orang tua anak-anak ini. selepas itu aku bergegas acuh tak memperdulikan dan kembali fokus berdoa, baru sekitar 3 menit berdoa konsentrasiku dalam berdoa kembali memecah, sepertinya bukan hanya aku, kulihat sekitarku banyak jamaah yang ikut terpecah konsentrasinya dan mulai tak nyaman karena suara ribut kerumunan anak anak tadi,tak lama seorang lelaki paruh baya yang ku kenal sebagai pengurus masjid di kampung ini merasa sedikit terganggu dan melolot marah, seakan mengisyaratkan kata ancaman "awas kalau masih berisik". namun dia hanya berkata Hei, jangan Berisik!! "dengan penekanan Nada yang tak lantang.
namun kuakui hebat, anak-anak itu tenang tak bersuara.

***
Jangan salahkan Mereka Jika Nanti mereka Meninggalkan dan tak betah di Masjid

Kembali Sejenak kuberfikir, mungkin ini bisa jadi sebuah indkator bahwa anak anak jika sudah besar punya trauma yang mendalam mengenai masjid, dia takut dan enggan ke masjid karena mereka pasti akan berfikir "Nanti saya dimarahi kalau dimasjid", pikiranku sedikit berlebihan.
dulu saya ingat betul ketika saya masih berusia kanak kanak seperti mereka, saya menganggap setiap bulan ramadhan, saat taraweh adalah waktu saya dan teman-teman saya asik berkumpul disana, merencanakan setelah taraweh mau main apa dan kemana ?

sama saat seperti mereka dulu, aku juga masih ingat saat orang-orang dewasa shalat taraweh aku malah asik bercanda dengan teman temanku, bahkan sampai main smack down di masjid, namun ketika rakaat terakhir aku ikut barisaan jama'ah shalat agar tidak kena marah.hehe "sambil tersenyum ketika berbicara didalam hati".
inilah kenangan, sebuah kisah nyata yang kualami beberap tahun silam bergenerasi sampai ke anak anak jaman sekarang, mungkin perasaan ku saat ini sama seperti orang -orang dewasa yang dahulu ketika saya masih anak-anak dan bercanda, merasa sedikit terganggu dalam hal ke khusyuan dalam beribadah.
Dan saya paham ekspresi, perasaan dan naluri anak anak mungkin sama seperti halnya saya ketika saya masih anak-anak dahulu. Inilah siklus kehidupan, sungguh tak terasa waktu itu begitu cepat berlalu.

tapi berapa banyak orang tua yang tak perduli, hanya memarahkan anak-anak tanpa memberi solusi bagaimana supaya masalah anak anak bermain di masjid ini selesai, begitupun dengan banyak anak muda yang seakan acuh tak perduli, atau dengan orang orang lain yang penting saya bisa ibadah. saya berfikir ini bisa menjadi sebuah sebab mengapa masjid selalu sepi dengan anak mudanya, karena saat masih kecil dia merasa tidak dihargai dan diakui ketika mereka berada dimasjid, malah keberadaan mereka diibaratkan seperti penganggu. Begitulah anak anak, itu naluri alamiah mereka bahwa mereka ingin diperhatikan dan diakui.
Maka, jangan salahkan Mereka Jika Nanti mereka Meninggalkan dan tak betah di Masjid ketika beranjak dewasa.

Keteladanan Seorang Ayah

walaupun saya dulu sering bercanda dimasjid, namun saya selalu beruntung karena kelicikan saya langsung duduk di barisan shaf jamaah agar tidak terkena marah. Namun saya hanya melakukan hal ini ketika ayah sedang dinas diluar kota, jika ayah ada dirumah aku selalu ikut shalat didekatnya.
Bukan karena ayah saya galak, beliau adalah orang yang pendiam, tak banyak bicara dan baik hati.
katika saya kethuan ayah suka bercanda di masjid beliau hanya berkata, "sholat disamping bapak ya nak", "dengan ucap nada yang dingin.
jujur saat pertama, saya bosan ketika masih kecil shalat berjamaah hanya berdiri dan mendengarkan imam bersuara lantang membacakan ayat Al Qur'an, perlahan lahan saya suka memperhatikan sayah saya, mengapa beliau begitu khusyu dalam shalatnya.
karena terbiasa seperti itu, saya jadi anak yang ketika shalat dimasjid tak pernah lagi bercanda.

***
Setelah dewasa saya paham, benar jika ada orang bijak yang mengatakan "Bahasa Teladan lebih Fasih daripada bahasa Lisan", itu bentuk pendidikan kepedulian, bagaimana beliau megajarkan sebuah keteladanan, bukan omelan ataupun hukuman yang membuat hati saya sakit, tapi mendidik saya agar bis khusyu dalam shalat.
saat saya mendalami ilmu pendidikan, saya pahami Pembentukan karakter seorang anak membutuhkan waktu dan komitmen dari orangtua, sekolah ataupun guru untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter, dan juga membutuhkan upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh. 
Saya rasa harusnya ada sebuah kepedulian kita sebagai orang dewasa terhadap anak anak, bukan malah memarahinya.

Saya Bangga Memiliki ayah seperti beliau, sosok ayah yang bersahaja yang berhasil mendidik anaknya Hingga mereka mencintai masjid & Ibadahnya.

Semoga saya bisa menjadi ayah yang baik seperti Beliau #ehhh (^_^)



                                                                                                                         Jakarta, Ramadhan 1433 H

Reaksi: