pesan yang tak tersampaikan…

Posted by Ahmad Khairudin on 14.09 with No comments






          Teringat, setengah tahun yang lalu, Panasnya Matahari Ibukota tak mampu membendung langkahku mencoba membuka lembaran baru dalam kisah perjalanan hidup, ketika saat itu aku mencoba memberanikan diri untuk melangkah ke sebuah sekolah swasta di Jakarta, ya itupun hanya bermodal keberanian dan iringan do’a keyakinan, aku bulatkan impianku untuk mendaftar menjadi Guru di sekolah itu, sekolah yang tak terlalu besar namun saya yakin disana sekelompok anak manusia yang ceria dan semangat menyambut ilmu Allah dalam nuansa sekolah formal yang nyaman.dan Alhamdulillah senang memang rasanya diterima sebagai guru di sekolah tempat dimana kalian menimba ilmu pelajaran. Mendapatkan tawaran menjadi seorang guru di sebuah sekolah adalah kesempatan yang langka apalagi saya pun masih seorang mahasiswa Semester 6 di sebuah universitas negeri di Kota Jakarta, ini merupakan hal yang istimewa.


          Ucapan syukur pada sang Kuasa sampai akhirnya aku bisa mengenal kalian, mengajar dan mendidik kalian serta menemani kalian dalam menjalani proses pembelajaran dalam keterbatasan, memori awal pertemuan itu masih terekam dan tersimpan jelas di ruang ruang hati dan sudut memori otak kananku tanpa terasa yang menyita setiap lamunan dan mimpiku, namun sedih memang, pasti dalam setiap kata pertemuan harus ada akhir yaitu perpisahan, waktu terkadang harus menentukan sebuah persimpangan di jalan, tak terasa enam bulan lebih saya menjadi seseorang yang menemani kalian belajar, tugas saya sementara cukup walaupun belum tuntas untuk mendidik kalian, karena tujuan akhir saya ada disekolah itu adalah ingin sekali mendidik kalian agar kalian mengenal siapa Kalian dan mengenal Allah SWT sebagai Rabb Kalian, mungkin masih banyak yang belum bisa saya lakukan, dalam keterbatasan saya hanya mampu mengataran kelas IX berhasil lulus 100% di UN tahun ini, menemani kalian belajar memahami tiap tiap kaidah ilmu pengetahuan yang ada dan saya paham terkadang menjadi seseorang yang menjengkelkan untuk kalian.          

        Tapi itu semua yang selama ini saya lakukan, masih dalam keterbatasan harus ada yang saya ungkapkan, mungkin ini akan menjadi sebuah kenangan dan ungkapan salam perpisahan, berat memang namun cepat atau lambat pasti aku akan menyampaikannya, semoga kalian membacanya dengan nyaman.           

         Nak, perhatikan ya, mungkin saya tidak bisa menyampaikan kata ini di depan kalian, karena takut ada air mata yang tak terbendung saat saya mengungkapkannya,          

         Atau mungkin karena keaktifan kalian yang terkadang membuat saya terdiam dan tak mampu menanganinya saat saya benar benar sedang dalam keadaan yang tak seimbang,           Atau bahkan ketika kalian tak lagi memperhatikan saya dan menganggap saya hanya seorang yang membatasi kalian dalam keseharian.

Nak, taukah Kamu ?? ini hanya pesan yang tak tersampaikan…              

         “Nak, menjadi guru itu indah dan mulia. Kecemasan yang kurasakan saat pertama berjumpa denganmu di kelas masih belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta dan harapan. Harapan akan cerahnya masa depanmu kelak. Ya, dengan cinta dan harapan itulah aku mendidikmu, karena jika bukan karena harapan tak seorang ibu mau menyusui anaknya, jika bukan karena harapan tak seorang petani mau menanam padi. Meskipun demikian, ketahuilah, menjadi guru itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu disisiku, aku seperti menemui makna keberadaanku dan tugas kemanusiaanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Allah, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya, dalam setiap malamku, kupanjatkan doa pada Allah agar Ia sudi memberikan kemudahan untukmu memahami pelajaran dan agar Ia memberikan keberkahan ilmu kepadamu.           

        Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata ‘Tidak!’, ketika engkau sudah mulai tergoda untuk menyontek,tak menghargai Ilmu dan melupakan Allah dalam Hidupmu timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya, Engkau bukan milikku. Engkau adalah milik Allah. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Allah SWT.           

         Sejak saat itu, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Allah. Inilah usaha terberatku, karena artinya aku harus bertentangan dengan keinginanmu, aku tahu engkau sangat suka mengolok olok temanmu, tak menghargai Ilmu dan melupakan Allah dalam Hidupmu tetapi ketahuilah bahwa yang kalian lakukan itu tidak akan mendatangkan keberkahan.            

         Kemudian, pelajaran kitapun mulai berjalan kembali, tak perlu engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku Cuma menatapmu tenang dan merapatkan jiwa kita satu sama lain dengan nasihat dan lantunan doa. Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya. Saat engkau mengeluh susahnya memahami pelajaran, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh menyerah. Menyerah berarti kalah. Inilah kata-kataku tiap kali kau mengadu dan hampir putus asa.          

         Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dari-Nya, Aku akan iklash. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah karena keberkahan ilmu yang kuajarkan padamu. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa aku telah membantumu memahami suatu hal, BAHWA KEHIDUPAN DUNIA ITU SEMENTARA, KETIKA KAU TAK MENGHARGAI ORANG LAIN DAN TAK MAU LAGI MENUNTUT ILMU ITU ADALAH TITIK TERENDAH DARI HARGA DIRI MANUSIA.

         Untuk kalian yang kelas IX tahun ini, Tetap saya katakana selamat dan terus bersyukur, semangat ya dalam pencarian jati diri dan SMA/SMK pilihan kalian, bangga rasanya bisa menjadi guru kalian dan mengantarkan kalian ke gerbang kelulusan, ingat kan kata kata yang dulu saya sampaikan “MAN JADDA WA JADDA”, siapa orang yang bersungguh sungguh pasti berhasil, suatu saat saya berharap Allah mempertemukan kita, dan saat itu saya telah melihat kalian dengan kesuksesan kalian.

         Untuk murid murid kesayangan saya kelas VIII, menjadi wali kelas di usia Muda seperti ini tak pernah terbayangkan sebelumnya, saya bangga bisa menjadi wali kelas kalian, saya minta maaf ketika saya belum bisa menjadi wali kelas yang baik untuk kalian, ketika saya tak bisa menyalurkan bakat bakat hebat kalian dari mulai bidang seni sampai olahraga, orang tua kalian pasti bangga punya anak anak seperti kalian. Nak, Tolong belajar dengan sungguh sungguh dan ayo bangun keakraban kelas antara satu sama lain, jumlah kalian memang sedikit tapi potensi dalam diri kalian banyak, jadi jangan sia – siakan itu.

          Terakhir, murid murid yang selalu membuat saya terdiam dan keaktifannya sangat luar biasa, yang cerdas dan punya semangat belajar yang sangat luar biasa, andai diberi kesempatan mengajar lagi saya ingin tetap bisa mengajar kalian, kalian itu murid murid cerdas nak, tapi hanya saja kalian belum paham dengan diri kalian, coba kembangkan potensi diri kalian dengan cara jangan mudah putus asa saat menyerah, diantara kalian ada harapan memajukan nama baik sekolah kita, saya yakin itu. Nak, percayalah ketika kalian mulai berani percaya pada kemampuan diri sendiri dan mau belajar sungguh sungguh kalian akan menjadi anak anak yang luar biasa.

          Dan akhirnya nak, tetap saya katakana saya bangga, saya merasa istimewa mendidik kalian, ini sebuah rakngkaian kata yang tak akan bermakna ketika kalian tak mau membacanya, akan usang karena tersisihkan waktu dalam sebuah zaman ketika kau hanya membiarkannya.           

         Saya bukan meninggalkan, hanya saja karena ada Tujuan dan Tugas lain yang harus saya selesaikan.Terima Kasih telah menjadi bagian dari kisah perjalanan sebuah cerita singkat dalam kehidupan. Semoga Ini Bukan Akhir namun jadi awal ikatan hati karena Pendidikan. 



 terulah belajar dengan siapapun Gurunya nanti, semoga mendapatkan guru pengganti yang lebih hebat daripada saya (^_^)

 
Salam Untuk Kalian murid murid yang saya Banggakan

Ahmad Khairudin
Guru SMP AL MA'MUR
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
Reaksi: