Makalah Tugas Agama Islam 2_Filsafat Islam

Posted by Ahmad Khairudin on 23.03 with No comments

1.        Pengertian Filsafat Islam
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Arab فلسفة,  yang  juga  diambil  dari  bahasa Yunani, philosopia,  Philo  = cinta,  sopia  =  kebijaksanan.  Jadi  dilihat  dari  akar  katanya, filsafat  mengandung pengertian ingin tahu lebih mendalam atau cinta kebijaksanaan. Pengertian  filsafat  dari  segi  istilah  adalah  berpikir  secara  sistematis, radikal dan universal untuk mengetahui tentang hakikat segala seesuatu yang ada, seperti  hakikat  alam,  hakikat  mansia,  hakikat  masyarakat,  dan  lain  sebagainya. Dengan  demikian,  muncullah  filsafat  alam,  filsafat  manusia,  filsafat  masyarakat, dan lain sebagainya.
Adapun pengertian filsafat Islam adalah berpikir secara sistematis, radikal dan  universal  tentang  segala  sesuatu  berdasarkan  ajaran  Islam.  Filsafat  Islam  itu adalah  filsafat  yang  berorientasi  pada  Al-Quran,  mencari  jawaban  mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.

2.        Sejarah Tumbuhnya Filsafat Islam
Jalan  filsafat  Islam  dibentangkan  oleh  dua  lingkungan  yang  hidup  sejaman yang  sama-sama  meletakkan  sendi-sendi  kajian  rasional  Islam.  Pertama adalah lingkungan kaum penerjemah yang memasok dunia Islam dengan buah pemikiran klasik, baik timur maupun barat. Kedua, lingkungan sekte-sekte teologi Islam.
Bahasa  Arab  memang  memanfaatkan  ajaran  filsafat  timur  dan  barat sebagai penaklukan-penaklukan Islam. Mereka mempelajari teks-teks tertulis dan diterjemahkan  ke  dalam  bahasa  Arab.  Pada  tahun-tahun  terakhir  abad pertama hijriah,  tampillah  sebagian  penerjemah  dari  bahasa  asing.  Gerakan  ini  berjalan 3 abad  dan  dilaksanakan  oleh  para  penerjemah  spesialis  yang  menguasai bahasa Arab. Mereka ada yang berspesialisais pada aspek-aspek tertentu dari peradaban, seperti kedokteran, filsafat-filsafat. 
Gerakan penerjemah Islam mengarah sedemikian rupa kepada hikmah dan filsafat,  sehingga  berhubungan  dengan  kebudayaan  Hindu-Persia  dan menerjemahkan  dari  literatur-literatur  Brahmanisme,  Samaniah,  dsb.  Ia memberikan  perhatian  khusus  kepada  filsafat  Yunani,  sehingga  mengenal pendahulu  Socrates  dan  tokoh-tokoh  aliran  Alexandria.  Pemkiran  Platinus, walaupun  pendapat  orang  lain,  mendapat  porsi  yang  baik  dikalangan  umat muslim. Tidak diragukan lagi bahwa Platonisme lebih  dekat  kepada  pemikiran Islam, karena mengandung unsur perpaduan antara filsafat dan agama. Para  penerjemah  juga  menulis  langsung.  Sebagian  ada  yang  difokuskan pada  kedokteran,  kimia,  falak/filsafat,  yang  tidak  kalah  pelak  lagi  merupakan langkah  awal  bagi  tulisan  ilmiah  dan  filsafat  Islam.  Para  penerjemah  itu mengadakan kontak dengan para pemikir yang ada disekitarnya. Kelompok-kelompok  aliran  kalamiah,  pada  tahun  terakhir  abad  pertama hijriah, mengangkat  ke  permukaaan  problematika – problematika filsafat,  seperti masalah determinisme. Dan pada abad kedua hijriah lahir problem akidah Islam.

3.        Ciri Khas Filsafat Islam
3.1         Sebagai filsafat religius-spritual
Dikatakan  filsafat  religius,  karena  filsafat  Islam  tumbuh  dijantung Islam,  tokoh-tokohnya  dididik  dengan  ajaran  Islam  dan  hidup  dalam suasana Islam. Filsafat Islam  merupakan perpanjangan dari pembahasan – pembahasan keagamaan dan teologi yang ada sebelumnya. Topik-topik filsafat Islam itu bersifat religius, seperti meng-Esakan Tuhan.  Karena  Ia  adalah  pencipta,  maka  Ia  mencipta  dan  bukan  sesuatu, mengatur dan menatanya. Ia menciptakan dengan semata-mata anugerah-Nya.  Ia  jaga  dengan  perhatian-Nya  dan  Ia  tundukan  dengan  kepada hukum-hukum  permanen  dan  kokoh.  Dengan  cara  religius  dan  spiritual ini, filsafat Islam bisa mendekati filsafat skolastik, bahkan sejalan dengan filsafat kontemporer.

3.2       Filsafat Rasional
Walaupun bersifat religius-spiritual, tetapi filsafat Islam juga amat bertumpu pada akal dalam menafsirkan problematika ketuhanan,  manusia dan  alam. Akal manusia merupakan salah satu potensi jiwa. Ia ada 2 macam.  Pertama,  praktis bertugas  mengendalikan badan dan mengatur tingkah laku.  Kedua,  teoritis khusus berkenaan dengan persepsi dan epistemology. Karena akal praktis inilah yang menerima persepsi-persepsi inderawi dan meringkas  pengertian  universal dengan bantuan akal aktif. Dengan  akal,  kita  menganalisa  dan  membuktikan.  Dengan  akal,  kita menyingkap realita-realita ilmiah. Karena akal merupakan salah satu pintu pengetahuan.
Para  filosof Islam sejalan dengan Mutazilah yang mendahului mereka dalam mengagungkan akal dan tunduk kepada hukumnya. Mereka bertumpu  pada  akal  dalam  banyak  hal.  Untuk  itu,  mereka  sepakat  bahwa dengan  akalnya  manusia  mampu  membedakan  baik  dan  buruk,  bahkan mampu  membedakan  baik  dan  buruk  sebelum  ada  ketentuan  agama. Mereka mengemukakan teori bahwa Allah harus melakukan yang baik dan yang terbaik, sehingga perbuatan Allah tidak terlepas dari kriteria baik.

3.3     Filsafat Sinkretis
Filsafat Islam memadukan antar sesama filosof. Akan tetapi, mereka konsentrasi  khusus mempelajari Plato dan Aristoteles. Mereka menerjemahkan hampir semua  buku standar Aristoteles. Aritoteles dan Plato amat mempengaruhi banyak aliran  Islam. Tidak pelak lagi, Aristoteles dan Plato adalah pemimpin filsafat, yang meletakkan prinsip – prinsipnya, membicarakannya secara detail, mencapai tujuan  dengan prinsip-prinsip itu. Namun, tidak mungkin kita mengharapkan kesuksesan perpaduan yang landasannya salah. Akan tetapi, ini merupakan titik awal yang melandasi para filosof selanjutnya.
Jika perpaduan plato dan aristoteles sebagai salah satu asas yang melandasi filsafat islam, maka prinsip yang kedua adalah memadukan filsafat dengan agama. Selain berciri religius filsafat islam juga memasukkan teks agama dengan akal.
Dalam filsafat ada aspek yang tidak sesuai dengan agama, itu sebabnya mengapa filosof islam memberi ciri agama kepada filsafat. Perpaduan yang diusahakan filosof islam merupakan salah satu jembatan yang mendekatkan filsafat barat dengan filsafat latin.

4.        Tokoh – Tokoh Filosof Islam
Beberapa tokoh filsafat Islam antara lain :
4.1         Al – Kindi
Al-Kindi merupakan filosof kenamaan pertama. Beliau  bukan hanya seorang filosof, tetapi juga ilmuwan pada jamannya. Mengenai filsafat, Al-Kindi berpendapat bahwa antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan. Ilmu tauhid adalah cabang termulia dari filsafat. Filsafat membahas kebenaran/hakekat. Dan hakekat pertama itu adalah Tuhan. Al-Kindi mengulas teori keadilan Tuhan dan berpendapat  bahwa  semua perbuatan Allah itu tidak mengandung unsur zalim. Al-Kindi juga membicarakan soal jiwa dan akal. Jiwa manusia mempunyai 3 daya. Daya bernafsu yang terpusat di perut, daya berani yang berpusat di dada, dan daya berpikir yang berpusat di kepala. Daya berpikir inilah yang disebut akal. Dalam pemikiran filosofisnya, Al-Kindi banyak  dipengaruhi  oleh Aristoteles, Plato dan Neo-Platonisme.

Sebagian besar karya beliau (berjumlah sekitar 270 buah) lenyap. Ibnu al nadim berdasarkan tulisan alqifti mengelompokkan tulisan-tulisan Al-Kindi menjadi 17 kelompok, yaitu:
a.       Filsafat, seperti kitab al kindi ilal mu’tasyim billah fil falsafah al ula, kitab al harts ala ta’allum al falsafah, kitab fi ibarat al jawami al
fikriyah,dan lain sebagainya.
b.      Logika, seperti ikhtisar kitab isaghuji li farfuris,risalah fi’amal alah
mukhrijat al jawami, risalah fil ashwat al khomsah,dan lain
sebagainya.
c.       Ilmu hitung, seperti risalah fil kamiyat al mudhofah,risalah fi ta’lif al a’dad, risalah fil madkhal ilal aritmatiqhi,dan lain sebagainya.
d.      Sferika, seperti risalah fil kuriyat, rialah fi amalia samiti ala kuroh, risalah fi tashihil kurah, dan lain sebagainya.
e.       Music, risalah al kubra fit ta’lif, risalah fil madkhal ila shina’atil musiqi, dan lain sebagainya.
f.       Astronomi, seperti risalah mathrah al syu’aa, risalah fil fashlayn, dan lain sebagainya.
g.      Geometri, sepeerti risalah fi ikhtilaf manazhir al mir’at, risalah fi
aghradh kitab uglidis, dan lain sebagainya.
h.      Sfera-sfera langit, seperti risalah fi zhahiriyah al falak, risalah fil alan al aqsha, dan lain sebagainya.
i.        Ilmu pengobatan, seperti risalah fil ghidza wad dawa’al muhlik, risalh fi aqsam al humayyat, dan lain sebagainya.
j.        Astrologi, seperti risalah fi madkhal ahkam, risalah  fil qada’ alal
kusuf, dan lain sebagainya.
k.      Psikologi, seperti risalah fi mahiyat al nawm war ru’ya, kalm lil kindi fin nafs, mukhtasyar wajiz, dan lain sebagainya.
l.        Tulisan-tulisan polemix,seperti risalah fir radd alats
tsanawiyah, risalah fi jawahir alajsm, dan lain sebagainya.
m.    Politik, seperti risalah fi tashil subul al fadhail, risalah fi alfazh
sughath, dan lain sebagainya.
n.      Meteorology, seperti risalah fi illat ikhtilaf anwa’us sanah, risalah fi ma’iyat az zaman wal hin wad dhar, dan lain sebagainya.
o.      Kebesaran(magnitude), seperti risalatuhul kubra fir rub’il maskun, risalah fi akbar an ad ajram, dan lain sebagainya.
p.      Ramalan, seperti risalah fin nahl, risalah fi na’til  hijarah, dan lain
sebagainya

4.2         Al -Farabi
Al-Farabi memfokuskan diri pada kebahagiaan, yang menurutnya tujuan tertinggi yang didambakan manusia yang bisa diraih hanya dengan perbuatan terpuji melalui kehendak dan pemahaman yang diniati. Dari aspek psikologis, Al-Farabi berkonsentrasi untuk menjalankan ‘amal iradi. Untuk itu, beliau membedakan iradah dari ikhtiar. Beliau berpendapat bahwa iradah (kehendak) dilahirkan oleh  rasa  rindu  dan keinginan yang dibangkitkan oleh rasa dan imajinasi. Sedangkan ikhtiar semata-mata dilahirkan oleh pemikiran dan analisa.
Al-Farabi menjelaskan bahwa manusia bisa berbuat baik jika ia berkehendak. Karena ia bebas untuk mewujudkan apa yang ia kehendaki dan perbuat. Namun kebebasan ini tunduk kepada hukum-hukum alam, masing-masing diberi fasilitas sesuai dengan kejadiannya, dan setiap yang ada ini terjadi atas qada dan qadarnya .

Karangan-karangan beliau yaitu:
a.       Agradhu ma ba’da at tabi’ah
b.      Al jam’u baina ra’jai al hakimain
c.       Tahsil as sa’adah
d.      ‘ujun ul masa’il,dan lain sebagainya.

4.3         Ibnu Sina
Ibnu Sina terkenal dengan 2 bukunya, yaitu Al-Qanun Fi AL-Tibb dan Al-Syifa. Al-Qanun, suatu ensiklopedia tentang ilmu kedokteran. Al – Syifa merupakan ensiklopedia tentang filsafat Aristoteles dan ilmu pengetahuan. Ibnu Sina mengulang pernyataan Al-farabi, “berbuatlah karena masing-masing diberi kebebasan sesuai dengan kodratnya”.

4.4         Ibnu Rusyd
        Ibnu Rusyd banyak memusatkan perhatiannya pada filsafat Aristoteles dan menulis ringkasan-ringkasan dan tafsiran yang mencakup sebagian besar karangan filosof Yunani tersebut. Dalam bidang filsafat, Tahafut Al-Tahafut, beliau tulis sebagai jawaban atas buku Al-Ghazali, Tahafut Al-Falasiyah.
       Buku-buku Ibnu Rusyd mengenai filsafat Aristoteles banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan berpengaruh bagi ahli pikir Eropa. Kemudian di Eropa trdapat aliran Averroism. Menurut aliran ini, filsafat mengandung kebenaran, sedangkan agama dan wahyu membawa hal-hal yang tidak benar. Pendapat ini mungkin bersumber dari Ibnu Rusyd. Kekeliruan ini timbul dari kesalahpahaman penulis barat tentang tafsiran Ibnu Rusyd terhadap filsafat Aristoteles.

5.        Pengaruh Filsafat Islam
  Hingga kini dapat diketahui bahwa filsafat Kristen tepengaruh oleh filsafat Islam. Ini berakar pada tahun-tahun terakhir abad 12, disaat orang latin mulai kontak dengan Arab melalui utusan-utusan mereka ke  Sisilia dan Andalusia. Pengaruh ini tampak jelas dan kuat pada abad 13 dan merambat hingga jaman Renaissance.





















BAB III
PENUTUP

Filsafat Islam muncul bersamaan dengan filosof pertama, yaitu Al-Kindi, pada pertengahan abad 9 M. Setelah berlangsung gerakan penterjemah buku ilmu dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab lebih dari setengan abad di Baghdad. Para filosof tertarik dengan filsafat Islam karena berfilsafat merupakan tuntutan agama dalam rangka mencari kebenaran dan mengamalkan kebenaran itu. Yang mereka gunakan sebagai saringan (filter) adalah Al-Quran dan As-Sunah.
Filsafat Islam membicarakan masalah besar filsafat, seperti teori mengenal kebahagiaan dan keutamaan, hubungan manusia dan Tuhan dan sebaliknya. Selain itu, filsafat Islam juga mencakup kedokteran, hukum  dan  ekonomi. Juga memasuki ilmu-ilmu keislaman, seperti ilmu fikih.
Filsafat Islam mencapai puncaknya di zaman Al-Farabi dan Ibnu Sina. Setelah ada pertentangan di antara para ulama mengenai kefilsafatan Ibnu Rusyd, perhatian orang terhadap filsafat menjadi berkurang. Dan perhatian itu baru bangkit dan berkembang kembali pada satu abad terakhir ini (abad 20).

Reaksi: