Rabu, 30 Maret 2011

Kutipan Status Motivasi From my Facebook



Percaya atau ga..??
“Alasan kenapa seseorang tak pernah meraih cita-citanya adalah karena dia tak mendefinisikannya, tak mempelajarinya, dan tak pernah serius berkeyakinan bahwa cita-citanya itu dapat dicapai”

So...Rencanakan apa yang anda Lakukan,Dan Lakukan apa yang telah anda rencanakan..!!

Semangat....\(^_^)/





Lihatlah Cermin...
Karna Sesungguhnya Cermin itu tak akan Pernah Berbohong..



Potensi seluruh manusia adalah sama. Perasaan kamu yang bilang ” Aku tidak berharga” adalah salah. Salah sama sekali. Kamu menipu dirimu sendiri. Kita semua memiliki kekuatan dalam batin kita,
jadi apa yang kurang ?
Jika kamu punya tekad, kamu dapat mengubah apapun.
Kamu adalah guru bagi dirimu sendiri.

Semangat Semangat Semangat....(^_^)/






Faktanya Manusia menilai manusia lainnya cuma melihat dari HASILNYA, umumnya tidak peduli bagaimana PROSESNYA. tetapi Ingat, Insya Allah, Allah SWT lebih peduli melihat bagaimana PROSESNYA dari pada HASILNYA SEMATA-MATA.
Wallahu'alam.

BerFOKUSlah pada hal yang membaikanmu, Berjalan di Jalan kebaikan dan Jadilah yang Terbaik.

Semangat Pagi.

Dengarkan:Orng Lemah bukanLah orang yg Meneteskan air mata, melainkan orang-orang yg hanya pasrah tanpa upaya tuk tetap melangkah dalam Memecahkan masalah

So, Mulailah Langkah itu Sekarang,jgn pernah menunggu waktu yg sempurna,karna sesungguhnya tidak ada waktu yg sempurna utk melakukan Langkah Baikmu,Tp Ingat ada Waktu yg paling mendekati sempurna.
& itu adalah sekarang!
Untuk itu Lakukan Sekarang!

Dalam Hidup Ini Gw Tau Tidak ada yang mudah, tapi Gw Lebih Tau Bahwa tidak ada yang tidak mungkin.

Putuskan, Lakukan, Yakinkan Jika hal yang menurut anda Benar, Jika Salah. itu adalah Proses dalam hidup anda untuk mencari dan Mengetahui kebenaran
Nikmatilah.
Gunakanlah setiap kesempatanmu hari ini. Anda tidak boleh bergantung pada hari esok. Perhatikanlah hari ini!

"Jangan tunggu termotivasi baru berbuat. Berbuatlah! Niscaya Anda akan termotivasi."..
Bismillahirahmanirahim..yo ..Tetap semangat!! (^_^)/

dan Ingatlah Orang2 yang kita sayangi..Karena mereka selalu ada di belakang kita. Mimpi kita adalah harapan mereka. Langkah Kita adalah doa mereka.Kesedihan kita adalah air mata mereka.Dan apabila di tengah jalan Kita menemui kesulitan, maka memintalah kepada-Nya.Dan apa bila kita LELAH, maka istirahat lah.Allah telah menyediakan malam yang Indah untuk kita.Malam yang penuh dengan mimpi dan impian.
Semangat (^_^)/

pelajaran untuk hari ini.."Terdapat dua pilihan dalam kehidupan. Menerima sesuatu keadaan dengan seadanya, atau menerima tanggung jawab untuk mengubahnya..!
Keep spirit..!! yang jelas harus siap menerima tanggung jawab untuk mengubahnya menuju lebih baik lagi..(^_^)/

‎..Wahai Hati Tenang Lah... Wahai kau Jiwa yang Terjatuh Bangkitlah...Wahai Raga..Berjuanglah.. Yakin Bahwa Allah Pasti bersama kita..perjuangan kita di dunia masih jauh , janganlah Kau mengeluh..Biarkan Air mata itu jatuh bila itu perlu..biarkan diri ini menjauh dan memalingkan pandangannya dari dunia ..karna yang terpenting kau harus kuat saat pertempuran itu tiba 

Ini Semua Buatan saya,saya yakin kalian bisa membuat ini jauh ebih baik dari saya.. Yakinlah...



Ahmad Khairudin


Selasa, 29 Maret 2011

Makalah Tugas Agama Islam 2_Filsafat Islam


1.        Pengertian Filsafat Islam
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Arab فلسفة,  yang  juga  diambil  dari  bahasa Yunani, philosopia,  Philo  = cinta,  sopia  =  kebijaksanan.  Jadi  dilihat  dari  akar  katanya, filsafat  mengandung pengertian ingin tahu lebih mendalam atau cinta kebijaksanaan. Pengertian  filsafat  dari  segi  istilah  adalah  berpikir  secara  sistematis, radikal dan universal untuk mengetahui tentang hakikat segala seesuatu yang ada, seperti  hakikat  alam,  hakikat  mansia,  hakikat  masyarakat,  dan  lain  sebagainya. Dengan  demikian,  muncullah  filsafat  alam,  filsafat  manusia,  filsafat  masyarakat, dan lain sebagainya.
Adapun pengertian filsafat Islam adalah berpikir secara sistematis, radikal dan  universal  tentang  segala  sesuatu  berdasarkan  ajaran  Islam.  Filsafat  Islam  itu adalah  filsafat  yang  berorientasi  pada  Al-Quran,  mencari  jawaban  mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.

2.        Sejarah Tumbuhnya Filsafat Islam
Jalan  filsafat  Islam  dibentangkan  oleh  dua  lingkungan  yang  hidup  sejaman yang  sama-sama  meletakkan  sendi-sendi  kajian  rasional  Islam.  Pertama adalah lingkungan kaum penerjemah yang memasok dunia Islam dengan buah pemikiran klasik, baik timur maupun barat. Kedua, lingkungan sekte-sekte teologi Islam.
Bahasa  Arab  memang  memanfaatkan  ajaran  filsafat  timur  dan  barat sebagai penaklukan-penaklukan Islam. Mereka mempelajari teks-teks tertulis dan diterjemahkan  ke  dalam  bahasa  Arab.  Pada  tahun-tahun  terakhir  abad pertama hijriah,  tampillah  sebagian  penerjemah  dari  bahasa  asing.  Gerakan  ini  berjalan 3 abad  dan  dilaksanakan  oleh  para  penerjemah  spesialis  yang  menguasai bahasa Arab. Mereka ada yang berspesialisais pada aspek-aspek tertentu dari peradaban, seperti kedokteran, filsafat-filsafat. 
Gerakan penerjemah Islam mengarah sedemikian rupa kepada hikmah dan filsafat,  sehingga  berhubungan  dengan  kebudayaan  Hindu-Persia  dan menerjemahkan  dari  literatur-literatur  Brahmanisme,  Samaniah,  dsb.  Ia memberikan  perhatian  khusus  kepada  filsafat  Yunani,  sehingga  mengenal pendahulu  Socrates  dan  tokoh-tokoh  aliran  Alexandria.  Pemkiran  Platinus, walaupun  pendapat  orang  lain,  mendapat  porsi  yang  baik  dikalangan  umat muslim. Tidak diragukan lagi bahwa Platonisme lebih  dekat  kepada  pemikiran Islam, karena mengandung unsur perpaduan antara filsafat dan agama. Para  penerjemah  juga  menulis  langsung.  Sebagian  ada  yang  difokuskan pada  kedokteran,  kimia,  falak/filsafat,  yang  tidak  kalah  pelak  lagi  merupakan langkah  awal  bagi  tulisan  ilmiah  dan  filsafat  Islam.  Para  penerjemah  itu mengadakan kontak dengan para pemikir yang ada disekitarnya. Kelompok-kelompok  aliran  kalamiah,  pada  tahun  terakhir  abad  pertama hijriah, mengangkat  ke  permukaaan  problematika – problematika filsafat,  seperti masalah determinisme. Dan pada abad kedua hijriah lahir problem akidah Islam.

3.        Ciri Khas Filsafat Islam
3.1         Sebagai filsafat religius-spritual
Dikatakan  filsafat  religius,  karena  filsafat  Islam  tumbuh  dijantung Islam,  tokoh-tokohnya  dididik  dengan  ajaran  Islam  dan  hidup  dalam suasana Islam. Filsafat Islam  merupakan perpanjangan dari pembahasan – pembahasan keagamaan dan teologi yang ada sebelumnya. Topik-topik filsafat Islam itu bersifat religius, seperti meng-Esakan Tuhan.  Karena  Ia  adalah  pencipta,  maka  Ia  mencipta  dan  bukan  sesuatu, mengatur dan menatanya. Ia menciptakan dengan semata-mata anugerah-Nya.  Ia  jaga  dengan  perhatian-Nya  dan  Ia  tundukan  dengan  kepada hukum-hukum  permanen  dan  kokoh.  Dengan  cara  religius  dan  spiritual ini, filsafat Islam bisa mendekati filsafat skolastik, bahkan sejalan dengan filsafat kontemporer.

3.2       Filsafat Rasional
Walaupun bersifat religius-spiritual, tetapi filsafat Islam juga amat bertumpu pada akal dalam menafsirkan problematika ketuhanan,  manusia dan  alam. Akal manusia merupakan salah satu potensi jiwa. Ia ada 2 macam.  Pertama,  praktis bertugas  mengendalikan badan dan mengatur tingkah laku.  Kedua,  teoritis khusus berkenaan dengan persepsi dan epistemology. Karena akal praktis inilah yang menerima persepsi-persepsi inderawi dan meringkas  pengertian  universal dengan bantuan akal aktif. Dengan  akal,  kita  menganalisa  dan  membuktikan.  Dengan  akal,  kita menyingkap realita-realita ilmiah. Karena akal merupakan salah satu pintu pengetahuan.
Para  filosof Islam sejalan dengan Mutazilah yang mendahului mereka dalam mengagungkan akal dan tunduk kepada hukumnya. Mereka bertumpu  pada  akal  dalam  banyak  hal.  Untuk  itu,  mereka  sepakat  bahwa dengan  akalnya  manusia  mampu  membedakan  baik  dan  buruk,  bahkan mampu  membedakan  baik  dan  buruk  sebelum  ada  ketentuan  agama. Mereka mengemukakan teori bahwa Allah harus melakukan yang baik dan yang terbaik, sehingga perbuatan Allah tidak terlepas dari kriteria baik.

3.3     Filsafat Sinkretis
Filsafat Islam memadukan antar sesama filosof. Akan tetapi, mereka konsentrasi  khusus mempelajari Plato dan Aristoteles. Mereka menerjemahkan hampir semua  buku standar Aristoteles. Aritoteles dan Plato amat mempengaruhi banyak aliran  Islam. Tidak pelak lagi, Aristoteles dan Plato adalah pemimpin filsafat, yang meletakkan prinsip – prinsipnya, membicarakannya secara detail, mencapai tujuan  dengan prinsip-prinsip itu. Namun, tidak mungkin kita mengharapkan kesuksesan perpaduan yang landasannya salah. Akan tetapi, ini merupakan titik awal yang melandasi para filosof selanjutnya.
Jika perpaduan plato dan aristoteles sebagai salah satu asas yang melandasi filsafat islam, maka prinsip yang kedua adalah memadukan filsafat dengan agama. Selain berciri religius filsafat islam juga memasukkan teks agama dengan akal.
Dalam filsafat ada aspek yang tidak sesuai dengan agama, itu sebabnya mengapa filosof islam memberi ciri agama kepada filsafat. Perpaduan yang diusahakan filosof islam merupakan salah satu jembatan yang mendekatkan filsafat barat dengan filsafat latin.

4.        Tokoh – Tokoh Filosof Islam
Beberapa tokoh filsafat Islam antara lain :
4.1         Al – Kindi
Al-Kindi merupakan filosof kenamaan pertama. Beliau  bukan hanya seorang filosof, tetapi juga ilmuwan pada jamannya. Mengenai filsafat, Al-Kindi berpendapat bahwa antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan. Ilmu tauhid adalah cabang termulia dari filsafat. Filsafat membahas kebenaran/hakekat. Dan hakekat pertama itu adalah Tuhan. Al-Kindi mengulas teori keadilan Tuhan dan berpendapat  bahwa  semua perbuatan Allah itu tidak mengandung unsur zalim. Al-Kindi juga membicarakan soal jiwa dan akal. Jiwa manusia mempunyai 3 daya. Daya bernafsu yang terpusat di perut, daya berani yang berpusat di dada, dan daya berpikir yang berpusat di kepala. Daya berpikir inilah yang disebut akal. Dalam pemikiran filosofisnya, Al-Kindi banyak  dipengaruhi  oleh Aristoteles, Plato dan Neo-Platonisme.

Sebagian besar karya beliau (berjumlah sekitar 270 buah) lenyap. Ibnu al nadim berdasarkan tulisan alqifti mengelompokkan tulisan-tulisan Al-Kindi menjadi 17 kelompok, yaitu:
a.       Filsafat, seperti kitab al kindi ilal mu’tasyim billah fil falsafah al ula, kitab al harts ala ta’allum al falsafah, kitab fi ibarat al jawami al
fikriyah,dan lain sebagainya.
b.      Logika, seperti ikhtisar kitab isaghuji li farfuris,risalah fi’amal alah
mukhrijat al jawami, risalah fil ashwat al khomsah,dan lain
sebagainya.
c.       Ilmu hitung, seperti risalah fil kamiyat al mudhofah,risalah fi ta’lif al a’dad, risalah fil madkhal ilal aritmatiqhi,dan lain sebagainya.
d.      Sferika, seperti risalah fil kuriyat, rialah fi amalia samiti ala kuroh, risalah fi tashihil kurah, dan lain sebagainya.
e.       Music, risalah al kubra fit ta’lif, risalah fil madkhal ila shina’atil musiqi, dan lain sebagainya.
f.       Astronomi, seperti risalah mathrah al syu’aa, risalah fil fashlayn, dan lain sebagainya.
g.      Geometri, sepeerti risalah fi ikhtilaf manazhir al mir’at, risalah fi
aghradh kitab uglidis, dan lain sebagainya.
h.      Sfera-sfera langit, seperti risalah fi zhahiriyah al falak, risalah fil alan al aqsha, dan lain sebagainya.
i.        Ilmu pengobatan, seperti risalah fil ghidza wad dawa’al muhlik, risalh fi aqsam al humayyat, dan lain sebagainya.
j.        Astrologi, seperti risalah fi madkhal ahkam, risalah  fil qada’ alal
kusuf, dan lain sebagainya.
k.      Psikologi, seperti risalah fi mahiyat al nawm war ru’ya, kalm lil kindi fin nafs, mukhtasyar wajiz, dan lain sebagainya.
l.        Tulisan-tulisan polemix,seperti risalah fir radd alats
tsanawiyah, risalah fi jawahir alajsm, dan lain sebagainya.
m.    Politik, seperti risalah fi tashil subul al fadhail, risalah fi alfazh
sughath, dan lain sebagainya.
n.      Meteorology, seperti risalah fi illat ikhtilaf anwa’us sanah, risalah fi ma’iyat az zaman wal hin wad dhar, dan lain sebagainya.
o.      Kebesaran(magnitude), seperti risalatuhul kubra fir rub’il maskun, risalah fi akbar an ad ajram, dan lain sebagainya.
p.      Ramalan, seperti risalah fin nahl, risalah fi na’til  hijarah, dan lain
sebagainya

4.2         Al -Farabi
Al-Farabi memfokuskan diri pada kebahagiaan, yang menurutnya tujuan tertinggi yang didambakan manusia yang bisa diraih hanya dengan perbuatan terpuji melalui kehendak dan pemahaman yang diniati. Dari aspek psikologis, Al-Farabi berkonsentrasi untuk menjalankan ‘amal iradi. Untuk itu, beliau membedakan iradah dari ikhtiar. Beliau berpendapat bahwa iradah (kehendak) dilahirkan oleh  rasa  rindu  dan keinginan yang dibangkitkan oleh rasa dan imajinasi. Sedangkan ikhtiar semata-mata dilahirkan oleh pemikiran dan analisa.
Al-Farabi menjelaskan bahwa manusia bisa berbuat baik jika ia berkehendak. Karena ia bebas untuk mewujudkan apa yang ia kehendaki dan perbuat. Namun kebebasan ini tunduk kepada hukum-hukum alam, masing-masing diberi fasilitas sesuai dengan kejadiannya, dan setiap yang ada ini terjadi atas qada dan qadarnya .

Karangan-karangan beliau yaitu:
a.       Agradhu ma ba’da at tabi’ah
b.      Al jam’u baina ra’jai al hakimain
c.       Tahsil as sa’adah
d.      ‘ujun ul masa’il,dan lain sebagainya.

4.3         Ibnu Sina
Ibnu Sina terkenal dengan 2 bukunya, yaitu Al-Qanun Fi AL-Tibb dan Al-Syifa. Al-Qanun, suatu ensiklopedia tentang ilmu kedokteran. Al – Syifa merupakan ensiklopedia tentang filsafat Aristoteles dan ilmu pengetahuan. Ibnu Sina mengulang pernyataan Al-farabi, “berbuatlah karena masing-masing diberi kebebasan sesuai dengan kodratnya”.

4.4         Ibnu Rusyd
        Ibnu Rusyd banyak memusatkan perhatiannya pada filsafat Aristoteles dan menulis ringkasan-ringkasan dan tafsiran yang mencakup sebagian besar karangan filosof Yunani tersebut. Dalam bidang filsafat, Tahafut Al-Tahafut, beliau tulis sebagai jawaban atas buku Al-Ghazali, Tahafut Al-Falasiyah.
       Buku-buku Ibnu Rusyd mengenai filsafat Aristoteles banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan berpengaruh bagi ahli pikir Eropa. Kemudian di Eropa trdapat aliran Averroism. Menurut aliran ini, filsafat mengandung kebenaran, sedangkan agama dan wahyu membawa hal-hal yang tidak benar. Pendapat ini mungkin bersumber dari Ibnu Rusyd. Kekeliruan ini timbul dari kesalahpahaman penulis barat tentang tafsiran Ibnu Rusyd terhadap filsafat Aristoteles.

5.        Pengaruh Filsafat Islam
  Hingga kini dapat diketahui bahwa filsafat Kristen tepengaruh oleh filsafat Islam. Ini berakar pada tahun-tahun terakhir abad 12, disaat orang latin mulai kontak dengan Arab melalui utusan-utusan mereka ke  Sisilia dan Andalusia. Pengaruh ini tampak jelas dan kuat pada abad 13 dan merambat hingga jaman Renaissance.





















BAB III
PENUTUP

Filsafat Islam muncul bersamaan dengan filosof pertama, yaitu Al-Kindi, pada pertengahan abad 9 M. Setelah berlangsung gerakan penterjemah buku ilmu dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab lebih dari setengan abad di Baghdad. Para filosof tertarik dengan filsafat Islam karena berfilsafat merupakan tuntutan agama dalam rangka mencari kebenaran dan mengamalkan kebenaran itu. Yang mereka gunakan sebagai saringan (filter) adalah Al-Quran dan As-Sunah.
Filsafat Islam membicarakan masalah besar filsafat, seperti teori mengenal kebahagiaan dan keutamaan, hubungan manusia dan Tuhan dan sebaliknya. Selain itu, filsafat Islam juga mencakup kedokteran, hukum  dan  ekonomi. Juga memasuki ilmu-ilmu keislaman, seperti ilmu fikih.
Filsafat Islam mencapai puncaknya di zaman Al-Farabi dan Ibnu Sina. Setelah ada pertentangan di antara para ulama mengenai kefilsafatan Ibnu Rusyd, perhatian orang terhadap filsafat menjadi berkurang. Dan perhatian itu baru bangkit dan berkembang kembali pada satu abad terakhir ini (abad 20).

Rabu, 23 Maret 2011

Mario Teguh Quote


Rasa humor adalah perisai 
yang kita butuhkan untuk menghadapi 
kesulitan dan kesampai-hatian dari orang 
dan keadaan dalam hidup ini.

Orang yang mampu melihat humor
dalam setiap keadaan,
akan menjadi pribadi yang damai
dan tetap berharapan baik
mengenai kemungkinan masa depannya.

Anda yang ikhlas menertawakan
ketululan dirinya sendiri,
akan tumbuh menjadi pribadi besar
yang menggembirakan sesama.







Mario Teguh

Tugas Mandiri Agama Islam 1


  RINGKASAN ISI BUKU
“  MUSLIM BUKAN INDIVIDUALIS  ”
Bagaimana Menumbuhkan Kepekaan Nurani dan Solidaritas sosial






Mata kuliah : AGAMA ISLAM I
Dosen : Abdul Fhadil M,Ag.

aHMAD KHAIRUDIN (5215097002)


S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JUNI 2010











RINGKASAN ISI BUKU

Judul                         :  Muslim Bukan Individualis
Penulis                      Amru Khalid
Penerbit                    Darul Ma’rifah, Beirut
Tahun                        1423 H. / 2003 M.

Buku ini diterjemahkan dari buku yang berjudul Ash-shabru wadz-zuaq oleh Amru Khalid. Aqwam,Solo, 2006. H. Sarwedi M.Amin Hisbullah, L.c. menterjemahkan isi buku ini ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Muslim Bukan Individualis : Bagaimana Menumbuhkan Kepekaan Nurani dan Soladaritas Sosial. Dalam buku ini Amru Khalid menjelaskan tentang Fenomena yank cukup aneh bahwa umat islam seakan menjadi umat yang sering kali senang hidup di dunia nya sendiri dan nyaris tidak mau berinteraksi dengan orang lain,sebagian yang lain menggangap bahwa dalam islam tidak ada norma etika yang mengatuh tentang ksopanan ,tata karma atau lain sebagainya justru mereka menggangap hal- hal seperti itu hanya ada dalam budaya-budaya di luar islam. yang benar-benar bertolak belakang dengan apa yang telah di atur oleh islam itu sendiri,parahnya keadaan seperti ini sering disebsbkan oleh sempitnya pandangan umat islam terhadap islam yang begitu luas dan menyeluruh.
Penjelasan tentang keunikan agama islam karna agama islam mencakup dimensi vertical dan horizontal, Hablumminallah dan Hablumminannas.dia mengatuh hubungan yang baik antara tuhan dan hubungan yang harmonis dengan sesame manusia.Amru Khalid juga dalam bukunya menjelaskan tentang ITSAR yang merupakan ciri khas dari orang beriman,yang tidak dimiliki oleh budaya barat dan hanya ada di “Madrasah Rasullulah”, yang di maksud itsar itu sendiri ialah Anda Mengutamakan saudara muslim dari pada diri sendiri. Cara mempelajari itsar di bahas melalui cerita-cerita yang penuh hikmah oleh para sahabat di zaman Rasullullah,bentuk dari itsar yang paling tinggi penggarus serta tujuan bersikap itsar dan cerita Mukjizat tentang itsar
Selain itsar dalam buku ini juga membahas tentang kepekaan rasa(Dzauq),tidak hanya memahami,selain itu juga membahas tujuan dan metode untuk mengkaji akhlak ini.dengan cerita-cerita yang penuh hikmah, Sebagai contoh dan aplikatifnya kepekaan rasa ini di amalkan dalam kehidupan sehari-hari seperti kepekaan rasa terhadap kedua orang tua,kepekaan rasa terhadap istr,kepekaan rasa dalam perjalanan,kepekaan rasa ketika bertamu,kepekaan rasa di dalam masjid,kepekaan rasa terhadap tetangga,kepekaan rasa dalam berbicara,kepekaan rasa ketika berkabung dan kepekaan rasa ketika berdakwah.
Tidak hanya tentang itsar dan kepekaan rasa, buku ini juga membahas tentang penjelasan dari Al-Qur’an yang bertabur pelajaran.

Makalah MBS ( Manajemen Berbasis Sekolah )

BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah salah satu strategi wajib yang Indonesia tetapkan sebagai standar dalam  mengembangkan keunggulan  pengelolaan sekolah. Penegasan ini dituangkan dalam USPN Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 51 ayat 1 bahwa pengelolaan satuan pendidikan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
MBS juga merupakan salah satu model manajemen strategik. Hal ini berarti meningkatkan pencapaian tujuan melalui  pengerahan sumber daya internal dan eksternal. Menurut Thomas Wheelen dan J. David Hunger (1995), empat langkah utama dalam menerapkan perencanaan strategik yaitu (1) memindai lingkungan internal dan eksternal (2) merumuskan strategi yang meliputi perumusan visi-misi, tujuan organisasi, strategi, dan kebijakan (3) implementasi strategi meliputi penyusunan progaram, penyusunan anggaran, dan penetapan prosedur (4) mengontrol dan mengevaluasi kinerja.
MBS merupakan salah satu strategik meningkatkan keunggulan sekolah dalam mencapai tujuan melalui usaha mengintegrasikan seluruh kekuatan internal dan eksternal. Pengintegrasian sumber daya dilakukan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pada evaluasi atau kontrol. Strategi penerapannya dikembangkan dengan didasari asas keterbukaan informasi atau transparansi, meningkatkan partisipasi, kolaborasi, dan akuntabilitas.
Tantangan praktisnya adalah bagaimana sekolah meningkatkan efektivitas kinerja secara kolaboratif  melalui pembagian tugas yang jelas antara sekolah dan orang tua siswa yang didukung dengan sistem distribusi informasi, menghimpun informasi dan memilih banyak alternatif gagasan dari banyak pihak untuk mengembangkan mutu kebijakan melalui keputusan bersama.  Pelaksanaannya selalu berlandaskan  usaha meningkatkan partisipasi dan kolaborasi pada perencanaan, pelaksanaan kegiatan sehari-hari, meningkatkan penjaminan mutu sehingga pelayanan sekolah dapat memenuhi kepuasan konsumen.
Dalam menunjang keberhasilannya, MBS memerlukan banyak waktu dan tenaga yang diperlukan pihak eksternal untuk terlibat dalam banyak aktivitas sekolah.  Hal ini menjadi salah satu kendala. Tingkat pemahaman orang tua tentang bagaimana seharusnya berperan juga menjadi kendala lain sehingga partisipasi dan kolaborasi orang tua sulit diwujudkan. Karena itu, pada tahap awal penerapan MBS di Indonesia lebih berkonsentrasi pada bagaimana orang tua berpartisipasi secara finansial dibandingkan pada aspek eduktif.

Batasan masalah :

1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah
2. Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah
3. Prinsip-prinsip Manajegem Berbasis Sekolah
4. Indikator Keberhasilan Manajemen Berbasis Sekolah


1. Manajemen berbasis sekolah
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada bagian penjelasan pasal 51 ayat 1, “manajemen berbasis sekolah atau madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala sekolah atau madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah atau madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan”. Definisi MBS diuraikan lebih rinci sebagai suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk melakukan redesain terhadap pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan pada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, kepala sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat (Fattah, 2004). MBS atau school based management sendiri merupakan sebuah upaya adaptasi dari paradigma pendidikan baru yang berasaskan desentralisasi. MBS memberikan otoritas pada sekolah untuk mengembangkan prakarsa yang positif untuk kepentingan sekolah.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, konsep MBS memiliki instrumen kunci yang dikenal dengan nama Komite Sekolah. Tidak hanya itu, menurut Dr JC Tukiman Taruna, seorang pakar pendidikan, implementasi MBS secara ideal mensyaratkan beberapa hal yaitu (1) peningkatan kualitas manajemen sekolah yang terlihat melalui transparansi keuangan, perencanaan partisipatif, dan tanggung-gugat (akuntabilitas), (2) peningkatan pembelajaran melalui PAKEM (pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan), dan (3) peningkatan peran serta masyarakat melalui intensitas kepedulian masyarakat terhadap sekolah (Kusmanto, 2004).
Jadi manajemen berbasis sekolah bisa juga dikatakan sebagai berikut:
·         Dalam rangka Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) alokasi dana kepada sekolah menjadi lebih besar dan sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan sekolah sendiri.
·         Sekolah lebih bertanggung jawab terhadap perawatan, kebersihan, dan penggunaan fasilitas sekolah, termasuk pengadaan buku dan bahan belajar. Hal tersebut pada akhirnya akan meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas.
·         Sekolah membuat perencanaan sendiri dan mengambil inisiatif sendiri untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan melibatkan masyarakat sekitarnya dalam proses tersebut.
·         Kepala sekolah dan guru dapat bekerja lebih profesional dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak di sekolahnya.

          Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Akibatnya, peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi.

3. Tujuan manajemen berbasis sekolah (MBS)
Tujuan MBS adalah untuk mewujudkan kemerdekaan pemerintah daerah dalam mengelola pendidikan. Dengan demikian peran pemerintah pusat akan berkurang. Sekolah diberi hak otonom untuk menentukan nasibnya sendiri.
Tujuan utama Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri.
Paling tidak ada tiga tujuan dilaksanakannya MBS peningkatan efesiensi, peningkatan mutu, peningkatan pemerataan pendidikan. Dengan adanya MBS diharapkan akan memberi peluang dan kesempatan kepada kepala sekolah, guru dan siswa untuk melakukan inovasi pendidikan. Dengan adanya MBS maka ada beberapa keuntungan dalam pendidikan yaitu, kebijakan dan kewenangan sekolah mengarah langsung kepada siswa, orang tua dan guru, sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal, pembinaan peserta didik dapat dilakukan secara efektif, dapat mengajak semua pihak untuk memajukan dan meningkatkan pelaksanaan pendidikan.
Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. Program ini terdiri atas tiga komponen, yaitu:
·         Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
·         Peran Serta Masyarakat (PSM), dan
·         Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) di SD-MI, dan Pembelajaran Kontekstual di SLTP-MTs.
MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah.
MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Dengan demikian, MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka.

Dalam pendekatan ini, tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran, kepegawaian, dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah, apalagi pusat. Melalui keterlibatan guru, orang tua, dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu, MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Dengan demikian, pada dasarnya MBS adalah upaya memandirikan sekolah dengan memberdayakannya.

Para pendukung MBS berpendapat bahwa prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah. Para kepala sekolah cenderung lebih peka dan sangat mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperan serta merencanakannya.

          Para pendukung MBS menyatakan bahwa pendekatan ini memiliki lebih banyak maslahatnya ketimbang pengambilan keputusan yang terpusat. Maslahat itu antara lain menciptakan sumber kepemimpinan baru, lebih demokratis dan terbuka, serta menciptakan keseimbangan yang pas antara anggaran yang tersedia dan prioritas program pembelajaran. Pengambilan keputusan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan meningkatkan motivasi dan komunikasi (dua variabel penting bagi kinerja guru) dan pada gilirannya meningkatkan prestasi belajar murid. MBS bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menarik dan mempertahankan guru dan staf yang berkualitas tinggi.

4.  Indikator Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Indikator keberhasilan implementasi MBS diantaranya dapat terlihat dari peningkatan partisipasi masyarakat terutama orang tua peserta didik dalam penyelenggaraan pengelolaan sekolah. Bila orang tua peserta didik tidak mengetahui secara pasti mengenai kebijakan MBS, maka dapat dipastikan bahwa partisipasi mereka tidak akan terjadi (Irawan, dkk, 2006).
            Untuk meningkatkan dimensi keberhasilan MBS ada beberapa indikator yang
diprasyaratkan, di antaranya adalah:

1) lingkungan sekolah yang aman dan tertib.

2) Sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai.

3) Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat.
4) Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah untuk berprestasi.

5) Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan iptek.

6) Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik, administratif, dan pemanfaatan  hasilnya untuk penyempurnaan dan perbaikan mutu.

 7) Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid dan masyarakat.

Dengan kata lain, penerapan MBS mensyaratkan yang berikut:
1. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah.
2. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap.
Kemungkinan diperlukan lima tahun atau lebih untuk menerapkan MBS secara berhasil.
3. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya, pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru.
4. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur.
5. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah, dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid.
MBS bagi Sekolah
Ø MBS menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah.
Ø Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah.
Ø Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS, mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah, karena mereka senang belajar.
 Hambatan Dalam Penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS)

Beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut :

1) Tidak Berminat Untuk Terlibat
Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu.

2). Tidak Efisien
Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu.

3). Pikiran Kelompok
Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis.

4) Memerlukan Pelatihan
Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya.

5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru
Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan.

6). Kesulitan Koordinasi
Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.
Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level mana dalam organisasi.