Jumat, 24 Januari 2020

Bagaimana Cara Menulis Email Resmi & Contohnya



Pada artikel ini saya akan membahas tentang cara menulis email resmi beserta contohnya. Dalam dunia kerja di beberapa perusahaan kecil maupun besar, email merupakan salah satu alat komunikasi. Dengan email kita bisa berkomunikasi dengan orang lain secara personal untuk keperluan pribadi, pekerjaan maupun untuk keperluan bisnis.

Menulis email untuk keperluan pribadi mungkin tidak ada aturan yang baku. Kita bisa menulis email dengan gaya bahasa yang santai namun tetap mengedepankan adab dalam penulisannya. Akan tetapi, dalam menulis email untuk keperluan pekerjaan & bisnis, ada beberapa aturan yang perlu kita indahkan. Karena email untuk bisnis termasuk dalam email formal atau resmi yang mewakili instansi atau lembaga tertentu. Sehingga penulisan email resmi atau formal bisa mencerminkan profesional dari suatu instansi atau lembaga.

ini yang melatarbelakangi kenapa saya ingin berbagi kepada teman - teman tentang cara menulis email resmi. Tidak hanya itu, kami juga akan memberikan contoh email resmi yang bisa Anda pelajari. Sehingga tidak akan mengalami kesulitan lagi dalam menulis email resmi dan menjadi salah satu referensi untuk keperluan bisnis

Cara Menulis Email Resmi Beserta Contohnya
1. Menggunakan Nama dan Alamat Email Profesional
Hal yang paling mudah adalah dengan email nama jelas misalnya  ahmad.khairudin01@alentraindonesia.co.id . Sedangkan untuk nama email profesional lebih baik menuliskan nama lengkap Anda seperti Ahmad Khairudin, atau nama depan/nama belakang dari perusahaan Anda. Contohnya Ahmad dari alentra

2. Menulis Subject Email Yang Ringkas, Jelas dan Mewakili Isi Email Anda
Menggunakan alamat email profesional dalam menulis email resmi sudah. Berikutnya adalah menulis subject email yang ringkas, jelas dan mewakili isi email Anda.

Misalkan Anda ingin mengirimkan proposal penawaran tentang pengajuan training & Workshop. Untuk contoh subject emailnya Anda bisa menulis “Proposal Penawaran Workshop & Training Motivasi” atau mungkin “Workshop & Training Motivasi untuk Sekolah Pendidikan Indonesia ”.

3. Mengenali Siapa Penerima Email Anda
Setelah menulis subject email, dalam menulis email resmi berikutnya adalah mengenali siapa penerima email Anda. Dengan mengenali siapa penerima email kita maka akan lebih mudah dalam menulis kalimat pertama dalam email resmi.
Secara umum ada 2 kategori penerima email, diantaranya :


  • Penerima email yang sudah dikenal. Untuk penerima email yang sudah dikenal pada email resmi ini Anda bisa menyebutkan nama mereka.
  • Penerima email yang tidak dikenal. Untuk penerima email yang tidak dikenal pada email resmi ini Anda cukup menyebutkan sapaan Bapak/ Ibu/ Anda saja.

4. Menggunakan Salam Pembuka Yang Tepat
Ini masih berhubungan dengan point sebelumnya, tentang siapa penerima email Anda. Untuk salam pembuka ini wajib kita gunakan ketika menulis email resmi. Ini sama seperti ketika kita bertamu ke rumah orang. Sebelum masuk maka kita wajib mengucapkan salam terlebih dahulu.

Untuk email resmi bahasa Indonesia, salam pembuka yang tepat Anda bisa menggunakan contoh berikut :

Assalamualaikum
Dengan hormat
Yang terhormat
Yang kami hormati
atau bisa juga ditambahkan dengan Bapak, Ibu, Saudara, dan Saudari + nama. Contoh : Yang terhormat Bapak Bambang.
Jika Anda tidak mengetahui nama penerima surel, cukup tuliskan “Yang terhormat Bapak/Ibu”, atau “Kepada pihak yang berkepentingan”.

Untuk email resmi bahasa Inggris, salam pembuka yang tepat Anda bisa menggunakan contoh berikut :

Dear Sir/Madam
To whom it may concern
Dear Mr/Ms Jones
Yang perlu Anda hindari
Pada menulis salam pembuka email resmi ada beberapa hal yang perlu Anda hindari adalah jangan gunakan kata “Halo”, atau “Hai”, maupun salam pembuka tidak resmi lainnya. 

5. Memperkenalkan Diri (Mengirim Email)/Ucapan Terima Kasih (Membalas Email)
Pada email resmi, setelah mengucapkan salam biasanya dilanjutkan dengan memperkenalkan diri. Ini penting supaya penerima email tahu siapa Anda dan apa keperluan Anda. Terlebih lagi jika penerima email Anda adalah orang yang belum pernah Anda hubungi sebelumnya, seperti pelanggan baru, manajer sumber daya manusia (HRD), ataupun instansi pemerintah.

Dalam memperkenalkan diri melalui email resmi, Anda bisa mengikuti contoh berikut ini :

perkenalan diri pada email resmi untuk lamaran pekerjaan :
“Saya Ahmad Khairudin. Saya mengirimkan email ini dengan maksud untuk mengajukan permohonan ... ”
perkenalan diri pada email resmi untuk penawaran kerja sama :
“Perkenalkan, Saya Ahmad Khairudin dari PT.  Alentra Indonesia. Melalui email ini saya ingin mengirimkan company profile dan portofolio perusahaan kami sebagai bahan pertimbangan Anda agar dapat bekerja sama dengan kami.”
Di atas adalah contoh kalimat untuk memperkenalkan diri pada email resmi. Namun ada juga saatnya kita mendapatkan email resmi terlebih dahulu. Maka dari itu kita perlu membalas email tersebut secara resmi juga dengan mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Untuk contohnya sebagai berikut :

Terima kasih Bapak Bambang atas email pengajuan yang Anda ajukan.
Terima kasih Bapak Bambang sudah mengirimkan company profile dan portofilio perusahaan Anda.
dan lain sebagainya.
Isi Email Resmi
Isi email ini merupakan bagian utama dan paling penting di dalam email resmi. Pada bagian isi email ini sebaiknya sampaikan secara lugas dan jangan bertele-tele sehingga membuat bingung penerima email.

Isi email resmi ini bisa Anda mulai dari menyampaikan informasi yang paling penting terlebih dahulu. Misalnya tujuan Anda menulis email resmi adalah untuk melamar pekerjaan, maka sampaikan maksud Anda pada bagian isi email ini.

Juga untuk penggunaan font dan ukurannya perlu kita perhatikan dalam menyampaikan isi email resmi ini. Usahakan pakai font strandar seperti Times New Roman, Tahoma atau Arial dan ukurannya jangan terlalu besar dan jangan pula terlalu kecil. Normalnya antara 12-15 untuk ukuran fontnya.

Penutup dan Ending
Di awal tadi email resmi kita ada salam pembukanya. Maka kita juga perlu mencantumkan salam penutup dalam email resmi yang kita tulis.

Untuk penutup email resmi kita bisa menggunakan contoh seperti berikut ini :

Atas perhatian Bapak Bambang kami ucapkan terima kasih.
Demikian email dari saya terkait dengan penawaran kerja sama . Jika ada yang kurang jelas bisa Bapak tanyakan dengan membalas email ini. Atas perhatian dari Bapak Bambang saya ucapkan terima kasih.
Sedangkan untuk ending email resmi ini biasanya terdiri dari kata-kata berikut ini :

Kind regards
Best wishes
Sincere regards
Best regards
Hormat Saya
Hormat Kami
Thank You
dan lain sebagainya.
Signature (Opsional)
Untuk email resmi signature ini bisa Anda gunakan bisa juga tidak. Biasanya signature ini hanya berisi informasi tentang jabatan Anda dan juga alamat kantor.
 Contohnya seperti berikut ini :

Best Regards

Ahmad Khairudin
PT. Alentra Indonesia
Jl. Kp. Utan Jl. Raya Cilandak Kko No.37 - 38, RT.1/RW.8
Kel. Ragunan Kec. Pasar. Minggu,
Kota Jakarta Selatan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550
Business development officer & Trainer expert

Demikian pembahasan saya tentang cara menulis email resmi beserta contohnya ini. Mudah-mudahan bermanfaat untuk teman - teman dan sampai bertemu di artikel berikutnya. Dan jika ada yang kurang jelas, pertanyaan atau tanggapan terkait tulisan ini silakan tinggalkan pesan pada kotak komentar di bawah ini.

Rabu, 22 Januari 2020

Video Training Leadership




Senin, 13 Januari 2020

RESUME BUKU SEVEN HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE



Tulisan kali ini ga sengaja dibuat karena ada tugas tambahan sebelum mengikuti salah satu program Training dari kantor, Learning and Development , dan buku yang dibahas adalah 7 habits atau Tujuh Kebiasaan efektif
Tujuh kebiasaan efektif dalam buku 7 Habits kelihatan mudah dimengerti, tetapi tidak mudah dilaksanakan, namun inspirasi dan aspirasi dalam bukunya mampu menuntun orang dalam mencari kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat. semua habits / Kebiasaan adalah aktivitas yang dikerjakan tanpa perlu berpikir dulu dan 7 kebiasaan yang paling efektif menurut Covey yang terangkum dalam buku ini adalah sebagai berikut :
1. Be proactive, jadilah proaktif bukan Reaktif, yang menjadi kendali seseorang terhadap lingkungan dibanding situasi sekelilingmu yang mengendalikanmu,
2. Begin with the end in mind, mulai dengan akhir dipikiran atau disebut kepemimpinan pribadi. Dengan ini kita dapat konsentrasi dan mempertimbangkan segala konsekuensinya sebelum bertindak, sehingga dapat produktif dan berhasil.
3. Put first things first, dahulukan Yang Utama atau manajemen pribadi untuk mengimplementasikan dan mengelola kebiasaan. Dengan mengacu kepada Matrix manajemen waktu dengan pembagian 4 Kuadran, Suatu matriks bisa dibuat dari karakteristik aktivitas, mengklasifika-sikan-nya sebagai urgen dan tidak urgen, penting dan tidak penting. Daftar aktivitas yang mendesak untuk ditindak-lanjuti disebut sebagai “Urgen”. Daftar aktivitas yang memberikan konstribusi pada misi, nilai atau sasaran prioritas tinggi kita sebagai “Penting”.
4. Think win-win, berpikir menang - menang atau kepemimpinan antar pribadi. Karena sasaran bergantung kepada hubungan dan kerjasa-ma dengan lainnya, maka semua perlu bagian yang adil dan menguntungkan dan menghasilkan kolaborasi.
5. Seek first to understand and then to be understood, Berusaha mengerti dulu, baru minta dimengerti. Komunikasi adalah bagian penting, dan seperti analogi “diagnosis dulu sebelum memberikan resep”.
6. Synergize, wujudkan sinergi/ kerjasama yang kreatif. Kekuatan kerjasama lebih besar dari upaya per bagiannya, jadi galilah potensi dan kebaikan konstribusi orang lain.
7. Sharpen the saw, asahlah “Gergaji” keseimbangan pembaharuan diri dalam 4 aspek, Aspek Fisik, aspek mental, Aspek Spiritual dan Aspek Sosial/Emotional, sehingga kebiasaan baik lainnya bisa tumbuh dan berkembang.

Kebiasaan 1, 2 dan 3 adalah sesuatu yang berhubungan dengan diri pribadi atau ke dalam. Kebiasaan ini wujud kemenangan pribadi yang diperlukan untuk berkembangnya karakter pribadi. Kebiasaan 4, 5 dan 6 adalah wujud kemenangan publik; kebiasaan ini juga berupa kerjasama dan komunikasi yang baik. Kebiasaan ke 7 (Asahlah “Gergaji”) adalah pembaharuan diri dalam bentuk: spiritual, mental, fisik dan sosial/emosional, yang semuanya memerlukan perawatan dan pertumbuhan.



Selasa, 03 Juni 2014

Universitas Negeri Jakarta, poros strategis peradaban dan pabrik guru terbaik Ibukota !!

Oleh : *Ahmad Khairudin

Guru adalah profesi yang terbuka, ini yang dikatakan UU Guru dan Dosen (UU GD). Guru dikatakan sebagai profesi, secara eksplisit-yuridis baru pada 2005, ketika UU GD disahkan. Karena profesi terbuka, maka apapun latar belakang pendidikan seseorang dia bisa menjadi guru. Memang sangat terbalik dengan profesi lainnya. Sebutlah advokat yang bisa menjadi advokat adalah seseorang yang latar pendidikannya adalah sarjana hukum (SH). Pendidikan formal tersebut mesti dilanjutkan dengan pendidikan profesi advokat. Begitu juga profesi dokter, yang bisa menjadi dokter tentu latar belakang pendidikannya adalah jurusan kedokteran. Konsekuensinya yaitu tidak bisa latar belakang pendidikan lain jika ingin menjadi dokter atau advokat, selain sarjana kedokteran dan sarjana hukum.

Berbeda cerita dengan profesi guru yang akhir-akhir menjadi profesi yang dikerumuni banyak orang. Maksudnya adalah guru merupakan profesi yang terbuka bagi lulusan perguruan tinggi apapun, umum atau pendidikan (Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan-LPTK). Kampus-kampus seperti UNY, UNJ, UPI Bandung, UNS, Unimed, UNP dan eks IKIP lainnya, untuk saat ini tidak lagi memonopoli para calon guru. Keadaan ini diperkuat oleh lahirnya kebijakan pemerintah yang dikenal dengan Program Pendidikan Guru Prajabatan (PPG). Lulusan eks IKIP/LPTK yang nota bene bertitel sarjana pendidikan (S.Pd), tak lagi memonopoli menjadi pendidik atau guru. Sebab guru adalah profesi yang terbuka. Siapapun dan latar belakang apapun pendidikannya boleh dan bisa menjadi guru. Seperti yang bertitel SH, S.Ked. S.Sos, S.IP, SS, ST, SE dan lainnya.[1]

UNJ sebagai Pabrik guru terbesar di Ibukota

Universitas Negeri Jakarta adalah perguruan tinggi negeri yang terdapat di kota Jakarta, Indonesia yang didirikan pada tahun 1964, tepatnya 16 mei 1964. Dalam sejarah perkembangannya, setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia merasakan kurangnya tenaga kependidikan di semua jenjang dan jenis lembaga pendidikan. Untuk meng¬atasi masalah ini pemerintah mendirikan berbagai kursus pendidikan guru. Sekitar tahun 1950-an, pada jenjang di atas pendidikan menengah didirikan IKIP.  Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah revolusi dari IKIP sehingga pada saat ini menyelenggarakan 2 (dua) bidang pendidikan, yaitu Bidang Kependidikan dan Bidang Non-Kependidikan.

1.      Bidang Kependidikan
Bidang Kependidikan diselenggarakan di semua program studi yang ada di UNJ sebagai kelanjutan pembinaan dari bidang sebelumnya (IKIP Jakarta). Program Bidang Kependidikan ini dikembangkan secaraoptimal.
2.      Bidang Non-Kependidikan
Setelah IKIP Jakarta diperluas mandatnya menjadi Universitas, UNJ menyelenggarakan Program Bidang Non-Kependidikan dengan jenis program D-III dan jenjang program S1. Program Non-Kependidikan yang sudah ada akan terus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya, sedangkan program studi lainnya akan dibuka secara bertahap.[2]

Tiap tahunnya UNJ pun melulusakan banyak sarjana terdidik yang penulis kutip dari salah satu media nasional. “ Uniersitas Negeri Jakarta (UNJ) mewisuda 1.615 lulusan tahun 2013/2014 dalam sidang terbuka Senat Guru Besar UNJ yang dipimpin Rektor UNJ Prof Dr Bedjo Sujanto, MPd,. Para lulusan itu terdiri dari program Diploma 71 orang, Sarjana 1.229 orang, Magister 204 orang, dan Doktor 111 orang. Sampai dengan semester ini, jumlah alumni UNJ sebanyak 90.792 orang. Sebanyak 28 wisudawan dan wisudawati terbaik yang terbagi menjadi 2 lulusan Diploma, 7 lulusan Sarjana, 10 lulusan Magister, dan 9 lulusan Doktor.[3]
 
Dan hampir 70 % lulusan UNJ menjadi guru, bahkan penyumbang tenaga kependidikan/guru di sekolah sekolah di Jabodetabek khususnya di UNJ adalah sarjana pendidikan lulusan UNJ, maka tidak salah ketika UNJ di sebut-sebut sebagai pabrik guru terbaik ibukota. 

Maaf, Menjadi guru bukanlah pilihan terakhir
 

Maaf, Menjadi guru bukanlah pilihan terakhir. Harusnya seseorang yang sudah disaiapkan menjadi guru bisa memposisikan dirinya menjadi guru profesional sesuai kapasitas bidang keilmuannya. Menjadi seorang guru juga terkadang menjadi pilihan terakhir ketika mendapatkan pekerjaan sulit lalu akhirnya menjadi pilihan pekerjaan alternatif. Ada sebagian orang yang pernah melamar kesana kemari, tidak diterima, akhirnya ia mencoba menjatuhkan pilihannya menjadi seorang guru akhirnya ia diterima. Ada yang akhirnya dengan sungguh-sungguh menjatuhkan pilihannya menjadi seorang guru, tetapi tak sedikit pula hanyalah menjadikannya sebagai batu loncatan saja untuk meraih karier yang diinginkannya ke depan.

Namun, jika kondisi poros perputaran lulusan lembaga LPTK/ IKIP terus seperti ini , mau dibawa kemanakah nasib pendidikan di Indonesia ke depan, jika calon guru yang disiapkan di LPTK/IKIP khususnya UNJ yang menjadi poros strategis peradaban dan pabrik guru terbaik di jakarta malah ingin pindah haluan bekerja di perusahaan atau lembaga yang tidak berkaitan dengan dunia pendidikan.

*Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektronika FT UNJ | 763F4422 | @A_khairudin | ahmad.khairudin5@gmail.com | ahmadkhairudin5.blogspot.com


________________________________________
[1] Satriawan, http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/08/menjadi-guru-adalah-pilihan-terakhir-378882.html , diakses 16 mei 2014, jam 08.30 WIB.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Negeri_Jakarta , diakses 16 mei 2014, jam 08.40 WIB.
[3] http://www.antaranews.com/berita/422584/unj-mewisuda-1615-orang-lulusan , diakses 16 mei 2014, jam 08.30 WIB.

Kamis, 29 Mei 2014

Meneropong Persiapan Indonesia dalam menghadapi Tantangan sektor kedaulatan Teknologi dalam menghadapi AEC (Asean Economy Community) 2015.


*Ahmad Khairudin

Jum’at, 30 Mei 2014


Pendahuluan

Untuk menghadapi tantangan masyarakat ekonomi ASEAN, Indonesia masih perlu berbenah secara serius. Dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2013 menyebutkan bahwa postur tenaga kerja Indonesia adalah pekerja lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah berjumlah sebesar 52 juta orang (46,93%) atau hampir setengah dari total pekerja sebesar 110,8 juta orang. Kemudian pekerja lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 20,5 juta orang (18,5%), pekerja lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 17,84 juta orang (16,1%). Jumlah paling rendah ditemui pada pekerja lulusan universitas dengan jumlah 7,57 juta orang (6,83%) dan lulusan diploma sejumlah 2,92 juta orang (2,63%).

Sebagai perbandingan, menurut data Department of Statistics Malaysia (DOSM) pada tahun 2012, jumlah tenaga kerja Malaysia adalah 13,12 juta orang dengan postur sebesar 7,32 juta orang (55,79%) adalah lulusan sekolah menengah dan sejumlah 3,19 juta orang (24,37%) adalah lulusan universitas dan diploma. Negara ASEAN lainnya seperti Singapura, menurut data World Bank pada tahun 2012 memiliki jumlah tenaga kerja sebesar 3,22 juta orang dengan pekerja lulusan sekolah menengah sebesar 49,9% dan lulusan universitas dan diploma sebesar 29,4%. Dari data tersebut kita dapat melihat bahwa hampir dari separuh tenaga kerja Indonesia (46,93%) adalah low skilled labour  lulusan SD yang secara kontras dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia yang sekitar 80% tenaga kerjanya adalah lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi. Hal ini menyiratkan ketidaksiapan Indonesia dalam pasar bebas tenaga kerja di ASEAN jika AEC (Asean Economy Community) diberlakukan per 31 Desember 2015 nanti.[1]

Fakta menunjukan, akhir tahun 2015 akan menjadi batas waktu bagi Indonesia untuk memasuki masyarakat ekonomi ASEAN yang membuka batas-batas aturan mengenai pajak, tarif dan bea untuk barang dan jasa di kawasan Asia Tenggara. Hadirnya AEC ini juga akan berpengaruh pada banyak sektor, tidak hanya pada sektor perdagangan bebas untuk berbagai produk barang tetapi juga akan berpengaruh terhadap sektor tenaga kerja dan perkembangan teknologi. Nantinya berbagai negara di ASEAN akan dengan bebas bersaing untuk mengisi sektor tenaga kerja di seluruh negara ASEAN. Bagi negara yang memiliki tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan dan kompetensi yang tinggi, ini akan menjadi peluang untuk melakukan ekspansi tenaga kerja ke negara ASEAN lainnya. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan Indonesia? apakah sudah merasa cukup dari data hasil BPS tentang kualitas SDM yang disebutkan ?


AEC

Apakah itu AEC (Asean Economy Community), ASEAN community merupakan komunitas negara-negara yang bergabung di The Association of Southeast Asian Nation (ASEAN), yang bekerjasama dibeberapa bidang anatara lain bidang ekonomi, sosial budaya, dan politik-keamanan. Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) adalah salah satu keputusan Bali Concord II,  yang mensyaratkan sebelum 2015 Asia Tenggara akan menjadi satu pasar tunggal dan basis produksi. Artinya, sebelum 2015 semua rintangan perdagangan akan diliberalisasi dan deregulasi. Semua arus perdagangan akan dibebaskan dari biaya tarif yang selama ini menjadi penghalang perdagangan dan implementasi proteksionisme.


“Satu Visi – Satu Identitas – Satu Komunitas” – menjadi visi dan komitmen bersama yang hendak diwujudkan oleh ASEAN pada tahun 2020. Tetapi mungkinkah cita-cita tersebut dapat dicapai oleh negara-negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunai Darussalam, Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar) dalam waktu kurang dari satu dasawarsa lagi. Berdasarkan catatan dan laporan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa cita-cita bersama yang terintegrasi dalam suatu komunitas yang disebut Masyarakat Asean (Asean Community) ini masih harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang terdapat pada masing-masing negara anggota.[2]

Jadi nanti pada tahun 2015 itu organisasi ASEAN akan ber "integrasi" menjadi sebuah organisasi kawasan yang lebih solid dan maju, membangun kebersamaan untuk satu tujuan (satu visi, satu identitas, satu komunitas), mendorong terciptanya kekompakan, kesamaan visi satu tujuan, kesejahteraan bersama, dan saling peduli diantara Negara-Negara di kawasan Asia Tenggara. Dasar terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 sendiri ditopang oleh tiga pilar utama yaitu:

1. Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN.
2. Komunitas Ekonomi ASEAN.
3. Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN.

Pertanyaannya yang kemudian muncul adalah, apakah pemerintah dan masyarakat indonesia siap untuk hal ini ?. Karena bisa dipastikan kerjasama bebas komunitas masyarakat antara negera-negara di ASEAN ini bisa jadi kekuatan bisa jadi malah membuat kondisi indonesia yang semakin terpuruk jika tidak dipersiapkan. Dalam hal ini secara otomatis Indonesia akan menghadapi fenomena pasar bebas, dimana barang-barang import akan mudah masuk di pasar Indonesia dan ikut bersaing dengan produk lokal Indonesia sendiri. Walaupun dari beberapa fakta membuktikan bahwa negara-negara yang mengadakan kesepakatan pasar bebas mengalami penikatan yang pesat (ex: India dan Cina).

Kendala dan kendali menuju kedaulatan teknologi
Menurut Data Household Download Index dari Ookla yang terkenal sebagai penyedia layanan Speedtest.com, dikutip dari Kompas (21/4/2014), dari 190 negara dalam daftar kecepatan internet, Indonesia ada di urutan ke-148. Dalam data dari 7 Maret hingga awal April 2014 diketahui, Indonesia adalah salah satu yang paling lambat di Asia Tenggara. Dengan kecepatan rata-rata 4,1 Mbps, dari 10 negara anggota ASEAN, koneksi internet Indonesia ternyata hanya lebih cepat dari Filipina dan Laos. Negara seperti Malaysia, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja tercatat memiliki kecepatan internet yang jauh melampui Indonesia. Posisi juara ditempati Singapura dengan kecepatan 61 Mbps, dan Thailand di urutan kedua dengan 17,7 Mbps. Setyanto P Santosa, Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Indonesia seperti diberitakan Tempo tahun lalu mengatakan layanan telekomunikasi Indonesia 95 persennya masih mengandalkan jaringan nirkabel, yaitu sistem seluler dan satelit. Padahal, kualitas prasarana telekomunikasi ini lebih rendah kualitasnya dan kecepatan sinyalnya lebih lambat dibandingkan kabel serat optik.[3]

Layanan telekomunikasi di negara maju, 60 persen menggunakan kabel serat optik. Teknologi itu memiliki beberapa kelebihan, antara lain bebas gangguan, berkecepatan tinggi, dan berkapasitas tinggi. Sebenarnya pengembangan jaringan telekomunikasi kanal lebar berbasis kabel serat optik telah dicanangkan sejak 1996 melalui Program Nusantara 21. Namun, program ini justru terhenti sebelum masuk abad 21. Dengan konektivitas memainkan peran penting di dalam daya saing sebuah negara, tentu hal ini menjadi catatan penting. Apalagi, sebentar lagi kita memasuki era integrasi kawasan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Di lain sisi, Indonesia terancam krisis pasokan listrik. Lembaga konsumen Indonesia memprediksi dalam dua tahun ke depan, krisis listrik akan menimpa Indonesia jika pemerintah tidak segera membenahi persoalan pasokan listrik tanah air. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, gardu listrik Muara Karang mengalami masalah. Akibatnya, pemadaman listrik bergilir terjadi di sebagian besar wilayah DKI Jakarta dan Banten.

Tulus Abadi, anggota harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan jika pemerintah tidak segera mengatasi masalah listrik, Indonesia dapat mengalami krisis listrik pada tahun 2016. "Jadi yang ada saat ini pertumbuhan listrik di pulau Jawa itu memerlukan 2500 megawatt dalam satu tahun. Tapi ironisnya PLN tidak dapat membangun pembangkit baru sehingga dua tahun ke depan cadangan yang ada itu akan dimakan dengan pertumbuhan yang ada sehingga praktis kalau ada gangguan sedikit, kita tidak akan punya cadangan," jelas Tulus seperti dikutip oleh BBC. Padahal listrik adalah hal primer dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi.

Dalam hal ini kendala sistem  telekomunikasi dan krisis listrik yang terjadi di indonesia menjadi dua masalah yang menjadi point penting dalam pengembangan teknologi yang terjadi di indonesia dalam mempersiapkan AEC selain dari persiapan sektor pendidikan yang matang untuk menyiapkan sdm yang mampu bersaing dengan bangsa ASEAN lainnya nanti. Jika hal ini tidak di persiapkan secara baik, bisa sangat merugikan bagi perkembangan laju ekonomi dan persaingan antar negera ASEAN, namun jika sektor perbaikan sdm dan pemerintah menangani secara khusus masalah krisis energi serta perbaikan struktur dan infrastruktur sistem telekomunikasi ini bisa menjadi kendali dalam menstabilkan kondisi negara dan bahkan mampu meningkatkan kualitas indonesia untuk menghadapi AEC.



Kesiapan kedaulatan teknologi Indonesia menghadapi Asean Economy Community 2015
Keterbatasan infrastruktur dalam negeri menjadi masalah krusial menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) 2015 mendatang. Persoalan ini tentunya harus diselesaikan oleh pemerintah dalam jangka waktu satu tahun mendatang. Selain menyiapkan Rancangan Instruksi Presiden tentang Peningkatan Daya Saing Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti, pemerintah juga menyiapkan beberapa strategi.

1.      Pertama, terkait infrastruktur. Upaya yang sedang dan akan terus dilakukan adalah memanfaatkan pelabuhan dan bandara berstatus internasional serta PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) untuk meningkatkan promosi investasi di bidang infrastruktur. Selain itu, meningkatkan kerjasama infrastruktur dengan sektor swasta, meningkatkan anggaran dalam pembangunan infrastruktur dan pembangunan konektivitas antar provinsi, meningkatkan kerjasama subregional agar pembangunan infrastruktur tidak terkonsentrasi di Semenanjung Malaya dan Indochina. Juga, meningkatkan pasokan energi dan listrik agar dapat bersaing dengan negara yang memiliki infrastruktur yang lebih baik.

2.      Kedua, dalam  upaya mendorong pengembangan industri nasional, pemerintah akan memberikan insentif fiskal. Pemberian insentif fiskal dan tersebut seperti pembebasan Pajak Penghasilan badan untuk jangka waktu 5 sampai dengan 10 tahun serta tambahan pengurangan Pajak Penghasilan sebesar 50 persen selama dua tahun untuk industri pionir. Ditambah lagi dengan investement allowance sebesar 30 persen dari nilai penanaman modal, percepatan penyusutan dan amortisasi yang dipercepat, pengurangan tauf PPh atas dividen luar negeri dan perpanjangan kompensasi kerugian bagi investasi di bidang usaha atau daerah dengan prioritas tinggi skala nasional.[4]

Semoga saja beberapa strategi pemerintah untuk mempersiapkan indonesia dalam persaingan AEC bisa maksimal. Terlebih indonesia harusnya bisa memaksimalkan beberapa aplikasi energi terbarukan dan tidak bergantung pada pemanfaatan PLTU, PLTA maupun PLTS saja. Dari sekian banyak sumber energi terbahurui seperti angin, biomass dan hydro power, penggunaan energi melalui solar cell / sel surya merupakan alternatif yang paling potensial. Hal ini dikarenakan jumlah energi matahari yang sampai ke bumi sangat besar, sekitar 700 Megawatt setiap menitnya. Bila dikalkulasikan, jumlah ini 10.000 kali lebih besar dari total konsumsi energi dunia. Sel surya bekerja menggunakan energi matahari dengan mengkonversi secara langsung radiasi matahari menjadi listrik. Sel surya yang banyak digunakan sekarang ini adalah Sel surya berbasis teknologi silikon yang merupakan hasil dari perkembangan pesat teknologi semikonduktor elektronik.[5]

Indonesia merupakan Negara Kepulauan Yang Terdiri dari ± 17.508 pulau besar dan kecil dengan garis pantai sepanjang ± 810.000 km dan luas 3.1 juta km2. Dengan jumlah desa lebih dari 65.000 desa yang tersebar luas dibelasan ribu pulau tersebut, hanya kurang dari setengahnya yang telah menikmati jaringan listrik negara seperti didaerah-daerah lain masih jauh dari harapan, sebagian besar dari mereka masih menggunakan lampu minyak tanah/patromak untuk penerangan. Untuk memperoleh informasi dari Radio mereka menggunakan batu batere, sedangkan untuk televisi adakalanya mereka menggunakan accu/aki yang charge didaerah yang ada listrik generator dengan berjalan yang cukup jauh.

Seperti banyak negara berkembang lainnya, Indonesia belum dianggap sebagai negara yang terkemuka di dunia dalam perkembangan sains dan teknologi. Namun, sepanjang sejarahnya, ada prestasi penting dan kontribusi yang dibuat oleh Indonesia untuk sains dan teknologi. Teknologi konstruki, Teknologi kedirgantaraan, Teknologi transportasi, Teknologi informasi dan komunikasi dan teknologi robotika, hal ini tidak menutup kemungkinan revolusi dan perbaikan infrastruktur yang disiapkan pemerintah dalam mempersiapkan AEC 2015 akan menjadikan indonesia siap dengan persaingan global. Semoga dengan diberlakukannya AEC, pemerintah beserta masyarakat indonesia bisa lebih sadar tentang pemanfaatan dan perkembangan teknologi untuk kesejahteraan bersama. (AK)



*|Ahmad Khairudin |
Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektronika FT UNJ |
ahmad.khairudin5@gmail.com | @A_khairudin | 763F4422 |
ahmadkhairudin.com |

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] https://www.selasar.com/politik/pendidikan-dan-masyarakat-ekonomi-asean , di akses 30 Mei 2014 pukul 01.00 WIB
[2] http://edukasi.kompasiana.com/2013/11/12/indonesia-asean-economic-community-2015-607350.html , di akses 30 Mei 2014 pukul 01.30 WIB
[3] https://www.selasar.com/gaya-hidup/internet-di-indonesia-terlelet-ketiga-di-asia-tenggara , di akses 30 Mei 2014 pukul 01.40 WIB
[4] http://edukasi.kompasiana.com/2013/11/12/indonesia-asean-economic-community-2015-607350.html , di akses 30 Mei 2014 pukul 04.00 WIB
[5] http://rajarenewableenergy.blogspot.com/ , di akses 30 Mei 2014 pukul 08.00 WIB